Lontong Sayur

lontong-sayur

Hari ini kolesterol saya dijamin mengalami lompatan yang sangat tinggi, mungkin tingginya bisa memecahkan rekor olimpiade lompat tinggi. Lontong sayur medan, rendang, dendeng balado, coto makassar dengan buras yang enak, nyuknyang ati raja, dan lain-lainnya masuk kedalam perut saya dalam tempo yang relatif berdekatan. Mungkin santapan lebaran saya hari ini adalah santapan lebaran paling ajaib, agung, dan mempesona yang pernah saya nikmati sepanjang hidup saya sampai hari ini. Bahkan saya tidak sempat menikmati lontong sayur kiriman teman saya semalam, karena sudah dihabiskan oleh keluarga saya pagi ini. Gila memang, tetapi begitulah lebaran. Lebaran dan makanan adalah dua hal bersahabat erat dan karib. Setuju atau tidak, buat saya, ketupat sayur paling enak adalah ketupat sayur pada saat lebaran. Masih ada beberapa undangan halal bihalal yang saya tidak saya datangi, bukan karena sombong, karena saya sudah kegemukan. Kalau saya datang, pasti saya lepas kendali. Maklum rem di kerongkongan saya sudah lama tidak diservis, sering blong.

Apa sih yang spesial dari lebaran? Buat saya sangat sederhana; merayakan kemenangan. Kalau umat kristen merayakan kemenangan ketika paskah, maka umat muslim (setau saya) merayakannya ketika lebaran. Setelah berpuasa selama 30 hari maka mereka merayakan kemenangan dengan saling berkunjung dan saling menjamu. Bagimana cara mereka merayakan kemenangan? Dengan cara saling memaafkan. Luar biasa. Kemenangan ditandai bukan dengan siapa yang menang atau siapa yang kalah, kemenangan dirayakan dengan saling memaafkan. Kemenangan paling besar selalu ditandai ketika kita mampu memaafkan.

Semua ini membawa saya kepada situasi yang Yesus hadapi di kayu salib. Ada tujuh kalimat yang Yesus ucapkan selama penderitaanNya diatas kayu salib. Yang pertama dari ketujuh kalimat tersebut adalah:

Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Dan mereka membuang undi untuk membagi pakaian-Nya. (Lukas 23:34 TB)

Hal yang pertama yang Yesus lakukan diatas kayu salib adalah memaafkan. Ketika Yesus memaafkan, Ia melewati salibNya bukan dengan kebencian melainkan dengan kasih kepada mereka (termasuk saya) yang menyalibkanNya. Begitu penting untuk kita memaafkan. Ada begitu banyak orang yang tanpa sadar melewati salibnya dengan penuh kebencian. Padahal Tuhan mengajarkan untuk memasuki proses penyaliban dengan memaafkan mereka yang membuat kita disalib.

Mungkin salib yang kita lewati bukanlah salib secara daging (walaupun ada juga orang yang secara fisik betul-betul disalib). Mungkin salib yang sedang kita jalani adalah situasi yang begitu menyakitkan buat jiwa kita yang disebabkan mereka yang begitu dekat kita. Mungkin kita sudah berdoa seperti Yesus berdoa, tetapi Allah tetap mengijinkan kita melewati salib tersebut. Dimana letak kekuatan kita untuk melewatinya? Lewati dengan sikap hati memaafkan. Memaafkan belum tentu merubah orang yang kita maafkan (seperti Yesus yang sudah memaafkan tetapi masih diberikan anggur asam ketika haus), tetapi memaafkan memampukan kita untuk melewati salib yang kita harus lewati.

Selama liburan ini coba pikirkan mereka yang sudah menyakiti kita dengan sangat. Dengan sepenuh hati dan kesadaran, ambil waktu untuk memaafkan mereka. Bukan karena mereka yang benar tetapi karena mereka tidak tahu apa yang sedang mereka perbuat. Maafkan mereka.

Selamat hari raya lebaran. Mari saling memaafkan.

Dari kamar yang dingin sambil menunggu usus besar bahu membahu dengan usus kecil untuk memproses santapan lebaran siang ini,

Binsargideon

Advertisements
Posted in Bergaul dengan Tuhan | Tagged , | Leave a comment

Berpindah

hyperloop

Dan, Dia berkata kepada mereka, “Di manakah imanmu?” Mereka menjadi ketakutan dan heran sambil berkata satu kepada yang lain, “Siapakah Orang ini? Ia bahkan memberi perintah kepada angin dan air, dan mereka mematuhi-Nya. (Lukas 8:25 AYT)

Pagi ini saya menghabiskan waktu menonton tentang figur yang disebut-sebut sebagai ‘iron man’ abad ke 21. Namanya Elon Musk. Berbagai penemuannya membuat dunia tercengang-cengang, dari mulai sistem pembayaran di internet sampai mobil tanpa pengemudi. Mengingat usianya yang masih 45 tahun, bukan tidak mungkin dia akan menjadi tony stark masa kini. Salah satu hal yang sedang dia kerjakan adalah hyperloopHyperloop adalah sebuah moda transportasi darat dengan kecepatan yang sangat gila. Moda ini mampu mencapai kecepatan 1220km/jam. Secepat pesawat tapi berada di darat. Bayangkan waktu tempuh yang dibutuhkan untuk mencapai Surabaya dari Jakarta adalah 30 menit. Apalagi kalau bukan gila. Dalam satu percakapannya dengan salah satu reporter TV, Elon Musk menjelaskan bahwa salah satu kebutuhan manusia yang paling dasar adalah berpindah/bergerak. Itulah sebabnya ia berusaha menciptakan suatu moda transportasi yang dapat menjawab kebutuhan ini dengan cepat.

Elon Musk benar. Kita butuh berpindah. Segala sesuatu yang dapat bertahan ditengah perubahan zaman adalah sesuatu yang sifatnya mudah untuk berpindah mengikuti si pemiliknya. Zaman dahulu, telepon rumah adalah alat yang tidak bisa dipindahkan atau setidaknya sulit. Dimana telepon sekarang? Saya tidak bilang punah, tapi menjelang ajal. Telepon rumah sudah kalah oleh telepon genggam. Zaman dulu ketika peperangan terjadi, manusia akan berlindung dibalik gundukan tanah yang dibuat sedemikian rupa sehingga dapat menghindari peluru dari lawan. Zaman sekarang, kita semua kenal alat pertahanan yang dapat berpindah kemanapun dia suka, namanya Tank. Coba lihat benda disekelilingmu, pasti ada versi portablenya. Dari mulai meja, kursi, gelas, lampu, charger, kompor, wifi atau apapun itu semuanya memiliki versi yang dapat dipindahkan.

Apa hubungannya dengan hidup kekristenan kita? Coba tanyakan kepada diri sendiri, dimanakah iman kita saat ini? Seringkali kita hidup dengan iman yang tidak bisa dipindahkan. Maksudnya apa? Maksudnya adalah iman itu hanya terlihat ketika kita berada di 4 tembok gereja, atau komsel, atau pertemuan apapun itu yang bersifat rohani. Ketika kita berada disana, iman terasa begitu jelas. Akan tetapi, ketika masuk menghadapi kenyataan hidup yang sesungguhnya dalam pergumulan sehari-hari kita, kita hidup seolah-olah tanpa iman. Iman kita ditinggal di gereja.

Percuma kita memiliki iman kalau iman kita tidak bisa berpindah mengikuti kemanapun kita pergi, dan berfungsi untuk menghadapi apa yang sedang kita hadapi.  Itulah mengapa pada ayat diatas Tuhan mempertanyakan ‘lokasi’ iman dari murid-muridNya. Murid-murid menghadapi masalah dan bertindak seolah-olah iman mereka tertinggal entah dimana. Sama dengan murid-muridNya, masalah-masalah sebenarnya berada dalam keseharian kita, bukan dalam dua jam acara gereja. Saat-saat dimana sepertnya Tuhan sedang ‘tertidur’. Pada saat seperti itu sebetulnya kualitas iman kita terlihat, apakah iman kita iman yang portable atau iman yang hanya ada di gereja.

Saya berdoa kita menjadi orang-orang kristen yang dikenal sebagai orang-orang yang beriman karena kita tahu bahwa iman kita bersama-sama dengan kita kemanapun Tuhan perintahkan untuk kita pergi, apapun situasi yang Tuhan izinkan kita lewati.

 

Dari WaTT coffee kemang sambil menunggu macet,

 

Binsargideon

 

 

Posted in Bergaul dengan Tuhan | Tagged | Leave a comment

17

Loren_Flaherty_17-500x500

Tanpa membuka Alkitab, coba katakan Yohanes 3:16. Apapun yang baru saja terucap dari bibir anda, saya yakin anda mengatakannya dengan benar atau setidaknya hampir mendekati benar. Sekarang, tanpa membuka Alkitab juga, coba katakan ayat selanjutnya;ayat 17. Saya yakin beberapa dari anda (jika anda jujur) lupa akan ayat ini. Ayatnya berbunyi seperti ini:

Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. (Yohanes 3:17 TB)

Ayat 16 menceritakan betapa dalamnya kasih Allah akan setiap kita, sehingga Ia mengaruniakan AnakNya yang tunggal supaya kita dapat beroleh hidup kekal. Ayat 17, disisi yang lain adalah tindakan yang Allah lakukan sebagai pembuktian akan kasihNya kepada kita. Allah mengutus Yesus sebagai pionir dalam proyek keselamatan umat manusia yang Ia kerjakan.

Pada zaman kerajaan, utusan adalah mereka yang pergi kemana raja mengirimkan mereka untuk pergi dan menyampaikan apa yang menjadi pesan raja. Pagi ini ketika saya membaca ayat tersebut, Roh Kudus seperti berbicara kepada saya dan berkata bahwa Allah yang sama yang mengutus Yesus, mengutus kita bukan untuk menghakimi melainkan pergi untuk memberitakan berita keselamatan. Kita semua ini adalah utusan-utusan Allah.

Seringkali (dengan alasan apapun) kita adalah utusan Allah yang pasif dan bisu dalam menyampaikan apa yang seharusnya kita sampaikan. Kadang-kadang semuanya diperparah dengan ‘penghakiman terselubung’ yang kita lakukan. Sudah pasif, menghakimi pula. Allah tidak ingin kita menghakimi orang lain. Sebaliknya, Allah ingin kita menyampaikan berita keselamatan kepada mereka yang secara tidak sadar seringkali kita hakimi. Ijinkan saya bertanya dua pertanyaan sederhana, Kapan terakhir kali anda menghakimi? dan kapan terakhir kali anda menginjili?

Saya berdoa, kita semua sadar dan tahu bahwa kita dipanggil untuk pergi dan memberitakan Injil, bukan untuk menghakimi.

Dari kamar hotel yang dingin di Makassar,

Binsargideon

Posted in Bergaul dengan Tuhan | Tagged , | Leave a comment

Terakhir

the-last.word_

Sedang mereka melemparinya Stefanus berdoa, katanya: “Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku.” Sambil berlutut ia berseru dengan suara nyaring: “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!” Dan dengan perkataan itu meninggallah ia(Kis 7:59-60 TB)

Baru-baru ini kita dikagetkan oleh aksi bom bunuh diri yang meledak di Kampung Melayu. Bom ini meledak hanya berjarak hitungan hari dari meledaknya bom di Inggris tepatnya di Manchester. Bom diledakkan pada di akhir konser dari seorang wanita yang sedang digandurungi oleh jutaan manusia di seluruh dunia. Satu bom meledak di tengah kesibukan jam pulang kebanyakan orang, satu bom meledak meledak ditengah kebahagiaan orang. Bom meledak. Nyawa melayang. Saya turut berdukacita untuk setiap keluarga yang harus kehilangan anggota keluarganya secara tiba-tiba dan menggenaskan.

Fakta ini mengingatkan kita semua bahwa kapanpun, dimanapun, bagaimanapun, baik cepat atau lambat, kita akan menghembuskan nafas terakhir disaat-saat yang mungkin tidak pernah kita duga. Satu hal yang menarik mengenai kematian seseorang adalah perkataan apa yang terakhir kali diucapkan sebelum pribadi tersebut meninggal dunia. Kita tidak pernah bisa menjaga waktu kematian kita, tetapi kita bisa menjaga perkataan terakhir kita.

Ada banyak perkataan terakhir dari tokoh Alkitab yang sempat dicatat oleh penulis Alkitab. Rahel dengan kepahitannya, Musa dengan berkatnya, Imam Eli dengan keterkejutannnya. Simson dengan permintaannya, Saul dengan bunuh dirinya, Yesus dengan penyerahan diriNya, penjahat disamping Yesus dengan pertobatannya, Ananias dan Safira dengan penipuannya, Paulus dengan keberaniannya, Stefanus dengan pengampunannya, dan masih banyak lagi tokoh lainnya. Apa yang mereka katakan adalah akumulasi dari perkataan-perkataan selama kehidupan mereka.

Begitu penting untuk setiap kita untuk mengatakan hal-hal yang membangun baik untuk kehidupan kita maupun untuk kehidupan orang lain. Coba renungkan, apa yang baru saja anda katakan? Apakah itu membangun atau merobohkan? Seringkali kita mengatakan dan membicarakan hal-hal yang sia-sia atas atas dasar ‘cuma’. “Gw kan cuma bercanda”, “Lo lebay banget sih”, “Ini normal bro, semua orang juga begini.” Ini adalah kumpulan pembenaran diri dari orang-orang yang tidak pernah sadar akan betapa pentingnya menjaga perkataan mereka. Percayalah, lidah itu lebih tajam daripada pisau. Apakah kita suka melihat orang bercanda dengan pisau? Jika kita tahu betapa bahayanya bercanda dengan pisau, apalagi dengan perkataan kita. Berhenti berkata sia-sia, kotor, kutuk, dan perkataan-perkataan lain yang tidak berguna. Sebaliknya, alirkan kehidupan lewat setiap perkataan yang Tuhan ijinkan untuk kita katakan.

Setiap kali kita berkata-kata, bayangkan bahwa itu mungkin jadi perkataan kita yang terakhir. Pastikan itu adalah sesuatu yang akan membangun mereka yang mendengarnya.

Dari bawah AC kamar mama,

Binsargideon

Posted in Bergaul dengan Tuhan | Tagged | Leave a comment

Pelihara

Ronaldo

Dan Malaikat TUHAN menampakkan diri kepada perempuan itu dan berfirman kepadanya, demikian: “Memang engkau mandul, tidak beranak, tetapi engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki. Oleh sebab itu, PELIHARALAH DIRIMU, jangan minum anggur atau minuman yang memabukkan dan jangan makan sesuatu yang haram. (Hakim-Hakim 13:3-4 TB)

Ayat diatas adalah sebuah perintah yang diberikan oleh Malaikat Tuhan kepada ibu dari Samson. Sebuah perintah untuk memelihara dirinya. Tuhan memberi janji kepada ibu Samson, tapi Tuhan mau dalam prosesnya, ia harus memelihara dirinya.

Allah memelihara diri kita adalah sebuah sisi. Kita memelihara diri kita, adalah sisi yang lain. Seringkali kita tidak memelihara diri kita dengan baik. Memelihara diri kita dari apa? Memelihara diri kita dari pengaruh dunia yang semakin hari semakin aneh. Paulus menulis kepada jemaat di Efesus sebuah perintah yang dia katakan dan tegaskan secara bersamaan.

Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka……..Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus. (Efesus 4:17-20 TB)

Paulus dengan jelas menulis bahwa kita ini berbeda. Kita berbeda dari dunia. Jangan hidup seperti dunia hidup. Semua itu berbalik kepada keputusan-keputusan di setiap saat dalam kehidupan kita. Ingat, keputusan setiap saat bukan keputusan satu kali. Saya tidak bilang apa yang dunia tawarkan itu tidak nikmat, tapi belajar untuk berkata tidak untuk setiap pengaruh dunia. Kita memang hidup di dunia tapi kita bukan hidup dari dunia. Kita hidup dari Firman Allah. Firman yang salah satunya memerintahkan kita untuk memelihara diri kita.

Buat pembaca yang suka sepakbola pasti mengenal nama Cristiano Ronaldo, sesosok penyerang yang saat ini di usianya yang sudah menginjak usia 32 tahun masih bertanding di level tertinggi (beberapa minggu lagi ia akan bertanding membela Real Madrid di final liga champions dan berpeluang menjadi tim pertama yang berhasil memepertahankan gelar liga champions di era modern). Semua orang tahu bagaimana disiplinnya Ronaldo dalam menjaga hidupnya sebagai atlet. Mundur ke belakang, jika anda seorang penyuka Manchester United, maka anda akan tahu bahwa Ronaldo adalah mantan pemain Manchester United dan ia datang ke Manchester United bersama dengan Nani dan Anderson. 3 orang ini berusia relatif sama dan datang ke klub sebesar Manchester United di usia yang muda. Mereka juga bahu-membahu membantu Manchester United meraih piala liga champions ketiganya pada tahun 2008. Pertanyannya dimana Nani dan Anderson sekarang? Beberapa mungkin tahu Nani bermain di Valencia, akan tetapi, saya yakin anda tidak akan tahu dimana Anderson bermain saat ini (kecuali anda mencari di wikipedia). Bagaimana mungkin pada usia emasnya, mereka memiliki nasib yang berbeda. Rumor mengatakan, Anderson memiliki masalah dalam menjaga nafsu makannya, berkali-kali ia memakan fast food di malam hari (sesuatu yang sangat terlarang untuk atlet). Sebagai hasilnya, Anderson bermasalah dengan berat badannya. Anderson gagal memelihara dirinya.

Cerita panjang barusan adalah gambaran betapa pentingnya memelihara diri sendiri. Mengapa kita perlu memelihara diri kita? Karena hidup kita bukan untuk kita sendiri, melainkan untuk melihat tujuan Tuhan yang besar untuk hidup kita digenapi. Disisi yang lain kita ini adalah ‘atlet-atlet’ rohani yang sedang bertanding. Kita bukan bertanding untuk mahkota yang fana melainkan mahkota yang kekal. Jika mereka saja yang bertanding untuk piala yang sifatnya sementara memelihara diri begitu rupa, apalagi kita yang bertanding untuk piala yang kekal.

Tuhan itu punya janji dalam hidupmu. Sama seperti Ibu Samson yang berubah dari wanita mandul menjadi wanita yang melahirkan anak yang membawa kelepasan bagi bangsa Israel, demikian juga Tuhan mau pakai hidupmu secara luar biasa dan mejadi berkat bagi orang-orang di sekitarmu. Please, pelihara dirimu.

Selamat memelihara diri sendiri.

Dari saint cinammon setiabudi,

BinsarGideon

 

Posted in Bergaul dengan Tuhan | Tagged , | Leave a comment

Alkisah

download.png

Tulisan ini untuk bukan untuk kalangan sendiri. Tulisan ini ditulis oleh kalangan sendiri. Bukan kalangan sendiri dari segi suku, agama, atau ras tertentu, melainkan oleh kalangan yang masih sendiri. Alias kalangan jomblo. Oke cukup sampai disini aja perkenalannya, sebelum jadi cerita curhat.

Saya mau cerita. Bukan sekedar cerita. Saya mau cerita dan saya harap anda menebak siapa yang lagi saya ceritakan. Jika anda berhasil menebak, saya bangga sama anda. Jika anda gagal menebak, saya bangga sama diri saya sendiri. Yang penting saya sudah bangga dulu.

Dicerita ini ada beberapa nama tokoh yang fiktif dan aneh (dengan tujuan supaya semakin membingungkan) yaitu:

1.kopitubrukanberuntun
2. greentealatte
3. wedangrondeketigasudahKO
4. airminumaslipegununganyangsedangmeletus
5. tehtawarmenawarsampemurahbangetsampeyangngejualstress

Ceritanya seperti ini.

Alkisah ada seorang (sebut saja namanya si kopitubrukanberuntun) yang karena suatu hal bergabung dengan sebuah bangsa lain (kita sebutlah nama bangsa lain ini bangsa polytron *mucul titiek puspa sambil bilang, “cintailah produk-produk dalam negeri*). Bangsa polytron memiliki pemimpin yang sangat disegani dan dihormati di seluruh dunia (sebut saja namanya greentealatte). Nah, karena si kopitibrukanberuntun ini pintar dan berprestasi, dia terpilih menjadi salah satu pemimpin di bangsa polytron. Semenjak jadi pemimpin, si kopitubrukanberuntun ini begitu berprestasi dan berhasil merombak berbagai sistem yang ada di bangsa polytron. Mulailah bangsa polytron menyadari bahwa ada orang asing yang setulus hati dan jiwa mau membantu bangsa polytron. Akhirnya, si greentealatte ini menyadari bahwa ia harus mengangkat si kopitabrakanberuntun menjadi wakilnya langsung. Masalahnya adalah, di sekitar greentealatte terlalu banyak orang yang gak suka dengan dengan si kopitabrakanberuntun.

Siapakah si kopitabrakanberuntun? Kalau masih gak yakin, lanjutkan ceritanya…

Siasatpun dibuat oleh orang-orang yang gak suka (kita sebut saja namanya wedangrondeketigasudahKO, airminumaslipegununganyangsedangmeletus, tehtawarmenawarsampemurahbangetsampeyangngejualstress, dan lain-lain).

Akhirnya dibuatlah sebuah hukum, sebuah hukum yang berkaitan dengan agama. Disisi lain, hukum ini sangat besar kemungkinannya akan dilanggar oleh si kopitabrakanberuntun. Hukum-pun dibuat dan disetujui. Pelanggaran hukum akan berakibat masuk penjara yang mengerikan.

Seperti yang sudah kita prediksi, si kopitabrakanberuntun ini melanggar hukum tersebut. Melihat pelanggaran tersebut, wedangrondeketigasudahKO, airminumaslipegununganyangsedangmeletus, tehtawarmenawarsampemurahbangetsampeyangngejualstress, dan lain-lain segera menuntut si kopitabrakan beruntun harus masuk penjara. Melihat kenyataan ini greentealatte-pun stress, karena secara hati ia ingin menolong si kopitabrakanberuntun tapi ia tidak mau melanggar hukum yang ada. Segala cara dicoba dan ternyata tetap tidak bisa. Kopitabrakanberuntun harus masuk penjara. Greentealatte sedih. sangat sedih. Tapi ia berkata, “tolong hormati hukum yang ada!!!”

Siapakah si kopitabrakanberuntun? Kalau masih gak yakin, lanjutkan ceritanya…

Akhirnya, tibalah harinya dimana kopitabrakanberuntun harus masuk penjara. Bangsa polytron berduka. Sebaliknya, wedangrondeketigasudahKO, airminumaslipegununganyangsedangmeletus, tehtawarmenawarsampemurahbangetsampeyangngejualstress, dan lain-lain malah berbahagia.

Cerita sampai disini.

Pertanyaannya, siapakah kopitabrakanberuntun? Jawaban anda sudah dikunci. Tidak bisa diganti.

Silakan scrollkebawah untuk jawabannya.

Jawabannya Daniel.

Tau gak cerita akhirnya Daniel gimana? Untung Daniel masuk penjara gua singa. Coba dia bebas. Alkitab kan jadi gak seru.

Cheers,

BinsarGideon

Posted in random stuff | Tagged | Leave a comment

ANEH.

ANEH

Menulis ini adalah sebuah gejolak batin. Saya pesimis bisa mencapai tujuan dari penulisan saya ini. Tapi saya ingin saja menulis karena saya tetap ingin optimis dalam setiap kepesimisan saya. Tulisan ini panjang. Sangat panjang. Seandainya ingin membaca silakan melanjutkan. Seandainya tidak, lebih baik berhenti disini. Besar kemungkinan setelah selesai membaca ini, kita akan merasa sia-sia akan waktu yang ada. Sekali lagi, lebih baik berhenti daripada melanjutkan.

Akhir-akhir ini.

Semua teriak-teriak ketidakadilan.
Semua teriak-teriak hak saya.
Semua teriak-teriak aksi balasan.
Semua teriak-teriak.
Semua.

KETIDAKADILAN

Mari berbicara ketidakadilan. Membahas ketidakadilan adalah membahas Yesus. Satu-satunya pribadi yang diperlakukan tidak adil adalah Yesus. Dia tidak berdosa malah dibuat menjadi dosa dan dihukum sampai mati. Mati dengan cara yang sangat tidak adil.

Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah. (2 kor 5:21 TB)

Siapa pelakunya? Kita. Orang-orang yang merasa paling adil di dunia.

Coba jawab jujur. Bersyukur gak Yesus diperlakukan tidak adil? Kalau berbicara ketidakadilan, seperti yang sudah saya tulis diatas kita adalah orang yang paling tidak adil dan tidak tahu diri. Sudah kita bunuh PribadiNya, masih kita minta keselamatan daripadaNya. Lalu apa poinnya? Poinnya adalah ketidakadilan adalah hal yang biasa.

Ada lagi yang kulihat di bawah matahari: di tempat pengadilan, di situpun terdapat ketidakadilan, dan di tempat keadilan, di situpun terdapat ketidakadilan. (Pengkhotbah 3:16 TB)

Akan tetapi, Tuhan bisa merubah ketidakadilan menjadi berkat buat kita, yang penting hati kita benar dihadapan Tuhan.

Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar. (Kejadian 50:20 TB)

Seandainya kita bisa menulis ulang Alkitab, apakah kita mau kisah Yusuf tanpa bagian dia dipenjara? Apakah kita mau kisah Daud tanpa dia di gua adulam? Apakah kita mau kisah Yohanes tanpa dia dipenggal oleh Herodes? Apakah kita mau Musa diinjinkan Tuhan masuk kedalam tanah perjanjian? Apakah kita mau bangsa Israel tidak dijajah di Mesir? Ini bukan masalah adil atau tidak ini masalah proses yang harus mereka lewati, dan kita bisa belajar lewat proses itu.

Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. (2 Tim 3:16)

Ahok pun sama, mungkin dia harus melewati proses ini. Kalaupun dia mau naik banding, kita menghargai keputusannya. Sama seperti di Paulus di Alkitab naik banding ketika dia harus menghadapi sidang demi sidang untuk mempertahankan imannya. Masalahnya apa yang kita lakukan dengan berteriak-teriak keadilan, jangan-jangan memotong proses Tuhan dalam hidup Ahok.

Menulis ini bukannya berarti saya takut atau pasif. Tidak sama sekali tidak. Saya berani, sangat berani, cuma akal saya selalu berkata, “Buat apa?” Petrus dalam keberaniannya menyandang pedang di taman getsemani. Bukan sekadar meyandang, ia mengayunkan pedangnya sehingga putuslah kuping hamba imam besar. Lalu Yesus bikin apa? Apakah Yesus memuji Petrus akan keberaniannya? Tidak. Alkitab mencatat bahwa Yesus menyambung kembali kuping yang diputuskan oleh Petrus. Yesus bahkan bertanya sebuah pertanyaan retoris kepada Petrus.

Maka kata Yesus kepadanya: “Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang. Atau kausangka, bahwa Aku tidak dapat berseru kepada Bapa-Ku, supaya Ia segera mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu Aku? (Mat 26: 52-53 TB)

Liat apa yang Yesus lakukan?

Buat Yesus yang penting adalah suatu kali hamba imam besar ini bisa memiliki telinga yang dapat membantunya mendengar Injil kebenaran. Betapa banyak persahabatan yang hancur hanya karena kita memilih untuk ‘memotong’ telinga mereka. Bagaimana kita mau membawa terang kalau kita yang menutup cahaya itu sendiri. Ketika kita melihat mereka? Apakah ada belas kasihan? atau ada rencana pembalasan?

AKSI BALASAN

Akhir-akhir ini diserukan aksi balasan dalam bentuk aksi damai. Saya sebetulnya kurang begitu setuju tentang opsi ini. Menurut saya semakin kita diam maka akan semakin baik (nanti saya jelaskan di bagian ‘strategi’). Mengapa saya kurang sreg dengan aksi balasan? Belajar dari Daud. Daud itu lari dari Saul, kenapa? Karena ada gadis-gadis muda yang gak terima ketika ada koor ibu-ibu yang memuji Saul. Mereka berbalas-balasan. Yang jadi korban Daud.

dan perempuan yang menari-nari itu menyanyi berbalas-balasan, katanya: “Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa.”Lalu bangkitlah amarah Saul dengan sangat; dan perkataan itu menyebalkan hatinya, sebab pikirnya: “Kepada Daud diperhitungkan mereka berlaksa-laksa, tetapi kepadaku diperhitungkannya beribu-ribu; akhir-akhirnya jabatan raja itupun jatuh kepadanya.” Sejak hari itu maka Saul selalu mendengki Daud. (1 Sam 18:7-9 TB)

Tahun 2012 ketika Jokowi menang pilgub DKI, semua (termasuk saya) menghina-hina Fauzi Bowo dengan segala bentuk tulisan dan gambar. Tahun 2014 ketika Jokowi naik Presiden berapa banyak gambar, tulisan yang menghina Prabowo. Sekarang Ahok masuk penjara, mulai keluar balasan dalam bentuk gambar dan tulisan yang menghina Ahok, bahkan sekarang sudah populer sebuah hashtag #salamduatahun. Buat yang gak terima Ahok dipenjara dua tahun mulai menyerang. Ini aneh banget. Saya pengen nulis, ini bodoh banget tapi terlalu kejam. Padahal ini bukan lagi aneh tapi bodoh. Tapi yasudahlah mari bilang ini aneh.

Waktu menang, kita menghina yang kalah. Waktu kita kalah kita tidak menerima yang menang. Waktu Ahok naik gubernur karena Jokowi menang, semua berlomba-lomba mengklaim ini rencana Tuhan. Waktu Ahok masuk penjara ini rencana siapa? Berani jawab ini rencana setan? Masak rencana Tuhan kalah sama rencana setan?

Kalau kita berbalas-balasan yang jadi korban siapa? Ahok. Jokowi. Bangsa Indonesia.

Lebih parah lagi, mau apa bangsa ini pecah? Mau ada Indonesia utara dan Indonesia selatan? Semakin kita berbalas-balasan semakin senang lah Iblis. Kita pikir mereka yang dipake Iblis, ternyata kita sendiri yang dipake. Coba perhatikan baik-baik. Kelompok A datang dengan baju merah, kelompok B datang dengan baju putih. Gabungan kita semua adalah Merah dan Putih. Ini bukan kebetulan. ini suatu tanda bahwa Iblis sedang merobek-robek kita. Iblis sedang memisahkan merah dari putih dan sebaliknya. Jangan biarkan ini terjadi.

Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan. (Roma 12 :19 TB)

HAK SAYA

Dulu waktu saya kecil saya sering berantem dengan saudara-saudara saya. Setiap kali orang tua saya tau maka yang kena omel adalah dua-duanya. Saat itu, sebagai pihak yang merasa benar saya selalu berpikir, “orang saya yang benar kenapa saya yang diomelin”. Bukankah hak saya adalah pembelaan dari orang tua saya? Akan tetapi, semakin dewasa saya, semakin saya sadar bahwa kesalahan saya adalah terprovokasi.

Dalam pertandingan sepakbola, sehebat apapun seorang pemain jika emosinya gampang tersulut maka dia adalah mangsa empuk buat lawannya. Pada final piala dunia 2006, Zidane terprovokasi oleh hinaan Materazzi, akibatnya ia menanduk Materazzi dan dia menerima kartu merah. Materazzi dan Italia pun senang karena akhirnya mereka menjadi juara. Yang terprovokasi Zidane, yang kalah 1 negara. Itu adalah efek dari terprovokasi.

Kalau kita terprovokasi maka yang hancur adalah negeri ini. Semakin kita terprovokasi maka iblis makin senang. Disinilah strategi iblis berjalan dengan sangat baik. Kita bukan melihat iblis sebagai musuh, malah kita melihat ‘mereka’ sebagai musuh. Padahal kita semua sangat familiar dengan ayat berikut ini:

karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. (Efesus 6:12 TB)

Jadi sesuatu yang terbuat dari darah dan daging. Sejahat apapun dia. Dia bukan musuh kita. Musuh kita itu tidak terlihat. Lihat dong betapa bangsa ini berusaha dihancurkan Iblis dari zaman penjajahan sampai hari ini. Iblis sadar dengan menggunakan kekuatan dari luar dia gak berhasil, makanya dia mau hancurkan dari dalam. Jadi stop menghina-hina dan berteriak-teriak yang malah memperkeruh suasana. Bangsa kita ini jago gerilya. Ayo peperangan melawan iblis dengan strategi senyap.

Apa itu strategi senyap?

Pada paragraf sebelum ini saya sudah memeberi gambaran akan siapa musuh kita sebenarnya. Semoga persepsi kita sama. Untuk melawan musuh yang tidak terlihat, maka kita harus menggunakan kekuatan persenjataan yang tidak terlihat.

Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus, (Efesus 6:13-18 TB)

Saya teringat kisah bagaimana bangsa Israel harus menghadapi kenyataan bahwa mereka akan dimusnahkan pada zaman Ester. Palu sudah diketok, kemusnahan sudah didepan mata. Lalu saya teringat juga akan kisah bangsa Niniwe yang sudah dalam agenda Tuhan untuk dihancurkan. Kali ini bukan manusia yang berencana tapi Tuhan sendiri yang memutuskan. Akan tetapi semua kita tahu bahwa akhirnya baik bangsa Israel dan bangsa niniwe selamat. Apa yang mereka lakukan?

Mereka berpuasa. Mereka memilih bertempur di alam roh dibanding di alam daging. Bagaimana bertempur di alam roh?

Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. (Matius 5:44 TB)

Sederhananya seperti ini (bisa variasikan sendiri) dan lakukan bersama-sama dengan group-group sosial media yang kita punya.

Senin. Perkatakan Firman dan berkat secara bersama-sama
Selasa. Lakukan kebaikan untuk 3 orang.
Rabu. Doa keliling. Ketika sedang diajalan dimobil dikantor mulai perkatakan semua hal yang positif buat bangsa Indonesia.
Kamis. Puasa.
Jumat. Siapkan 5 nasi bungkus. Bagikan kepada mereka yang kelaparan.
Sabtu. Siapkan waktu berdoa bersama dengan keluarga untuk bangsa ini
Minggu. Rayakan kemenangan minggu ini.

Tanpa agenda politik tanpa maksud apapun bahkan kalau bisa tanpa koar-koar di media. Dengan cara seperti ini. Kita sedang menabur firman dan kebenaran di bangsa ini. Stop berteriak-teriak. Ganti dengan dengan aksi senyap. Sesenyap mungkin, sampai digenapi apa yang Alkitab katakan:

Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya (Matius 24:14 TB)

NB: Makanya Gid jadi orang kristen jangan jadi Kristen sosial media. Mending jadi kristen Alkitabiah. Kelamaan di sosial media cuma masalah waktu jadi aneh. (Ngomong ke diri sendiri)

Cheers,

BinsarGideon

Posted in random stuff | Tagged , | 3 Comments

Telapak Tangan

palm-hand

Setelah itu ia berkata kepada bujangnya: “Naiklah ke atas, lihatlah ke arah laut.” Bujang itu naik ke atas, ia melihat dan berkata: “Tidak ada apa-apa.” Kata Elia: “Pergilah sekali lagi.” Demikianlah sampai tujuh kali. Pada ketujuh kalinya berkatalah bujang itu: “Wah, awan kecil sebesar telapak tangan timbul dari laut.” Lalu kata Elia: “Pergilah, katakan kepada Ahab: Pasang keretamu dan turunlah, jangan sampai engkau terhalang oleh  (1 Raja-raja 18:43-44 TB)

Akhirnya ngeblog!!! April ini adalah bulan yang sangat-sangat sibuk buat saya secara pribadi. Begitu banyak kesibukan dari mulai urusan kerjaan, acara kantor, acara gereja, dan urusan sekolah. Rasa-rasanya pikiran saya semacet dan sepenuh antrian mobil dari cawang menuju pancoran. Begitu banyak hal yang ingin saya tulis tapi sepertinya waktu tidak mengijinkan. Sebenarnya sih saya tidak sesibuk itu, tapi saya sering buang-buang waktu di social media yang biasanya saya sesali pada akhirnya.

Anyway, beberapa hari terakhir ini Tuhan membawa pikiran saya untuk mempelajari suatu kisah di perjanjian lama yang terjadi pada zaman nabi Elia. Zaman itu tidak ada hujan selama 3,5 tahun yang berakibat kekeringan dan kelaparan yang begitu hebat. Singkat cerita, Tuhan berkehendak mengirimkan hujan kepada bangsa Israel dan Elia sudah menyadarinya. Menyadari akan apa yang Tuhan akan lakukan, Elia naik ke puncak gunung karmel dan berdoa. Setelah selesai berdoa, Elia memerintahkan bujangnya untuk naik ke atas dan melihat ke arah laut. Enam kali bujangnya Elia bolak-balik melihat dan tidak menemukan apapun. Namun, pada usaha yang ketujuh bujangnya melihat awan yang sebesar telapak tangan. Buat bujang tersebut, ini tidak berarti apa-apa, tetapi buat Elia itu adalah tanda dari Tuhan dimana hujan lebat akan turun. Tidak lama kemudian hujan yang begitu lebat turun dan membasahi tanah Israel. Buat bujanganya itu hanya awan sebesar telapak tangan, buat Elia itu adalah tanda hujan yang begitu besar yang Tuhan sedang kirimkan.

Ketika kita dalam kekeringan atau kesusahan seringkali mata kita dibutakan oleh beratnya persoalan. Akan tetapi, justru pada saat-saat seperti itu Tuhan sedang menguji mata iman kita. Berhati-hatilah karena ketika masalah terlihat begitu besar maka tanda dari Tuhan biasanya terlihat begitu kecil. Setiap kali kita memasuki/melewati masa-masa kekeringan, belajar untuk memperhatikan lebih lagi. Perhatikan dengan seksama apa yang selama ini kita anggap biasa atau mungkin kebiasaan. Biasanya, lewat hal yang terlihat kecil itu, Tuhan sedang mempersiapkan hujan berkat yang besar. Kuncinya adalah kepekaan dan kemampuan kita untuk melihat dengan cara Tuhan melihat

Coba berhenti sejenak ditengah masa kekeringan hidup kita dan lihat apa yang terlihat hanya sebesar telapak tangan alias begitu kecil dan tidak berarti. Mungkin itu keahlian kita yang masi sangat dasar, atau bahkan mungkin itu jam-jam doa kita. Orang mungkin berkata itu tidak berguna dan tidak menolong tetapi percaya itu adalah tanda dari Tuhan bahwa terobosan sudah didepan mata. Sebaliknya, jika memang belum terlihat, jangan berhenti untuk melihat. Ingat, pada enam usaha pertamanya, bujang tersebut belum melihat apa-apa. Jika memang tandanya belum terlihat bukan berati tanda itu tidak pernah ada; terus saja berusaha untuk melihat sampai tanda tersebut benar-benar terlihat.

Belajar untuk melihat dengan cara Tuhan melihat.

Cheers,

Binsargideon

Posted in Bergaul dengan Tuhan | Tagged , , , | Leave a comment

Speculoos

crunchy-cookie-butter

Ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu; ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk; (Pengkhotbah 3:5 TB)

Saya sangat menyukai speculoos. Bahkan menurut saya, ini adalah salah satu penemuan terbaik manusia di zaman modern. Buat kamu yang tidak tahu speculoos, kamu harus bertobat dan segera mencari kebenaran tentang apa itu speculoos. Speculoos awalnya adalah biskuit yang dipanggang setiap kali perayaan Santo Nicholas di Belanda tapi pada tahun 2007 mulailah ada variasinya dalam bentuk selai (sok pintar padahal cuma baca wikipedia). Dirumah saya, seringkali roti tawar terlantar tanpa arah dan tujuan ketika speculoos habis. Sebaliknya, speculoos bisa berdiri dengan angkuh dan sombong walaupun tidak ada roti dirumah. Begitulah kira-kira rasa cinta saya terhadap speculoos. Saya ulangi sekali lagi, saya sangat menyukai speculoos. 

Saya ingat suatu hari saya terlibat perbincangan dengan adik perempuan saya yang baru mendarat di cina untuk melanjutkan studinya. Ditengah pembicaraan kami terselip sebuah percakapan yang sangat menyedihkan dan memilukan hati. Adik saya membawa satu toples speculoos didalam cabin luggagenya. Keputusan cerobohnya membuat speculoos tersebut harus terbuang percuma. Sedih. Sangat sedih. Insiden ini mengajarkan saya satu hal yang menarik. Tentu semua diawali dengan kekurangan informasi atau kecerobohan adik saya. Akan tetapi, ada pelajaran yang lebih dari itu semua. Pelajaran yang berkata bahwa dalam perjalanan hidup kita adalah hal yang harus kita let go bukan karena tidak mencintainya, melainkan ada tujuan yang harus kita tuju dan perjalanan menuju tujuan tersebut membuat kita harus melepaskan apa yang begitu kita cintai.

Mengapa speculoos tersebut harus ditinggalkan? Jawabannya sederhana, karena memiliki potensi untuk mebahayakan penumpang lainnya yang bersama dengan  kita (walaupun sampai Tuhan datang kedua kalinya saya tetap tidak akan bisa mengerti bagaimana mungkin selai tabur itu dapat menjadi begitu berbahaya). Sebetulnya kita juga punya pilihan untuk tidak jadi terbang dan menikmati selai tabur tersebut. Tapi kita semua tahu bahwa harga tiketnya jauh lebih mahal. Dan lebih dari itu semua kita punya negara tujuan yang harus kita tuju. Pilihannya terlihat mudah tapi sebetulnya itu adalah pergumulan kita sehari-hari.

Tiket perjalanan paling mahal yang pernah dibeli bukanlah tiket perjalanan ke luar angkasa yang sudah dinikmati oleh beberapa orang-orang super kaya di dunia. Tikett perjalan yang paling mahal adalah tiket perjalanan kita dengan Tuhan menuju panggilan Tuhan dalam hidup kita. Tiket ini begitu mahal karena harganya adalah seluruh sorga dan nyawa Yesus sendiri. Ketika kita tahu di tangan kita ada perjalanan yang begitu mahal, mengapa kita harus memilih mempertahankan sesuatu yang seharusnya tidak boleh kita bawa dalam perjalanan kita?

Dalam hidup saya, saya belajar untuk melepaskan begitu banyak hal bukan karena saya tidak mencintainya melainkan saya tahu apa yang saya pegang itu bisa berbahaya untuk perjalanan iman saya dan orang-orang di sekitar saya. Tidak sedikit yang mempertanyakan keputusan saya dan bahkan beberapa orang berkata saya gila, tidak sabar, tidak tahu rasa berterima kasih, atau bahkan tidak punya ambisi. Semua itu aneh buat mereka yang tidak tahu seberapa mahal tiket perjalanan saya dengan Tuhan yang ada di tangan saya.

Mungkin saat ini ada hal yang kita tahu bahwa ada hal yang Tuhan minta untuk kita lepaskan untuk kita bisa berjalan dalam tujuan Tuhan. Mungkin itu pengampunan, mungkin itu kesombongan, mungkin itu hubungan, mungkin itu harta, mungkin itu jabatan, mungkin itu hobi, mungkin itu ketergantungan, mungkin ini mungkin itu. LET IT GO.

Mengapa penting untuk LET GO? karena kita tidak bisa berkata LET GOD sebelum kita berkata LET GO.

Dari meja starbucks kota kasablanka sambil menunggu macet jakarta,

Binsar Gideon

Posted in Bergaul dengan Tuhan | Tagged , | Leave a comment

Aku, Ahok, Anies, dan Asuransi

timthumb.php

“Gid, asuransi gw ditutup aja deh trus pindah aja ke elo.” Perkataan ini adalah perkataan yang sering saya dengar setelah saya selesai menjelaskan asuransi yang saya punya kepada calon nasabah saya. Mendengar perkataan tersebut, nafsu saya selalu berkata “yaud tutup aja, lumayan komisi didepan mata” tapi hati saya akan berkata “lebih baik jangan ditutup”. Semua asuransi pada dasarnya bagus asal digunakan dengan porsi dan tujuan yang tepat, yang membedakan asuransi satu dengan yang lain adalah besarnya manfaat yang diberikan oleh asuransi bukan dijanjikan oleh agennya.

Ketika melihat satu asuransi yang menurut saya kurang baik, maka saya akan mencoba untuk memperbaiki asuransinya tanpa menutup asuransinya. Kalau kita membeli asuransi hanya karena ada yang lebih bagus, maka setiap saat kita akan menutup polis kita dan membuka asuransi yang baru karena produk akan terus berubah. Langkah yang benar adalah memperbaiki asuransi yang ada dan menambah (jika budgetnya ada) dengan asuransi yang baru. Saya paling tidak suka ada agen asuransi yang berjualan dengan cara menjelek-jelekan produk lain apalagi berusaha menutup produk yang sudah dimiliki oleh nasabah. Sangat tidak berkelas. Sangat.

Mari lompat ke Pilkada DKI.

Pemilihan gubernur DKI didepan mata. Wajah Indonesia secara umum akan dipantulkan oleh apa yang terjadi di Ibukota kita tercinta. Situasi begitu panas; saking panasnya bisnis microwave diprediksi akan segera bangkrut. Pertarungan antara Ahok dan Anies dan mereka yang berada di belakang dua kandidat ini sungguh menarik untuk diikuti. Menurut saya, pilkada DKI harus dilihat dengan kacamata persaingan dari 2 pasangan yang memiliki gagasan yang baik untuk DKI.

Waktunya membahas Ahok dan Anies.

Ahok.

Pandji (jubir dari kubu Anies) pernah menulis di blognya

Pandji1

Dari tulisan diatas kita bisa sadar bahwa Ahok ini punya kinerja yang bagus. Satu hal yang harus kita harus pahami Ahok ini kinerjanya tidak sempurna, karena kesempurnaan itu milik Tuhan. Bahkan kalaupun Ahok menjabat gubernur DKI sampai selama-lamanya kita akan tetap bisa menemukan kekurangannya. Ahok ini gubernur pertama yang kinerjanya (kalau saya boleh jujur) saya rasakan secara langsung. Ahok ini memperjuangkan sila ke 5 ‘keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia’ padahal dia sering kali diperlakukan tidak adil. Banyak orang ribut-ribut ketika dia menggusur orang-orang yang tinggal dibantaran kali dan diatas tanah negara, sedikit yang berterima kasih ketika banjir sudah berkurang secara signifikan. Berbicara mengenai gusur-menggusur, saya hanya penasaran terhadap orang-orang yang rumahnya digusur itu, seandainya ada orang yang tidak mereka kenal tiba-tiba tidur dirumah mereka tanpa izin, apakah akan mereka usir, atau mereka carikan rumah alternatif sama seperti Ahok yang mempersiapkan rusun untuk mereka.

Anies.

Bagaimana dengan Anies? Anies ini datang dengan gagasan-gagasan yang ajaib dan luar biasa. Dari mulai rencana rumah (belakangan kita tahu ternyata rumah susun) berDP 0 sampai pembangun ‘Jakarta Mental Institute’ untuk mengurangi angka bunuh diri di jakarta. Banyak orang yang mencoba menghina ambisi-ambisi ini karena melihat kemustahilannya. Lalu bagaimana dengan saya? Menurut saya, walaupun terkesan sangat mustahil, kenapa juga harus dihina, toh mereka sedang jualan dan berusaha untuk memimpin jakarta. Anies memiliki gagasan yang baik dan bagus, lalu apakah mereka akan melakukannya jika nanti terpilih? saya tidak tahu tetapi saya juga tidak mau pesimis terlebih dahulu. Siapa tahu memang mereka benar-benar bisa melakukannya. Walapun masih sekadar ‘siapa tahu’.

Lalu apa hubungannya dengan pilkada dan asuransi? Mari saya jelaskan tapi tanpa kopi ala bang denny. Asuransi itu terus berubah, karena perusahaan akan terus menerus merubah produknya untuk menggaet lebih banyak nasabah. Setiap kali ada produk asuransi baru yang ditawarkan, jangan terbawa nafsu untuk mengganti karena sesuatu yang ‘terlihat’ lebih baik dari yang kita punya belum tentu kita butuhkan sekarang, selama kita tahu yang kita punya sudah baik. Cobalah terlebih dahulu untuk memaksimalkan apa yang sudah kita punya. Hal yang paling bodoh adalah ketika kita terburu nafasu dalam membeli asuransi hanya karena janji dari sang agen bukan perjanjian yang berupa kontrak dari asuransi. Janji suci pernikahan saja masih bisa dikhinati apalagi janji agen dan janji kampanye dari calon gubernur. Sekedar informasi yang tentu kita semua sudah tahu, janji dan perjanjian itu beda.

Pilihan saya.

Buat saya tidak ada yang salah dengan Anies. Akan tetapi, Anies adalah salah satu pilihan nanti ketika saya sudah tidak bisa memilih Ahok dan itupun saya masih akan menilai apa yang akan ditampilkan oleh pesaing Anies. Saya sudah memiliki yang baik mengapa saya harus berjudi dengan sesuatu yang masih terlihat baik. Dua-duanya baik, hanya Ahok sudah terlihat kinerjanya. Kinerja Anies sebagai mentri pendidikan juga baik, hanya saja kita sedang memilih calon gubernur DKI. Kalau hari ini pemilihan calon mentri pendidikan sudah pasti saya akan pilih Anies. Lebih baik saya lebih aktif untuk memberikan Ahok masukan dibanding saya harus mengganti Ahok. Orang jahat saja layak diberi kesempatan kedua, apalagi orang baik.

Mengharapkan Ahok sempurna itu seperti mengharapkan Tuhan menjadi tidak sempurna.

Walaupun saya mendukung Ahok, saya akan tetap welcome seandainya Anies yang memenangkan pilkada kali ini. Siapapun yang menang harus kita hargai dan yakini bahwa mereka adalah pilihan Tuhan. Lagipula, siapapun gubernur yang nantinya terpilih, kalau saya buang sampah sembarangan maka Jakarta akan tetap banjir. Buat saya yang penting adalah apakah anda sudah berasuransi atau belum? Kalau sudah, saya siap membantu mereview polis anda. Kalau belum, ayok bertemu untuk saya jelaskan. Dijamin tidak akan menyesal. #tetepusahajualan

Dari meja Sint Cinnamon Setiabudi,

Binsargideon

Posted in random stuff | Leave a comment