Silence (Dimana Tuhan?)

SILENCE

Dari dalam kota terdengar rintihan orang-orang yang hampir mati dan jeritan orang-orang yang menderita luka, tetapi Allah tidak mengindahkan doa mereka. (Ayub 24:12 TB)

Atas rekomendasi teman saya, minggu lalu saya mengajak orang tua saya untuk menonton Silence. Film ini menceritakan perjuangan dari dua orang pastur katolik yang mencoba mencari pastur yang hilang di Jepang. Jepang pada saat itu begitu sadis dan keras terhadap agama katolik dan kekristenan. Mereka mencoba menghentikan pemberitaan Injil dengan cara apapun termasuk kekerasan yang diluar batas-batas kemanusiaan.

Inti dari film ini adalah pertanyaan dari manusia yang harus mengalami kekejaman yang begitu rupa akibat mempertahankan imannya. Mengapa Tuhan diam ketika anak-anakNya harus mengalami siksaan yang begitu mengerikan akibat percaya kepadaNya? Dimana Tuhan ketika panasnya air belerang membakar mereka yang memilih untuk setia kepadaNya? Satu dialog yang masih terngiang dalam pikiran saya adalah ketika Rodrigues berkata “Darah martir adalah benih daripada gereja”.

Pertanyaan “dimana Tuhan?” adalah pertanyaan yang begitu mudah terlontar ketika penderitaan begitu sulit dan rasa sakit seperti tidak memiliki ujung.

Dimana Tuhan ketika anak kecil diperkosa?

Dimana Tuhan ketika orang tua dibunuh?

Dimana Tuhan ketika saya dikhinati?

Sebenarnya pertanyaan ini harus kita tarik mundur lebih jauh.

Dimana Tuhan ketika Habel dibunuh?

Dimana Tuhan ketika Musa harus berlari meninggalkan Mesir?

Dimana Tuhan ketika Yohanes pembaptis dipenggal?

Dimana Tuhan ketika Yesus mati di kayu salib?

Jawabannya Tuhan ada disana. Tuhan ada disana ketika anak kecil diperkosa, Tuhan ada disana ketika orang tua dibunuh, Tuhan ada disana ketika kita dikhianati, Tuhan disana ketika Habel dibnuh, Tuhan ada disana ketika Musa harus berlari, Tuhan ada disana ketika Herodes memenggal kepala Yohanes Pembaptis, Tuhan ada disana ketika Yesus mati disalib. Mengapa Tuhan diam? Sejujurnya saya tidak mengerti.

Untuk bisa menilai suatu hal secara utuh dan adil maka kita harus bisa melihat seluruh aspek dari hal tersebut secara menyeluruh. Masalahnya adalah mustahil untuk kita bisa melihat rencana Tuhan secara keseluruhan. Hidup kita hanyalah sebuah kepingan puzzle dari rencana Tuhan yang maha besar untuk dunia ini. Bahkan kematian seseorang seringkali menjadi bagian dari rencana Tuhan untuk menggenapi rencanaNya yang lain.

Saya pernah mendengar cerita bagaimana sebuah desa di India bertobat setelah mereka menyiksa sebuah keluarga kristen dengan sangat sadis. Seluruh desa ini bertobat ketika mereka menyadari bahwa kematian tidak meruntuhkan iman keluarga tersebut. Kepala desa yang memimpin penyiksaaan tersebut mulai mencari tahu siapa sebenarnya Yesus yang dipercayai keluarga ini. Singkat cerita, kepala desa ini bertobat dan memimpin seluruh desanya bertobat. Cerita keluarga yang setia ini dituangkan dalam lagu I have decided to follow Jesus. Lagu ini dipakai oleh Billy Graham di berbagai KKR yang ia lakukan, dan menginspirasi jutaan orang menerima Yesus sebagai Tuhan dan JuruS’lamat. Baru-baru ini Hillsong mengaransemen ulang lagu ini dan menjadi berkat bagi mereka yang mendengarnya. Saya yakin masih ada rencana Tuhan yang lebih besar lagi terhadap kematian keluarga ini, bahkan mungkin yang akan terjadi setelah saya pribadi dipanggil pulang oleh Tuhan.

Sekali lagi, kita dipanggil untuk percaya lebih daripada untuk mengerti.

Sebetulnya pertanyaan ini juga pertanyaan yang menurut saya sedikit menyedihkan untuk Tuhan. Mengapa? Karena pertanyaaan ini seringkali terlontar ketika semuanya terlihat begitu menyedihkan. Pernahkan kita bertanya “Dimana Tuhan?” ketika semuanya berjalan dengan baik? Seringkali asosiasi kita tentang Tuhan menjadi begitu baik ketika semuanya terlihat baik. Kehadiran Tuhan menjadi sesuatu yang sifatnya yang situasional. Sementara Tuhan berkali-kali berjanji bahwa Ia tidak akan pernah meninggalkan kita. Baik kita mengerti atau tidak, Tuhan tetap ada disana. Bukan hanya sekedar ada, bahkan Ia berdiam didalam kita.

Saya berdoa supaya kita semua menjadi pribadi yang tidak gampang untuk mempertanyakan kehadiran Tuhan tetapi malah sebaliknya kita menjadi pribadi yang percaya penuh bahwa rencanaNya selalu yang terbaik untuk kita semua.

Starbucks kuningan city sambil ditemani lagu-lagu himne,

Binsar Gideon

Posted in Bergaul dengan Tuhan | Tagged , , | Leave a comment

Tantangan Multiplikasi (Book Review)

cam00754

Ini adalah tulisan paling tidak tahu diri sepanjang masa dan sepanjang jalan kenangan. Saya, seorang yang tidak pernah menulis buku dan jarang membaca buku mengomentari buku orang lain. Sebentar. Jangan salah pahami saya. Saya sedang memaksa diri saya untuk membaca setidaknya satu buku per bulan, dengan membuat satu kategori baru berjudul “book review” di blog saya, maka saya mau tidak mau harus membaca buku. Lebih daripada untuk mereview, tulisan saya di kategori ini lebih bertujuan untuk memastikan saya membaca buku.

Sebetulnya saya suka baca buku, sayangnya kebanyakan buku bagus tersedia dalam bahasa inggris. Berhubung bahasa inggris saya berada pada level perlu dikasihani, maka saya seringkali frustasi dan patah hati ketika membaca buku berbahasa inggris. Kesedihannya ibarat ditinggal mati anjing kesayangan setelah diputusin pacar seminggu menjelang lamaran. Sedih. Sangat sedih. Akan tetapi, itu tidak boleh menjadi alasan, karena sebetulnya banyak juga buku bagus berbahasa indonesia.

Gaya ulasan saya ini sangat tidak terstruktur dan cenderung suka-suka saya. Sama sekali tidak mengikuti pakem-pakem bagaimana seharusnya sebuah buku dibedah. Sekali lagi, tujuannya untuk memaksa diri saya membaca dan semoga bisa menjadi referensi buat pembaca yang sedang mencari buku untuk dibaca.

Buku pertama yang ingin saya ulas berjudul “Tantangan Multiplikasi” ditulis oleh Steve dan William Murrel (bapak dan anak) yang saya beli (biasanya minjem dan gak balik) dengan harga Rp. 90.000.

Buku ini dalam satu kata

“Kepemimpinan”

Lembar Demi Lembar

Pendapat dari Dave Ferguson (saya tidak kenal siapa dia) di sampul depan tentang buku ini sangat benar. Buku ini mendefinisikan ulang kepemimpinan. Buku ini mengupas tuntas kepemimpinan mulai dari membudayakan kepemimpinan, menemukan pemimpin, membangun pemimpin, sampai membangun pemimpin antar generasi. Banyak pemimpin yang bagus ketika ia memimpin, tetapi sedikit pemimpin yang bisa membangun pemimpin-pemimpin bagus yang juga melakukan hal yang sama. Jika kita ingin kepemimpinan kita berlangsung panjang bahkan ketika kita sudah tidak lagi memimpin maka buku ini wajib kita baca.

Ngomong-ngomong

Buku ini bukanlah sekadar teori-teori kepemimpinan. Buku ini adalah cerita hidup bagaimana jatuh bangun penulis yang membangun sebuah generasi kepemimpinan selama berpuluh-puluh tahun. Membaca buku ini akan menyadarkan kita bahwa penulis adalah seorang pelaku bukan konsultan. Lebih dari itu, buku ini mengajarkan kepemimpinan yang berdasarkan kebenaran yang hakiki yang adalah Firman Tuhan. Alkitab adalah sumber referensi terbaik untuk segala hal termasuk kepemimpinan.

Semua Harus Tau

Riwayat singkat dari penulis dapat kita jumpai dibagian halaman belakang buku. Saya tidak kenal penulis, tapi tau penulis. Saya membaca beberapa bukunya (100 tahun dari sekarang, wiki church, dan mungkin ada judul lain yang saya sudah lupa). Saya juga berencana untuk membaca bukunya yang mengupas hal-hal terkait parenting (pengen kawin mode on).
Satu hal yang saya suka dari penulis adalah gaya penulisannya. Saya tidak paham-paham amat mengenai jenis-jenis gaya penulisan tapi saya selalu menikmati gaya penulisan si penulis baik di buku ini maupun di buku-buku lainnya.
Buku yang saya baca adalah terjemahan bahasa indonesia dari versi aslinya yang berjudul “Multiplication Challenge”. Terjemahannya menurut saya baik dan tidak membuat saya geregetan akan kualitas terjemahan yang sering kali menghilangkan makna aslinya (pengalaman membaca beberapa buku terjemahan).

GR Momen

Satu-satunya hal yang membuai saya dibuku ini adalah ketika penulis menyarankan bahwa adalah baik untuk seorang pemimpin menulis dan mengelola blog. Saya tidak bilang saya mampu menulis, tapi setidaknya saya sudah mulai menulis.

Plak Momen

Membaca buku ini membuat pipi batin saya merah penuh tamparan. Bagian yang paling menampar saya adalah ketika penulis menulis, “Kemalasan dan kepemimpinan itu seperti air dan minyak. Keduanya tidak dapat bercampur. Kemalasan itu sepenuhnya berlawanan dengan kepemimpinan.” Saya ini malasnya ampun-ampunan.

Membayangkan saya berada dibawah asuhan langsung dari penulis maka besar kemungkinan saya akan dipecat dari teamnya di minggu-minggu pertama. Saya adalah pemimpin malas yang harus bertobat. Menunda-nunda adalah satu hal yang sangat saya benci dari diri saya sendiri. Saya sering menulis hal-hal yang harus saya kerjakan, dan setelah selesai menulis, saya malah membuang-buang waktu mengerjakan hal lain yang tidak penting. Seseorang pernah melihat daftar yang saya buat dan berkata, “Bro, seandainya lo kerjain dari pagi, mungkin semuanya sudah kelar.” Aku tobat ya Tuhan.

Kesimpulin (a)

Secara garis besar saya sangat merekomendasikan buku ini untuk kita semua yang mau menjadi pemimpin. Jangan lupa untuk menyiapkan stabilo untuk menebalkan bagian-bagian yang mungkin akan menampar kita kiri-kanan.

Selamat membaca.

Posted in Book Review | Tagged , , | 2 Comments

Betapa

build

Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi. Adakah sumber memancarkan air tawar dan air pahit dari mata air yang sama? (Yak 3:9-11 TB)

Hari minggu kemarin adalah hari dimana mentor saya membawakan Firman Tuhan dari atas mimbar. Seingat saya, sampai hari kamis (kalau ingatan saya masih berfungsi dengan benar) mentor saya masih mencari bahan untuk khotbah, akan tetapi, mendengar pesan Tuhan dari mimbar kemarin sangat mengena di telinga dan hati para pendengar. Khotbahnya sederhana dengan pembahasan yang sudah juga sering saya dengar tetapi tetap saja kalau Tuhan yang bekerja maka ceritanya akan tetap berbeda.

Saya tidak ingin membahas isi dari khotbahnya apalagi pengkhotbahnya. Saya ingin membahas tentang seorang anak muda yang menjadi alasan kita menyanyikan tembang lawas rohani pada hari minggu kemarin. Di akhir khotbahnya, mentor saya mengajak semua jemaat untuk menyanyikan lagu rohani lawas yang mungkin untuk kita yang baru bertobat terdengar asing di telinga. Untuk saya yang tumbuh di gereja saya sangat menikmati momen-momen dimana gereja masa kini menyanyikan lagu-lagu rohani zaman dahulu. Judul lagunya adalah “Betapa Hatiku”.

Betapa hatiku
Berterima kasih Tuhan
Kau mengasihiku
Kau memilikiku

Reff:
Hanya ini Tuhan persembahanku
Segenap hidupku, jiwa dan ragaku
S’bab tak kumiliki harta kekayaan
Yang cukup berarti tuk kupersembahkan

Hanya ini Tuhan permohonanku
Terimalah Tuhan persembahanku
Pakailah hidupku sebagai alatMu
Seumur hidupku

Suasana ketika lagu ini dinyanyikan terasa begitu luar biasa. Banyak air mata menetes. Bahkan jika hari itu ibadah dihadiri jutaan orang, mungkin pasukan orange harus dikerahkan karena Jakarta akan kebanjiran, dan disisi lain pabrik tissue akan mengalami kenaikan omset yang luar biasa. Maafkan saya yang agak lebay tetapi sejauh mata saya berkeliling semua orang sangat diberkati dan tersentuh.

Sebelum menyanyikan lagu ini, mentor saya memberitahukan bahwa alasannya memilih lagu ini disebabkan oleh seorang anak muda yang ketika pergi bersamanya di hari sebelum dia berkhotbah menyanyikan penggalan dari lagu ini. Ketika ia mendengar lagu ini, ia merasa bahwa lagu ini harus dinyanyikan ketika menutup khotbah. Sekarang bayangkan jika anak muda tersebut menyanyikan lagu lain yang tanpa makna, atau mungkin maknanya cenderung tidak jelas. Mungkin hal berbeda yang akan terjadi.

Anak muda ini tidak pernah tau bahwa sedikit penggalan lagu di waku yang begitu singkat ternyata menjadi berkat untuk ratusan orang yang menghadiri ibadah. Mungkin ada orang di ibadah tersebut yang imannya sedang lemah, mungkin juga ada orang yang sedang menjauh dari Tuhan, mungkin ada orang yang mulai mepertanyakan Tuhan. Akan tetapi, lewat lagu tersebut banyak hati yang diubahkan dan jiwa yang diteduhkan. Anak muda ini menjadi saluran berkat lewat sebuah penggalan pendek yang dia nyanyikan.

Hal yang sama juga berlaku  untuk kita.Bagaimana cara kita menggunakan mulut kita? Apa yang keluar dari mulut kita? Apakah hinaan, cercaan, makian, lagu putus asa, lagu kepahitan? atau sebaliknya semua yang sifatnya membangun. Sama seperti anak muda tersebut, kita tidak pernah tahu atau sadar bahwa ternyata ada saat-saat dimana (bahkan tanpa kita sadari) apa yang kita katakan adalah penentu apakah hidup orang yang mendengarnya akan dibangun atau semakin dihancurkan. Pilih apa yang keluar dari mulut kita dengan bijak.

Saya berdoa tidak ada dari kita yang berkata ‘cuma’. Semua yang ‘cuma’ cenderung percuma. Jangan habiskan hidup kita untuk sesuatu yang percuma. Pilih untuk selalu membangun hidup orang lain bukan menghancurkannya.

Dikamar dibawah hembusan Ac 1/2 PK,

 

Binsargideon

 

Posted in Bergaul dengan Tuhan | Tagged | Leave a comment

Tidak Dikasihi

rumb-unlovable-pic

Jawab orang itu: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Lukas 10:27 TB)

Khotbah di mimbar hari ini begitu mengena buat saya. Pesannya sederhana dan dibawakan oleh pengkhotbah yang tidak begitu favorit untuk saya pribadi. Saya suka gaya penulisannya (saya membaca beberapa bukunya dan sedang membaca buku terbarunya) tapi terakhir kali saya mendengar khotbahnya saya sedikit bosan. Tapi tidak dengan khotbahnya hari ini ketika ia membawakan cerita tentang orang Samaria yang baik hati.

Penggalan ayat diatas adalah kalimat yang diucapkan Yesus ketika seorang ahli Taurat yang mencobai Yesus menanyakan kepadanya tentang bagaimana cara untuk mendapatkan hidup yang kekal. Atas pertanyaan yang sederhana tapi menjebak ini, Yesus menceritakan sebuah perumpamaan tentang seorang Samaria yang baik hati. Semua kita (terutama yang pernah bersekolah minggu) pasti sudah cukup paham mengenai cerita ini. Orang Samaria ini menolong orang Yahudi yang setengah mati karena dirampok dan dihajar di perjalanan dari Yerusalem menuju Yerikho. Ada tiga orang yang melihat orang malang ini; Imam, orang Lewi, dan orang Samaria. Ketiga orang ini melihat masalah yang sama tapi hanya orang Samaria yang melihat dengan mata belas kasihan.

Penting sekali untuk kita mengerti status orang Samaria pada zaman ketika Yesus menceritakan cerita ini. Orang Samaria pada zaman itu adalah sekumpulan orang najis, tertolak, dihindari, dan dibenci oleh bangsa Yahudi. Ada sebuah kebencian yang berusia ratusan bahkan ribuan tahun yang sudah mengendap didarah orang Yahudi ketika melihat orang Samaria. Dalam konteks cerita ini, keputusan orang Samaria ini untuk menolong orang malang ini adalah keputusan yang membuat dirinya terjebak dalam resiko yang mengerikan karena jalan dari Yerusalem menuju Yerikho adalah jalanan yang berbahaya karena penuh dengan perampok. Saya tidak mau menyalahkan Orang Lewi dan Imam yang melewati orang malang ini karena mungkin saja mereka berpikir orang malang ini adalah orang yang sedang berpura-pura menjadi korban dan akan merampok siapapun yang mencoba menolongnya. Akan tetapi, bagaimana mungkin orang Samaria yang secara status dibenci, ditolak, dan bahkan tidak dikasihi ini mampu menjadi sebuah ukuran akan ‘mengasihi sesama’?

Yesus adalah gambaran dari orang Samaria yang baik hati tersebut dan kita yang dahulu adalah korban yang hampir mati akibat dosa yang menguasai kita sebelum kita bertobat. Sebetulnya kita bukan hampir mati melainkan kita sudah mati secara roh. Yesus mengambil segala resiko untuk turun ke dunia dan hidup dalam berbagai penolakan untuk menghampiri kita di lobang kebinasaan kita dan membayar semua yang diperlukan untuk membuat kita hidup kembali. Itulah makna kasih yang sesungguhnya.

Apa alasan kasih kita terhadap orang lain? Apakah karena mereka mengasihi kita? Apakah karena mereka melakukan apa yang kita inginkan? Bagaimana jika sebaliknya mereka membenci kita dan membuat kita hidup dalam banyak masalah? Kasih yang sudah kita rasakan dari Tuhan memampukan kita untuk mengasihi orang lain dengan cara yang benar. Kita mengasihi orang lain bukan karena orang tersebut mengasihi kita melainkan karena kita sudah terlebih dahulu dikasihi oleh Tuhan. Siapa orang lain itu? Mungkin mereka adalah orang yang membenci kita atau mungkin mereka adalah orang yang sekarang hidupnya ada dalam lobang kebinasaan. Orang-orang ini ada di sekitar kita. Keputusannya ada ditangan kita apakah kita akan terus melangkah dengan tidak peduli atau berhenti sejenak untuk mengekspresikan kasih Tuhan yang sudah terlebih dahulu kita rasakan kepada mereka.

Beberapa hari lagi kita akan memasuki momen valentine, sebuah momen dimana begitu banyak orang berlomba-lomba mengekspresikan kasih mereka. Handphone saya penuh dengan notifikasi dari berbagai aplikasi dari mulai gojek, tokopedia, zalora, grab, dan lain lain yang dimulai dengan kata “ekspresikan kasihmu dengan…..”. Aplikasi-aplikasi ini sesungguhnya sangat tidak sopan, harusnya mereka bertanya dulu kepada saya mengenai status dan perasaan saya sebelum beriklan (jadi sensi). Saya tidak anti valentine, saya suka valentine walaupun terkadang pahit (jadi curhat). Akan tetapi, saya ingin mengajak kita semua untuk mengambil momen ini untuk tidak sekadar mengekspresikan kasih hanya kepada mereka yang mengasihi kita melainkan juga kepada mereka yang membenci kita dan mereka yang hidup dalam lobang kebinasaan.

Happy Valentine guys.

Diatas meja makan, dibalik hujan,

Binsar Gideon

 

Posted in Bergaul dengan Tuhan | Tagged , , , | Leave a comment

Bahagia

grave

Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa. (Maz 16:11 TB)

Selamat datang Februari. Tanpa terasa Januari 2017 sudah selesai padahal rasanya baru saja kita merayakan momen pergantian tahun. Hidup terasa begitu cepat. Buat saya Januari adalah bulan yang ajaib. Mengapa terasa begitu ajaib? Beberapa orang di sekitar saya dipanggil Tuhan pulang. 1 rekan kerja, 2 orang nasabah saya (wanita, masing-masing berusia 36 dan 38 tahun),  2 orang ibu yang merupakan orang tua dari teman saya. Bahkan besok saya akan pergi ke rumah duka untuk melayat ayah dari teman saya. Begitu banyak dan begitu cepat.

Dalam setiap kunjungan saya ke rumah duka, selalu pertanyaan yang sama muncul. Apa sih yang dicari dalam hidup ini? Hidup terasa begitu cepat. Jika tidak percaya, coba tanyakan kepada orang-orang dengan berbagai usia, apakah mereka betul-betul merasa bahwa mereka sudah menjalani hidup mereka untuk sekian tahun di muka bumi. Untuk saya pribadi jawabannya tidak. 30 tahun yang sudah saya jalani di bumi terasa begitu singkat. Jika usia saya 70 tahun, maka saya hampir menjalani setengah dari usia saya di bumi. Pertanyaan yang sama muncul, apa sih yang dicari? Jawabannya sederhana. Semua orang ingin berbahagia. Bukan kebahagiaan yang sementara, tetapi yang kekal.

Bagaimana cara berbahagia? Apa itu kebahagiaan yang sejati? Apakah dengan mendapatkan apa yang kita mau, kita akan berbahagia? Jawabannya tidak. Memang betul ketika kita mendapatkannya yang kita mau kita merasa begitu bahagia, tetapi itu tidak akan lama. Perasaan paling kosong adalah ketika kita mendapatkan yang kita mau dan kita pikir kita akan berbahagia dan ternyata kita salah besar. Mari saya berikan contoh. Di belahan bumi (entah di bagian mana) yang lain, saya yakin pasti ada orang yang berpikir bahwa jika dia punya motor dia akan berbahagia. Dirumah saya ada 2 motor, dan saya bisa bilang saya biasa saja untuk 2 motor yang saya punya. Saya bukan tidak bersyukur. Saya hanya tidak bisa bilang bahwa memiliki motor bisa membuat bahagia. Biasa saja. Sesuatu yang sifatnya sementara tidak akan bisa memberikan kita kebahagiaan yang kekal. Saya bisa menulis panjang dan lebar tentang bagaimana orang-orang yang mendapat apa yang mereka mau dan segera sesudah mereka mendapat yang mereka mau, mereka tetap merasa biasa saja. Lebron James, Boris Becker, Michael Phelps, James Higgins, dan seterusnya.

Berbeda dengan fisik kita yang bersifat sementara, jiwa kita bersifat kekal. Ketika fisik kita berakhir, jiwa dan roh kita masih ada. Dibutuhkan sesuatu yang bersifat kekal untuk memuaskan jiwa kita dan kita semua tahu bahwa Tuhan adalah Pribadi yang kekal. Dia Alfa dan Omega, yang awal dan akhir. Ayat diatas menjelaskan kepada kita bahwa Tuhanlah sumber sukacita yang abadi. Ketika keadaan kita terasa begitu menyenangkan, hati-hatilah jangan sampai kita melupakan Tuhan. Sebaliknya, ketika keadaan terasa begitu berat, sadarlah bahwa Tuhan adalah sumber sukacita abadi kita.

Starbucks Rest Area Km 39,

 

BinsarGideon

Posted in Bergaul dengan Tuhan | Tagged , , | Leave a comment

Ayam

blog

Lalu berpalinglah Tuhan memandang Petrus. Maka teringatlah Petrus bahwa Tuhan telah berkata kepadanya: “Sebelum ayam berkokok pada hari ini, engkau telah tiga kali menyangkal Aku.” (Lukas 22:61 TB)

Saya asli batak tulen. Bapak batak besar di siantar dan merantau ke jakarta, ibu batak lahir dan besar di palembang. Entah mengapa segala sesuatu yang terkait dengan tahun baru cina selalu menarik perhatian saya. Untuk pembaca yang merayakan, saya ingin mengucapkan “Gong Xi Fat Chai” dan saya menerima angpao dalam jumlah berapapun.

Imlek tahun ini dilambangkan dengan ayam jantan. Entah mengapa, melihat lambang ayam, saya langsung teringat peristiwa Petrus menyangkali Yesus. Sesuatu yang sebetulnya sudah diberitahukan Tuhan kepada Petrus ketika ia begitu percaya diri bahwa dia tidak akan meninggalkan Yesus dalam situasi apapun. Menurut saya, Petrus adalah sosok seorang tokoh di alkitab yang menggambarkan banyak orang Kristen (setidaknya saya). Hari ini imannya begitu kokoh dan peka dalam mendengar suara Tuhan, tidak lama kemudian menjadi orang yang begitu mudah kehilangan rasa percaya kepada Tuhan.

Mengapa Petrus menyangkali Yesus? Kalau kita pelajari baik-baik, sebetulnya kejadian penyangkalan Petrus terjadi ketika ia sedang mengikuti Yesus secara diam-diam ketika Yesus sedang dibawa ke rumah Imam Besar dari taman getsemani. Suatu tindakan heroik dan penuh iman. Akan tetapi, sambil mengikut Yesus, Petrus juga menghangatkan dirinya ditengah-tengah kumpulan para hamba-hamba imam besar. Disatu sisi Petrus mengikut Yesus, disisi lain Petrus menikmati apa yang ditawarkan oleh dunia.

Ketika kita memutuskan untuk mengikut Tuhan, maka konsekuensinya adalah memikul salib dan menyangkal diri. Kita tidak bisa memikul salib dan tidak menyangkal diri kita, atau sebaliknya tidak memikul salib tetapi menyangkal diri. Pilihannya cuma satu. Memikul salib dan menyangkal diri. Kata sambung yang digunakan adalah ‘dan’ bukan ‘atau’. Sebuah kewajiban yang harus dipenuhi tanpa pertanyaan.

Menyangkal diri adalah menyangkal keinginan diri kita yang bertentangan dengan keinginan Tuhan. Seringkali kita memilih apa yang dunia tawarkan dan berharap kita bisa melakukannya sambil tetap ikut Yesus. Awalnya seringkali seperti itu, tetapi akhirnya pasti akan berujung pada penyangkalan akan Yesus. Petrus tidak pernah tau bahwa pilihannya untuk menikmati kehangatan akan berakhir akan penyangkalannya kepada Yesus. Hari ini mungkin kita ‘tidak menyangkal’, tetapi suatu saat kita pasti akan menyangkali. Ikut Tuhan tidak bisa setengah-setengah.

Petrus yang sama diubahkan Tuhan begitu rupa. Suatu kali ketika penyiksaan besar-besaran terjadi di Yerusalem, Petrus berlari meninggakan kota Yerusalem. Ditengah pelariannya untuk keluar kota Yerusalem, ia bertemu dengan Yesus di pintu gerbang. Ia bertanya kepada Yesus, “Tuhan, mau kemana?” Yesus menjawab, “Aku mau masuk kedalam kota.” Petrus yang sama, kali ini mengambil keputusan yang berbeda. Ia memutuskan mengikut Yesus sepenuh hati dan mengikut Yesus masuk kedalam kota. Akhirnya kita tahu bahwa Petrus disalib terbalik dan mati disana. Tubuh jasmaninya memang selesai, tetapi kita semua tahu bahwa jiwanya dan rohnya bersama-sama dengan Tuhan.

Saya berdoa semoga ditahun ayam ini kita diingatkan untuk terus memikul salib kita dan menyangkal diri kita dalam situasi apapun.

Cheers,

BG

Posted in Bergaul dengan Tuhan | Tagged , , | Leave a comment

Injak

langkah

Pada waktu itu Musa bersumpah, katanya: Sesungguhnya tanah yang diinjak oleh kakimu itu akan menjadi milik pusakamu dan anak-anakmu sampai selama-lamanya, sebab engkau tetap mengikuti TUHAN, Allahku, dengan sepenuh hati. (Yosua 14:9 TB)

Malam minggu yang lalu gereja saya merayakan penutupan minggu puasa dengan worship night. Buat saya secara pribadi, puasa awal tahun kali ini bisa dibilang berantakan, dari rencana ‘water only’ fast selama lima hari malah menjadi puasa sampai jam 3 sore. Jauh dari komitmen awal tapi setidaknya masih ikut ambil bagian. Malam itu saya sangat menikmati worship night, terkadang air seteguk menjadi begitu bernilai ketika kita begitu haus. Ada yang sedikit berbeda dengan worship night biasanya karena ada Firman Tuhan singkat yang dibagikan,

Firman malam itu berbicara tentang Abraham yang berdiri diatas janji Tuhan bahwa dia suatu saat akan memiliki anak. Mungkin pembahasan ini sudah menjadi pembahasan yang sudah ratusan kali saya dengar. Tetapi entah mengapa pembahasan malam itu seperti nyangkut di pikiran saya. Beberapa hari setelah malam itu, ketika saya sedang mengendarai mobil, tiba-tiba Roh Kudus mengingatkan saya tentang ayat yang sudah saya tulis diatas. Lalu saya mencoba merangkai dari apa yang Roh Kudus ingatkan dengan Firman yang saya dengar malam itu.

Ayat tersebut menuliskan perkataan yang diucapkan Musa kepada Yosua. Kunci dari perkataan Musa adalah menginjak tanah atau berdiri diatas tanah. Saya beberapa kali mendengar banyak tindakan profetis “menginjak tanah” yang dilakukan banyak anak Tuhan dan akhirnya betul-betul tanah yang mereka injak menjadi milik mereka. Akan tetapi, saya percaya ada maksud yang lebih dalam dari sekedar menginjak tanah secara fisik. Jika hanya sekedar menginjak tanah, maka Tuhan pasti akan bingung. Bayangkan jika ada 2 anak Tuhan menginjak tanah yang sama dan mengklaim bahwa itu adalah milik mereka, Tuhan akan memasuki situasi dilematis.

Dalam hidup kita ini ada begitu banyak tanah, ada tanah berkat, tanah sukacita, tanah kelimpahan, tanah terobosan, dsb. Sebaliknya, ada juga tanah kekuatiran, tanah mengasihi diri sendiri, tanah kutuk, dsb. Apapun yang kita pilih untuk kita injak akan menjadi milik kita. Jika kita memilih untuk menginjak tanah berkat maka berkat akan menjadi milik kita. Sebaliknya, jika menginjak tanah kekhawatiran maka hidup kita adalah hidup yang penuh dengan rasa khawatir.

Tidak peduli apapun situasi kita saat ini, yang terpenting adalah kemana kita melangkah. Kita mungkin sedang berdiri diatas tanah kekahwatiran, akan tetapi, kita bisa memutuskan melangkah menuju tanah iman dan berdiri disana. Ayat diatas juga mengatakan bahwa penting untuk kita mengikuti Tuhan. Ikuti langkah Tuhan. Abraham mengikuti. Yosua mengikuti. Daud mengikuti. Paulus mengikuti. Petrus mengikuti. Yesus mengikuti. Dimanapun posisi kita saat ini, pastikan bahwa langkah kita selanjutnya adalah langkah yang sama dengan langkah Tuhan.

Selamat menginjak dan melangkah.

 

Cheers,

Binsargideon

Posted in Bergaul dengan Tuhan | Tagged , , | Leave a comment

Patah

patah

Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati,dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya. (Mazmur  34:19 TB)

Pagi ini ketika saya terbangun saya membuka Mazmur 34 untuk mengulang kembali Firman Tuhan yang disampaikan lewat mimbar pada hari minggu kemarin. Akan tetapi, ditengah pembacaan saya, saya terhenti pada ayat yang saya tulis diatas (ayat ini sebetulnya tidak dibahas pada firman kemarin) dan saya mulai merenungkan ayat ini untuk beberapa saat.

Patah hati adalah sebuah masa yang tidak mungkin dapat kita hindari. Sama seperti ketika membawa mobil, akan ada saat dimana jalan tertutup dan kita dialihkan melalui jalur yang sebetulnya tidak kita harapkan. Ketika kita mengucapkan “halo” kepada sesuatu/seseorang maka kita akan berhadapan dengan saat dimana kita harus berkata “selamat tinggal”. Tidak ada selamat tinggal yang mudah, apalagi jika hal/orang tersebut memiliki tempat yang berarti di hati kita. Bahkan ada saat dimana hal itu begitu sulit untuk dilewati dan meremukkan jiwa kita.

Tuhan tidak menjanjikan kehidupan tanpa patah hati. Patah hati itu pasti. Akan tetapi, Tuhan menjelaskan dimana keberadaanNya ketika kita sedang patah hati. Ia begitu dekat dengan kita. Tidak ada hal yang lebih menenangkan dibanding kita tahu dan sadar bahwa Ia berada didekat kita. Oleh karena itu, jangan sia-siakan patah hati kita. Jangan memilih untuk mendekati hal-hal yang sebetulnya hanya terlihat menghibur tetapi malah sebaliknya akan semakin menghancurkan. Bangun hubungan pribadi yang lebih intim, gali sumur kehausan kita akan Tuhan lebih dalam, baca dan renungkan kebenaran lebih giat lagi.

Saya tidak berkata ini akan mudah tapi pada akhirnya tidak akan pernah sia-sia. Tubuh kita ditopang oleh kaki dan kita tahu fungsi kaki kita adalah untuk bergerak. Tubuh kita dirancang untuk bergerak bukan untuk diam. Tidak mudah untuk bergerak ketika semuanya begitu hancur, tapi putuskan untuk bergerak, jangan diam dan meratapi hidup. Tidak berdosa ketika kita meratap, yang menjadi salah adalah ketika kita meratap seolah-olah tidak ada hari esok. Sekali lagi saya tekankan, tidak mudah tetapi tidak akan pernah sia-sia.

Sukacita yang sejati bukan tergantung kepada situasi, pribadi, atau keadaan tertentu. Semuanya itu bersifat sementara. Sukacita sejati adalah ketika kita tahu bahwa Ia adalah Tuhan yang dekat dengan kita.

Selamat patah hati

Cheers,

BG
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Posted in Bergaul dengan Tuhan | Tagged , , | 1 Comment

Resolusi Tahun Baru

new-years-resolutions.jpg

Tidak terasa bahwa kurang dari 36 jam dari saat ini kita akan memasuki tahun 2017. Buat sebagian kita tahun 2016 adalah tahun yang indah untuk dijalani, sedangkan buat sebagian lain 2016 adalah tahun yang pembelajaran yang sulit. Apapun yang kita rasakan, 2016 sudah berakhir, waktunya untuk menatap 2017 dengan penuh pengharapan.

Salah satu hal yang menjadi tradisi menjelang pergantian tahun adalah orang-orang mulai membuat resolusi-resolusi tahun baru. Walaupun kita semua sadar bahwa resolusi-resolusi tahun baru biasanya akan gugur di 3 minggu pertama, saya tetap menganjurkan untuk kita membuatnya. Benjamin Franklin, salah satu founding fathers dari Amerika Serikat pernah berkata, “mereka yang gagal membuat rencana, merencanakan kegagalan.” Jadi adalah baik untuk kita membuat rencana di akhir 2016 untuk menjalani 2017 dengan maksimal.

Saya sedikit melakukan research tentang resolusi 2017 dan saya menemukan banyak resolusi yang sebetulnya adalah pengulangan dari resolusi yang tidak tercapai dari tahun-tahun sebelumnya. Berlatih di gym secara rutin, lebih kurus, berhenti merokok, berhenti minum minuman keras, kerja lebih keras, menabung lebih banyak, mendapatkan pasangan hidup, menghabiskan waktu dengan keluarga, mencari pekerjaan baru, jalan-jalan ke tempat yang baru, dsb adalah beberapa contoh resolusi tahun baru yang populer. Persamaan yang bisa kita tarik dari resolusi-resolusi itu adalah berpusat kepada diri kita sendiri. Semuanya adalah jawaban dari pertanyaan, “Bagaimana saya menjadi pribadi yang ‘lebih’?”

Sebaliknya, saya menyarankan untuk kita membuat resolusi dengan pertanyaan yang berpusat kepada penghormatan kita kepada Tuhan. Sebagai contoh:

1. Bagaimana saya menghormati Tuhan lewat kesehatan saya? Saya akan makan sehat dan rutin berolahraga. Mengapa? Karena saya tahu dengan badan sehat saya bisa siap sedia untuk melayani orang lain.

2. Bagaimana saya menghormati Tuhan lewat bisnis/karir saya? Saya akan menjadi pribadi sukses dengan omset sekian atau saya akan bekerja lebih keras lagi untuk membantu meningkatkan performa perusahaan dimana saya bekerja. Mengapa? Karena saya tahu bahwa anak-anak malas bukanlah anak-anak kerajaan Sorga.
Pertanyaan yang sama juga bisa kita aplikasikan untuk area keuangan, pelayanan, kehidupan rohani, hubungan, keluarga, atau bahkan fun. Setelah selesai dengan semuanya, temukan teman-teman yang juga sevisi dengan kita, jangan hanya berkumpul dengan mereka yang membuat kita nyaman. Paksa diri kita untuk berkumpul dengan mereka yang membawa kita bertumbuh dalam resolusi-resolusi kita.

Yuk mulai buat resolusi 2017, serahkan semuanya kepada Tuhan, dan lihat apa yang Tuhan kerjakan lewat hidup kita di tahun depan.

Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah (1 Korintus 10:31 TB)

Cheers,

BG

Posted in Bergaul dengan Tuhan | Tagged , | Leave a comment

Melanjutkan

5-ways-to-keep-going-after-hitting-the-wall

Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup. (1 Yohanes 2:6 TB)

The man who professes to be continuing in Him is himself also bound to live as He lived. (1 John 2:6 WNT)

Terjemahan lain dari kata “ada” dari ayat diatas adalah “mengaku masih melanjutkan”. Apakah kita masih melanjutkan perjalanan kita didalam Kristus? Jika jawabannya adalah “Ya”, maka kita terikat untuk hidup sama seperti Dia hidup. Banyak orang yang menerima Tuhan sebagai Juruslamat, tetapi sedikit yang tetap melanjutkan perjalanannya bersama dengan Tuhan. Mengapa? Karena sulit. Sangat sulit. Sejujurnya, saya berkali-kali merasa capek dengan semua yang serba “Ketuhanan”. Saya berkali-kali merasa aneh sendiri, terlalu radikal, ekstrim banget, gak peka sama perubahan zaman. Makin kesini makin susah menjadi pengikut Kristus. Saya yakin kita semua merasakan yang sama.

Sebetulnya, rasa letih adalah tanda kita masih melanjutkan perjalanan. Nabi besar zaman perjanjian lama yang bernama Elia juga pernah merasakan hal yang sama. Ia letih dengan gaya hidupnya yang berbeda sendiri dengan seluruh manusia pada zamannya. Jadi saya rasa adalah normal ketika kita merasa letih tentang semua yang serba “Ketuhanan”. Letih boleh, mundur jangan. Keep goin. Mengapa? Karena sebetulnya dunia merindukan orang-orang yang berbeda. Kalau bukan kita siapa lagi?

Perhatikan pemilu Amerika, siapa yang menyangka bahwa sosok kontroversial bernama Donald Trump bisa memenanginya. Perhatikan referendum Inggris, siapa yang menyangka bahwa akhirnya mayoritas rakyat memilih untuk keluar dari Uni Eropa. Perhatikan kandidat-kandidat pemilu Jerman, Belanda, Perancis, dan beberapa negara eropa lainnya, siapa yang mulai mendapat kepercayaan? Mereka yang “berbeda” tiba-tiba menjadi orang-orang yang dipercaya untuk memegang tampuk kepemimpinan. Mungkin mereka ‘berbeda” demi ambisi pribadinya, tetapi kita melakukannya karena Kristus. Kita terikat untuk hidup sama seperti Kristus hidup.

Kemarin saat saya sarapan bersama dengan mama saya, saya bercerita tentang pergumulan saya, tentang bagaimana semuanya sepertinya berantakan, and she told me, “Pada akhirnya, hidup kamu adalah tentang kamu dan Tuhan, bukan tentang kamu dengan yang lainnya. Semua yang kita rasa hanya sementara. Bahagia, sedih, kaya, miskin, semuanya sementara. Hubungan kita dengan Tuhan itu yang kekal. Berpeganglah pada yang kekal bukan pada yang sementara”. My tears almost fell down when i was listening to her profound statement. I thank God for my mom.

Letih boleh, mundur jangan.

“Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya.” (Yesaya 40:29 TB)

Cheers,

BinsarGideon

Posted in Bergaul dengan Tuhan | Leave a comment