Seandainya

fishermen-chad_25993_990x742

Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” (Mat 4:19 TB)

Seandainya ayat diatas berbunyi :

“Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kubuat bahagia seumur hidup.” atau
“Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kubuat terkenal.” atau
“Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kubuat penuh dengan pelayanan.” atau
“Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kubuat menjadi pendoa syafaat” atau
“Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kubuat menjadi orang paling sukses.” atau
“Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kubuat menjadi pendeta.” atau
“Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kubuat menjadi penatua jemaat.” atau
“Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kubuat menjadi pemusik.” atau
“Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kubuat menjadi seorang guru.” atau
“Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kubuat menjadi sehat dan penuh mujizat.” atau

“Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kubuat menjadi (apapun itu yang kita inginkan).”

Seandainya ayat tersebut berkata seperti salah satu yang sudah saya sebutkan diatas tentu hidup akan jauh lebih ‘menyenangkan’.

Sayangnya Ia tidak berkata seperti itu.

Perjalanan kekristenan kita dimulai dari inisiatif Tuhan mendatangi kita untuk mempunya suatu hubungan pribadi dengan kita. Itulah mengapa Ia berkata “Mari”.

Setelah kita mempunyai hubungan pribadi dengan Dia, Dia mengajak kita untuk bisa mengikutiNya dalam kemanapun Ia pergi. Tidak ada hal yang lebih membahagiakan dibanding bisa menikmati perjalanan bersama dengan mereka yang kita cintai. itulah mengapa Ia berkata “ikutlah Aku.”

Akan tetapi, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan yaitu menjadi penjala Manusia. Penjala manusia adalah puncak daripada panggilanNya dalam hidup kita. Bukan mimbar, bukan panggung, bukan apapun itu yang terlihat rohani.

Jika dalam perjalanan iman kekristenan kita, kita tidak memiliki keinginan untuk menjala manusia besar kemungkinan ada yang salah dalam proses kita mengikuti Tuhan. Datang kepada Tuhan, mengikuti Tuhan, menjadi penjala manusia adalah tiga hal yang tidak terpisahkan.

Sulit untuk berani berkata bahwa kita mengikuti Tuhan jika kita tidak pernah menjala manusia.

Cheers,

Binsargideon

Advertisements
Posted in Bergaul dengan Tuhan | Tagged , | Leave a comment

Cakap

Catatan : Tulisan ini ditulis oleh pria lajang. jadi kebenarannya belum teruji 100 persen, please feel free untuk tidak atau berhenti membaca tulisan ini. Jika anda tidak setuju dengan tulisan saya, maka kemungkinan besar anda yang benar.

CmhHsd8WIAA7owW

Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga dari pada permata. (Amsal 31:10 TB)

Kekristenan diwarnai dengan begitu banyak teologi, aliran, pengajaran, liturgi, ataupun apapun itu. Akan tetapi, berbicara masalah perkawinan hampir semua (setidaknya semua yang sudah pernah saya dengar) pengajaran menyimpulkan hal yang sama. Mereka menyimpulkan dengan perkataan seperti ini:

“Keputusan kita dengan siapa kita menikah adalah keputusan terpenting kedua dalam hidup kita setelah keputusan kita menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat”

Sebuah statement yang sebetulnya saya tidak suka, akan tetapi sangat Alkitabiah. Saya sendiri heran, apapun alirannya, ketika sedang mengajar tentang pernikahan selalu memiliki kesimpulan yang sama. Saya selalu berpikir, seandainya pernikahan itu menggunakan hukum trial and error, pada kenyataanya tidak. Pernikahan adalah sebuah momen komitmen satu kali kita dihadapan Tuhan.

Amsal 31 adalah sekumpulan nasihat dari seorang istri raja kepada anaknya yang adalah calon penerus tahta (perlu diperhatikan bahwa ayat ini merupakan bagian dari amsal terakhir). Setelah melewati 30 amsal nasihat tentang berbagai masalah kehidupan, penulis menutup nasihatnya dengan nasihat mengenai memilih siapa yang akan dijadikan pasangan hidup. Betapa pentingnya untuk menemukan pasangan yang tepat.

Dari begitu banyak nasihat yang diberikan pada Amsal 31, ayat yang saya ditulis diatas adalah ayat yang beberapa hari ini seperti stuck dipikiran saya. Ayat ini dengan jelas menekankan bahwa mencari kekayaan lebih mudah dibanding mencari istri yang cakap. Ada banyak pria berpikir, “gua mau kaya dulu, baru cari istri! Nanti kalau gw udah kaya, semua wanita juga gw bisa pilih untuk jadi istri.” Akan tetapi, ayat ini berkata sebaliknya, kekayaan tidak menjamin bahwa kita akan mendapat istri yang cakap. Disisi yang lain, banyak wanita berpikir menjadi cantik adalah solusi untuk mendapatkan suami yang ‘mumpuni’, padahal kalau kita dinikahi karena kecantikan kita maka jangan menyesal ketika kita ditinggalkan oleh suami bersamaan dengan memudarnya kecantikan.

Ayat ini berbicara secara jelas kepada pria dan wanita. Saya akan mencoba menjelaskannya dengan pengertian sederhana yang saya punya.

WANITA

Perhatikan definisimu tentang cantik.

Ayat ini sedang berbicara bahwa setiap wanita bisa menjadi istri, tetapi tidak semua bisa menjadi istri yang cakap. Apakah kata cakap ini berarti ‘cantik’ secara fisik? Kelihatannya tidak. Saya mencoba mencari terjemahan lain dari ayat tersebut yang menggunakan kata ‘cantik’ sebagai pengganti kata ‘cakap’ dan saya tidak menemukannya. Terjemahan yang lain untuk kata ‘cakap’ yang saya temukan adalah berkarakter mulia, ekselen, layak, rajin, bermoral, beretika, punya prinsip.

Wanita cantik itu banyak dan relatif. Satu hal yang pasti mengenai kecantikan adalah kecantikan pasti pudar. Jadi, cantik itu relatif, pudar itu pasti. Coba perhatikan model-model majalah tahun 40-an pasti sekarang sudah terlihat hilang atau setidaknya berkurang kecantikannya.

Dalam suratnya kepada kaum pendatang, Rasul Petrus menulis:

Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah, tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah. (1 Pet 3:3-4 TB, penekanan oleh saya)

Saya tidak yakin Petrus sedang menganjurkan wanita untuk terlihat sejelek mungkin, atau seaneh mungkin. Akan tetapi, Rasul petrus sedang mengatakan bahwa nilai seorang wanita adalah dari bagaimana ia mendandani manusia batiniahnya. Tidak salah menggunakan segala barang bermerek dan mahal, akan tetapi, pastikan bahwa manusia batiniah kita lebih cantik dari manusia jasmani kita. Kita semua tahu bahwa tidak ada perhiasaan bagus yang murah, dibutuhkan usaha dan kerja keras untuk mendapatkannya. Hal yang sama juga berlaku untuk perhiasaan manusia batiniah kita, tidak murah dan tidak mudah. Bekerjalah lebih keras untuk mendandani manusia batiniah kita.

Apakah kita didapati cukup cakap ketika kita ditemukan?

PRIA.

Perhatikan apa yang kamu cari.

Ada banyak pencarian dalam Alkitab, mencari istri yang cakap adalah salah satunya. Jadi, mendapatkan istri yang cakap adalah sebuah proses pencarian, bahkan sebuah pencarian yang tidak mudah. Seringkali pria mencari dengan menggunakan mata jasmaninya, seorang wanita yang terlihat cantik biasanya akan membuat adrenalin berpacu lebih kencang. Tidak salah mencari yang cantik, yang salah adalah ketika pencarian berakhir pada kecantikan jasmani.

Untuk bisa melihat yang tidak terlihat secara mata jasmani, maka kita haruslah menjadi orang-orang yang terbiasa melihat dengan mata batin kita. Apakah kita biasa menggunakan mata batin kita? Atau kita terbiasa hanya melihat apa yang mata jasmani kita lihat? Untuk saya pribadi, ayat diatas menggambarkan bahwa mencari istri yang cakap adalah hal yang sangat sulit cenderung mustahil selain jika Tuhan yang menunjukkannya kepada kita.

Saya mendengar banyak kesaksian yang unik tentang orang mendapatkan istri yang cakap lewat tuntutan Tuhan. Ada yang mendengar suara Tuhan secara jelas, ada yang dituntun lewat kegagalan demi kegagalan, ada yang ditengah pelayanan, ada yang sejak masa sekolah. Satu hal yang pasti, semuanya memiliki pengalaman dengan Tuhan. Penting untuk kita bisa melihat dengan cara Tuhan melihat di segala area kehidupan kita sebelum kita bisa melihat istri yang cakap. Supaya adil maka saya akan menuliskan kembali apa yang Rasul Petrus tulis,

Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah, tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah. (1 Pet 3:3-4 TB, penekanan oleh saya)

Rasul Petrus sedang menulis apa yang Tuhan lihat dari seorang wanita. Allah memperhatikan wanita yang manusia batiniahnya yang mengenakan perhiasan yang tidak dapat binasa.

Apakah kita melihat hal yang sama dengan apa yang Tuhan lihat? Atau kita berhenti hanya pada kecantikan dari luar saja?

Kesimpulannya adalah,

“Keputusan kita dengan siapa kita menikah adalah keputusan terpenting kedua dalam hidup kita setelah keputusan kita menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat.”

Cheers,

BinsarGideon

 

Posted in Bergaul dengan Tuhan | Tagged , | Leave a comment

Liturgi

yesus-1menyembuhkan-orang-yang-mati-tangan-kanannya

Kemudian Yesus masuk lagi ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang mati sebelah tangannya. (Markus 3:1 TB, penekanan oleh saya)

Cerita perjalanan Yesus di Markus 3 dimulai dengan sebuah narasi dimana Yesus masuk ke rumah ibadat dan Ia mengarahkan mataNya kearah seorang yang tangannya mati sebelah. Beberapa saat setelah Yesus melihat orang tersebut, Yesus membawa orang tersebut ke tengah-tengah rumah ibadat sehingga orang tersebut menjadi pusat perhatian.

Kisah ini memberi pelajaran kepada kita semua yang ‘rutin’ pergi ke rumah ibadat untuk bisa melihat apa yang Yesus lihat. Seringkali kita pergi ke rumah ibadat untuk sebuah liturgi. Saya tidak mempermasalahkan liturgi, karena pada prinsipnya setiap gereja memiliki liturgi. Untuk gereja tradisional, liturgi adalah sebuah tata ibadah yang dibagikan kepada jemaatnya menjelang ibadah di mulai. Sementara untuk gereja karismatik, liturginya lebih dikenal dengan ‘rundown’. Jadi pada prinsipnya setiap gereja memiliki liturginya sendiri. Tidak ada yang salah dengan liturginya, yang jadi salah adalah kita pergi beribadah dengan fokus kepada liturgi.

Seringkali secara tidak sadar liturgi membuat kita beribadah dengan paradigma “yang penting saya sudah beribadah”, padahal di tempat kita beribadah ada banyak orang yang datang dan membutuhkan pertolongan. Mungkin hubungan mereka dengan Tuhan sedang mati, mungkin keluarga mereka sedang hancur, mungkin mereka sedang sakit secara fisik atau perasaan. Paradigma “yang penting saya sudah beribadah” menyebabkan kita tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekitar kita. Tuhan pergi ke rumah ibadat untuk mereka yang ‘hilang’ di rumah ibadat.

Seringkali saya pergi beribadah dengan suatu perhitungan. Berapa lagu lagi sebelum khotbah, berapa menit lagi sebelum khotbah selesai, berapa lama lagi sampai doa berkat dilepaskan di mibar gereja. Setelah ibadah selesai seolah-olah ada sebuah beban “ini hari minggu, saya harus ibadah” lepas dari pundak saya. Ini sama sekali tidak sejalan dengan apa yang Tuhan inginkan. Tuhan ingin kita menjangkau mereka yang hilang dirumah ibadat, itulah mengapa Yesus seringkali membuat ‘kekacauan’ ditengah-tengah ibadah, supaya kita semua bisa melihat dan sadar bahwa ada yang lebih penting sekedar liturgi ibadah. Manusianya lebih penting daripada programnya.

Kapan terakhir kita melihat kebutuhan orang lain di rumah ibadat? Atau jangan-jangan malah kita sibuk menghakimi mereka yang sedang menjangkau orang lain?

 

 

Dari tepi kolam pemandian air panas ciater,

Binsar Gideon

Posted in Bergaul dengan Tuhan | Tagged , | Leave a comment

Mencari Tuhan

wij-title-600x400

Tetapi Simon dan kawan-kawannya menyusul Dia; waktu menemukan Dia mereka berkata: “Semua orang mencari Engkau.” (Markus 1:36-37 TB, penekanan oleh saya)

Liburan akhir pekan minggu lalu saya habiskan dengan pelayanan di Jogja. Rencana awalnya adalah berlibur tetapi Tuhan mempunyai rencana lain sehingga dalam anugrahNya saya diijinkan untuk membantu pekerjaan Tuhan yang sedang berlangsung di Jogja. Pelayanan kemarin memberi begitu banyak pengalaman menarik kepada saya secara pribadi. Sejujurnya saya merasa itu murni Tuhan yang bekerja, karena apa yang menurut saya biasa saja ternyata berubah menjadi hal yang luar biasa terutama untuk mereka yang dilayani. Terima kasih untuk semua yang terlibat dalam pelayanan kemarin terutama untuk semua yang berdoa untuk saya.

Pada pelayanan kemarin, saya diberi kesempatan untuk berbicara di satu acara mahasiswa dan kebaktian hari minggu. Buat beberapa orang, acara ini merupakan sebuah panggung untuk Tuhan bekerja lewat hidup saya. Di satu sisi memang benar, disisi lain saya tahu persiapan menuju acara ini begitu melelahkan dan intens terutama secara rohani. Menyadari bahwa saya sangat terbatas dalam segal hal, satu hal yang saya lakukan begitu intens adalah ‘mencari Tuhan’ termasuk pesan yang Tuhan ingin sampaikan kepada mereka yang begitu haus dan lapar akan kebenaran. Saya ingin supaya apa yang saya sampaikan bukanlah sekedar pengetahuan tetapi kebenaran. Saya berpuasa, saya memisahkan diri dari rombongan untuk berdiam diri di hotel dan membaca berulang-ulang Firman Tuhan, saya berdoa, saya menulis berkali-kali catatan saya bahkan ada waktu dimana saya tidak bisa tidur dengan nyenyak karena terus berpikir tentang apakah yang saya ingin sampaikan akan tepat untuk mereka yang mendengarkan. Saya terus mencari Tuhan. Saya mencari Tuhan dengan intens.

Setelah semuanya selesai, dan begitu banyak kesaksian tentang bagaimana mereka yang mendengar merasa sangat diberkati. Saya malah mulai kendur dalam mencari Tuhan. Ironi bukan. Ya memang begitulah keadaannya. Ayat diatas menjelaskan sebuah situasi yang sama yang juga terjadi dengan murid-murid Yesus. Mereka mencari Tuhan karena ada orang banyak yang bertanya kepada mereka tentang keberadaan Tuhan. Saya hanya berpikir, jika tidak ada orang-orang tersebut, akankah murid-muridNya tetap mencari Yesus? Seringkali dalam hidup, kita terjebak dalam mencari Tuhan karena keadaan, karena ada pelayanan, karena ada pertanyaan, karena ada tugas, karena ada masalah, karena ada ini dan karena ada itu. Ketika semuanya ‘baik-baik’ kita memang mencari Tuhan, tetapi tidak se-bergairah ketika keadaan-keadaan yang sulit atau penuh tantangan.

Kita semua tentu ingat betul akan ayat dibawah ini..

Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. (Mat 6:33 TB, penekanan oleh saya)

Proses pencarian kita akan kebenaran haruslah menjadi prioritas kita. Dunia pelayanan memang mengasyikan dan membuat kita berada di panggung terdepan. Akan tetapi, Tuhan tidak pernah tertarik dengan itu. Lebih dari hati melayani pekerjaanNya, Ia menginginkan hati yang mengingini pribadiNya. Semua pekerjaan Tuhan itu tergantung Tuhan, siapapun bisa Ia pilih dan Ia mampukan untuk menyelesaikannya, karena pekerjaan Tuhan yang sesungguhnya adalah membentuk hati kita.

Coba ambil waktu sejenak dan bertanya, Kapan terakhir kali kita mencari Tuhan?

Dari meja kamar,

BinsarGideon

Posted in Bergaul dengan Tuhan | Tagged , , | 1 Comment

Popular

popularity

Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus. (Gal 1:10 TB)

Salah satu kegemaran saya di pagi hari adalah mendengarkan lagu-lagu rohani lewat media sosial yang bernama youtube. Aplikasi berbagi video ini sangat membantu saya untuk bisa update dengan lagu-lagu rohani terbaru atau lagu-lagu yang sebenarnya sudah lama namun belum pernah saya dengar. Beberapa hari yang lalu, saya mendengarkan satu lagu dan sambil mendengarkan lagu tersebut saya membaca komentar-komentar dari orang-orang yang sudah pernah menonton video lagu tersebut. Ada satu komentar yang sedikit menggelitik ketika saya membacanya. “Lagu yang sangat bagus, harusnya lagu ini bisa jauh lebih populer” begitulah kira-kira yang tertulis di kolom komentar. Saya mengerti maksud dari orang tersebut pastilah agar lagu tersebut bisa memberkati lebih banyak orang lagi. Sebuah harapan yang sangat mulia. Akan tetapi, jika kita tidak hati-hati maka sangat mungkin (tanpa kita sadari) kita melakukan sesuatu untuk mencari popularitas.

Mari berimajinasi sebentar, Yesus pasti tahu cara membuat kamera. Lalu mengapa dia tidak menciptakan kamera pada zamanNya? Atau mengapa Dia tidak datang pada zaman sekarang ketika menjadi populer begitu mudah? Jawabannya adalah karena Ia bukan pribadi yang mencari popularitas. Akan tetapi, kita semua tahu bahwa Ia adalah pribadi yang paling popular. Tidak ada foto Yesus yang asli yang pernah ada, akan tetapi orang-orang berlomba-lomba untuk mereka-reka wajah Tuhan Yesus. Yesus popular tetapi Yesus tidak pernah mencari popularitas. Ia adalah pribadi yang fokus akan melakukan apa yang menjadi tugas dan panggilanNya. Hal yang sama seharusnya juga berlaku untuk kita, janganlah kita hidup demi popularitas. Kebutuhan manusia adalah untuk diterima, sedangkan keinginan manusia adalah untuk menjadi popular.

Tidak ada yang salah dengan menjadi popular, yang menjadi salah adalah ketika kita merasa ada yang salah ketika kita tidak popular. Jika popularitas menjadi fokus hidup kita, maka sesungguhnya kita akan hidup dengan standard “apa yang disukai orang banyak.” Saya tidak mengerti dengan orang-orang yang mencari popularitas dengan menggunakan sesuatu yang sifatnya “kristen”. Ada garis pembeda yang sangat tipis antara memuliakan Tuhan dan mencari popularitas. Tugas saya bukan untuk menghakimi karena saya adalah orang yang paling berdosa dibanding semua orang, akan tetapi saya berharap tidak ada dari kita yang melakukan sesuatu sifatnya “rohani” demi popularitas semata-mata. Salah satu fondasi iman kekristenan kita dibangun kematian para pendahulu kita secara martir. Mereka tidak memilih menjadi popular, mereka memilih mati secara menggenaskan agar supaya Injil bisa diberitakan diseluruh dunia. Bahkan ketika anda membaca tulisan ini, ada orang-orang yang sedang mempertahankan imannya melewati dengan berbagai-bagai siksaan yang mengerikan. Bagaimana mungkin kita bisa mencari popularitas diatas itu semua?

Saya berdoa kita semua mengerti bahwa kita tidak dipanggil untuk terkenal. Kalaupun saat ini anda terkenal, anda tidak dipanggil untuk itu. Kita semua dipanggil untuk melakukan tugas kita yaitu membuat nama kita semakin tidak terkenal dan nama Yesus semakin terkenal.

Dari meja kamar sambil menunggu pertandingan Indonesia vs Malaysia,

Binsargideon

 

Posted in Bergaul dengan Tuhan | Tagged , , | Leave a comment

Advokat

Advokat

Aku akan minta kepada Bapa dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, (Yoh 14:6 TB, penekanan oleh saya)

Sebagai negara yang berlandaskan hukum, seluruh warga negara Indonesia memiliki persamaan didepan hukum. Hukum diatas segala-segalanya, tidak ada satupun orang yang berdiri diatas hukum, sebaliknya kita wajib untuk taat terhadap hukum-hukum yang berlaku di Indonesia. Akan tetapi, mungkin hanya sedikit dari kita yang betul-betul mengerti tentang hukum. Untuk setiap keputusan yang kita ambil, terutama yang menyangkut kepentingan orang banyak, maka kita perlu ekstra hati-hati dan mengambil waktu untuk mempelajari apakah ada dasar hukum yang kuat untuk mengambil keputusan tersebut. Jangan sampai secara tidak sadar kita melanggar hukum yang ada. Tentu untuk setiap pelanggaran, baik kita sadari atau tidak, akan ada konsekuensi yang harus kita bayar. Atas dasar itulah, maka profesi advokat adalah sebuah profesi yang sangat mulia dan sangat dibutuhkan.

Disatu sisi seorang advokat dapat memberi nasihat sebelum sebuah keputusan yang lain, advokat juga membantu kita menghadapi setiap tuntutan-tuntutan yang diarahkan kepada kita, baik itu tuntutan palsu yang hanya ingin menjatuhkan kita maupun tuntutan yang terjadi akibat kesalahan kita sendiri. Setiap kali saya melihat pelanggaran/kasus hukum yang masuk kedalam media massa maka hal pertama yang biasa saya ingin tahu adalah siapa pengacara dari orang yang sedang menghadapi tuntutan. Semakin hebat seorang pengacara maka saya yakin pasti akan semakin besar bayarannya. Bukan karena mereka mata duitan, tetapi karena memang kemampuannya dan kejeliaanya dalam melihat setiap kemungkinan itu membutuhkan jam terbang yang tidak sedikit.

Tadi siang saya mengikuti sebuah kelas yang mengajarkan saya bahwa Roh Kudus itu dalam terjemahan Yunaninya disebut sebagai Parakletos yang salah satu artinya adalah advokat. Luar biasa bukan? kita memiliki pengacara diatas segala pengacara. Coba bayangkan jika anda menghadapi suatu kasus hukum, siapa pengacara yang anda inginkan untuk membela anda dalam mengahadapi setiap tuntutan? Roh Kudus jauh diatas pribadi tersebut (bahkan sebetulnya tidak dapat dibandingkan). Akan tetapi, sama seperti advokat yang dapat memberikan nasihat setiap kali kita meminta, Roh Kudus pun dapat memberi kita nasihat untuk setiap keputusan yang ingin kita ambil. Setiap keputusan yang kita ambil berdasarkan nasihat Roh Kudus pastilah menjadi keputusan terbaik yang pernah kita ambil karena Ia mampu melihat dari sudut yang tidak terlihat oleh kita. Roh Kudus juga pasti akan memberi sinyal-sinyal tanda bahaya jika kita sudah mulai keluar jalur secara sadar atau tidak. Lalu bagaimana jika kita sudah terlanjur berbuat salah? Bertanyalah kepada Roh Kudus untuk kita bisa keluar dari permasalahan kita. Kuncinya adalah, belajar untuk bertanya dan peka terhadap nasihat Roh Kudus.

Pertanyaannya berapa bayaran Roh Kudus? sangat mahal. Sangat teramat mahal, bahkan seluruh kekayaan dunia ini tidak bisa membayarNya. Akan tetapi, kita tidak perlu khawatir karena Yesus sudah bayar semuanya. Ia mati di kayu salib supaya kita menjadi ciptaan baru dan dapat menikmati hubungan dengan Roh Kudus. Bahkan sebelum kenaikanNya ke surga Ia menjanjikan bahwa Roh Kudus akan menjadi penolong kita yang menyertai kita selama-lamanya.

Saya berdoa untuk kita punya hubungan yang erat dengan Roh Kudus. Selalu dan selalu bertanya kepada Roh Kudus untuk setiap keputusan yang akan kita ambil. Ketika Roh Kudus memimpin kita kepada keputusan-keputusan yang kelihatannya tidak populer, jangan takut untuk terus melangkah karena Roh Kudus jugalah yang akan menyertai kita dalam menghadapi setiap tuntutan yang ada. Bersama Roh Kudus kita akan mampu melewati setiap tantangan ataupun pergumulan yang ada didalam hidup kita.

Selamat bertanya kepada Roh Kudus 🙂

Cheers,

BG

Posted in Bergaul dengan Tuhan | Tagged , | Leave a comment

Debu

ashes_to_ashes__dust_to_dust__by_cheesysteele-d3nfklwAku debu

Terjebak dalam sendu

Ditengah angin menderu

Dan kerumunan yang berlalu

Aku terjebak di masa lalu

Yang menyakiti bagai irisan sembilu

Meninggalkan perih yang membiru

Di alam bawah sadarku

aku dihampiri oleh pujaan hatiku

Yang menantiku tanpa jeda waktu

Ia memelukku dengan tangan yang terpaku

Dan mengangkatku diantara dua bahu

Gumamku

Ah seandainya engkau tahu kekasihku

Posted in random stuff | Leave a comment

Gurun

1

Demikianlah aku memandang kepada-Mu di tempat kudus, sambil melihat kekuatan-Mu dan kemuliaan-Mu. (Mazmur 63:3 TB, penekanan oleh saya sendiri)

Salah satu kunci untuk bisa membaca Alkitab dengan baik dan benar adalah dengan mengerti konteks dari ayat atau paragraf yang sedang kita baca. Masalahnya tidak banyak ayat alkitab yang ikut mencatat konteks latar belakang ayat atau perikop tersebut, sehingga kita harus mau untuk menginvestasikan waktu kita untuk belajar bukan hanya sekedar baca. Tidak semua orang yang membaca Alkitab mempelajari Alkitab.

Salah satu perikop di Alkitab dimana latar belakang penulisan dari perikop tersebut ikut ditulis adalah Mazmur 63. Mazmur ini dimulai dengan penjelasan bahwa Daud sedang berada di padang gurun Yehuda, sebuah tempat dan situasi yang tidak nyaman untuk dirinya. Akan tetapi, sepanjang Mazmur 63 kita tidak akan menemukan Daud berkeluh kesah tentang kesusahannya, bahkan saya tidak menemukan kata ‘gurun’ sepanjang Mazmur 63 selain di ayat awal dari pasal tersebut.

Bagaimana mungkin situasi yang begitu sulit yang sedang dialami Daud, bisa diresponi dengan dengan begitu luar biasa oleh Daud yang notabene adalah manusia yang penuh kelemahan seperti kita. Kuncinya terletak pada ayat yang saya sudah tuliskan di atas yaitu di ayat 3. Daud melihat padang gurunnya sebagai tempat kudus, dalam terjemahan lain ditulis tempat penyembahan. Daud melihat situasi dalam hidupnya yang terlihat sulit, tanpa harapan, tanpa jalan keluar, sebagai tempat penyembahannya.

Mudah buat kita menyembah ketika keadaan semua begitu baik. Ketika keuangan surplus, ketika keluarga harmonis, ketika bisnis begitu menguntungkan, ketika nama kita mulai naik, atau apapun itu yang terlihat baik. Akan tetapi, sulit buat melakukan hal yang sama ketika yang terjadi adalah kebalikannya. Biasanya yang ada hanya pertanyaan, sungutan, teriakan ketidak adilan dan apapun yang kita rasa ‘benar’ untuk kita lakukan. Mazmur 63 mengajarkan kepada kita bahwa kita bukanlah penyembah-penyembah yang bergantung pada situasi, kondisi, dan keadaaan. Sebaliknya, apapun situasi yang sedang kita lewati haruslah menjadi situasi dimana kita dapat menyembah Dia.

Terkadang Tuhan mengijinkan segala sesuatunya terjadi dalam hidup kita untuk melihat apakah kita adalah penyembah-penyembah yang situasional, atau kita adalah penyembah-penyembah yang benar. Seringkali, Tuhan tidak merubah situasi kita sampai kita merubah sikap hati kita. Ketika situasi kita sedang sulit, jangan terlalu cepat untuk meminta Tuhan menyelesaikan semuanya, minta Dia untuk membentuk hati kita sehingga kita dapat memiliki sikap hati yang benar. Penyembahan kita bukan sekedar kita bangun pagi lalu berdoa dan menikmati hadiratNya (ini adalah hal yang sangat baik untuk dilakukan) melainkan ketika kita bisa setiap saat, apapun situasinya, tetap menyembah dia dalam roh dan kebenaran.

Dari kamar sambil pusing  nyari ide buat ice breaking games besok,

Binsargiden

Posted in Bergaul dengan Tuhan | Tagged , , , | Leave a comment

Tenang

Tenang

Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu. (Yoh 14:27 TB)

Akhir-akhir ini berita dipenuhi oleh orang-orang terkenal yang mengalami masalah dengan obat-obatan. Bahkan, belum lama ini seluruh dunia dikejutkan oleh matinya seorang penyanyi terkenal yang memiliki (mungkin) puluhan juta penggemar diseluruh dunia. Penyanyi ini ditemukan tewas bunuh diri dengan gantung diri di rumahnya dan lebih menggenaskannya, keputusannya untuk bunuh diri diikuti oleh beberapa orang penggemarnya. Menyedihkan bukan? Akan tetapi, itulah kenyataannya. Jika kita melihat dengan seksama, semua kasus bunuh diri ini memiliki satu benang merah, ‘kehilangan ketenangan’. Oleh karena itu, kebanyakan dari mereka semua berurusan dengan obat penenang.

Kita tidak lebih baik dari mereka. Jika mereka mungkin mencari ketenangan lewat obat-obatan yang melanggar hukum, kita mencarinya lewat kekayaan, ketenaran, seks, pasangan hidup, karir, atau apapun itu yang sebetulnya tanpa kita sadari menjadi ‘candu’ di jiwa kita. Betapa kita seringkali melakukan segala sesuatu dengan begitu giat dengan suatu pengertiannya bahwa ketika kita menggapainya atau melakukannya maka hidup kita akan lebih ‘tenang’. Sebuah tipuan iblis yang terbukti ampun berjuta-juta tahun lamannya.

Ketenangan bukanlah sesuatu sesuatu yang kita kejar. Ketenangan sudah diberikan Tuhan sebagai modal awal untuk kita hidup di dunia ini. Tuhan tidak mati 2000 tahun yang lalu supaya kita hidup tenang, Ia mati supaya kita bisa hidup kudus. Ayat diatas begitu jelas menjelaskan bahwa sebelum Tuhan terangkat ke sorga, Ia memberikan kita ketenangan. Tuhan tahu hal itu begitu penting sehingga Ia memberikan kita sebagai bekal dalam perjalanan kehidupan kita. Ketika seseorang akan pergi dalam kurun waktu yang tidak sebentar, maka ia akan meninggalkan bekal yang dianggap penting untuk orang yang ditinggalkannya.

Bagian “Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu” menjelaskan bahwa damai sejahtera seperti yang dimiliki Tuhan Yesus yang Ia berikan kepada kita. Mempelajari empat Injil dalam perjanjian baru mengajarkan kita bahwa Yesus adalah Tuhan dalam pribadi manusia yang seutuhnya yang hidup begitu tenang menghadapi segala sesuatu yang terjadi didepannya. Pola hidup seperti itu yang sebetulnya Tuhan berikan kepada kita. Ia tidak memberikan kita ‘sekedar’ damai sejahtera, Ia meberikan kita damai sejahtera milikNya.

Tidak ada pujian, sanjungan, harta, atau apapun itu yang ditawarkan oleh dunia yang bisa memberikan ketenangan sejati kepada kita. Hanya kehidupan dalam Tuhanlah yang sesungguhnya akan menjamin bahwa kita dapat hidup dengan ketenangan yang sejati. Jika kita terus-menerus hidup diperbudak dengan keinginan kita untuk hidup lebih damai, lebih tenang, lebih bahagia, mungkin kita perlu berhenti sejenak dan mulai memeriksa dimana kita dalam hubungan pribadi kita dengan Tuhan. Dosa membuat kita kehilangan hubungan dengan Tuhan dan hidup dalam ketakutan. Adam dan Hawa ketika jatuh dalam dosa hidup didalam ketakutan padahal mereka masih tinggal di taman eden (taman yang begitu indah dan penuh dengan emas). Mereka berusaha untuk menutupi dirinya dengan jubah dari daun-daunan namun usaha itu tidak berhasil.

Saya berdoa bahwa ketika kita mulai merasa kehilangan damai sejahtera, ketenangan, ataupun kebahagiaan. Kita tidak mencarinya di dunia, melainkan kita kembali ke hadiratNya dan menemukan semua yang kita perlukan disana.

Ah.. saya jadi ingat lirik lagu bejanaMu dari JPCC worship..

Kekuatan di jiwaku
Ketenangan batinku
Ada dalam hadirat-Mu
Kumenyembah-Mu

Cheers,

BinsarGideon

Posted in Bergaul dengan Tuhan | Tagged , | Leave a comment

Jalur

Stay-in-your-lane

Nantikanlah Tuhan dengan penuh gairah, jangan tinggalkan jalurNya. Dia akan menempatkanmu dalam posisi yang penuh dengan kemurahan sementara engkau melihat orang fasik kehilangan keuntungan. (Maz 37:34 MSG)

Pagi ini saya belajar bahwa kunci untuk hidup dalam posisi kemurahan adalah menantikan Tuhan dengan penuh gairah dan berada tetap pada jalurNya. Seringkali dalam penantian kita, kita kehilangan gairah karena kita sudah terbiasa dengan serba instan dan serba cepat. Teknologi dikembangkan dengan tujuan untuk mempercepat banyak proses dalam kehidupan manusia. Akan tetapi, jelas sekali Tuhan ingin kita menanti dengan penuh gairah. Bagaimana kita bisa menanti dengan gairah? Sederhananya adalah dengan jatuh cinta terhadap objek yang kita tunggu. Masa-masa jatuh cinta adalah masa dimana menunggu adalah hal yang lumrah dan dapat dilalui dengan penuh gairah. Love enables us to wait passionately. Ketika kita tidak sabar untuk setiap rencana Tuhan dalam kehidupan kita, mungkin hal yang harus kita periksa adalah, “apakah kita masih jatuh cinta kepadaNya?”

Ayat yang sama menjelaskan bahwa hal kedua yang tidak kalah penting untuk berada dalam posisi berkat dan kemurahan adalah untuk tetap berada pada jalurNya. Tidak ada gambaran yang lebih baik untuk menjelaskan ‘tetap pada jalurNya’ selain situasi kemacetan jakarta. Menghadapi lalu lintas jakarta seringkali membuat kita berpindah-pindah jalur. Kita melakukannya karena biasanya jalur lain ‘terlihat’ lebih cepat. Akan tetapi, seringkali jalur yang kita tinggalkan menjadi jalur yang lebih cepat, lalu kita mulai berusaha untuk kembali ke jalur sebelumnya. Ironi memang, tetapi itulah lalu lintas jakarta. Tuhan tidak ingin kita melakukan hal yang sama, Tuhan ingin kita tetap pada jalurNya. Tidak peduli jalur lain yang terlihat lebih lancar, Tuhan ingin kita tetap tinggal pada jalurNya. Mengapa? Jika kita berpindah jalur, maka lambat laun kita mulai akan bergeser dari tujuan yang Tuhan tetapkan untuk hidup kita.

Setelah itu semua kita akan sadar bahwa hal-hal tersebut membuat kita berada pada posisi kemurahanNya. Kita bukan sedang mencari-cari berkat, tetapi Tuhan sendiri yang menjanjikannya. Kemurahan dan berkat bukan sesuatu yang kita cari-cari melainkan akibat dari pilihan untuk tetap menantikan Tuhan dengan penuh gairah dan tetap pada jalurNya. Tidak ada hidup yang lebih indah dibanding hidup dalam kemurahanNya.

Selamat berpindah posisi.

Dari meja admin MBB,

 

BinsarGideon

 

Posted in Bergaul dengan Tuhan | Tagged , , | Leave a comment