Pelihara

Ronaldo

Dan Malaikat TUHAN menampakkan diri kepada perempuan itu dan berfirman kepadanya, demikian: “Memang engkau mandul, tidak beranak, tetapi engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki. Oleh sebab itu, PELIHARALAH DIRIMU, jangan minum anggur atau minuman yang memabukkan dan jangan makan sesuatu yang haram. (Hakim-Hakim 13:3-4 TB)

Ayat diatas adalah sebuah perintah yang diberikan oleh Malaikat Tuhan kepada ibu dari Samson. Sebuah perintah untuk memelihara dirinya. Tuhan memberi janji kepada ibu Samson, tapi Tuhan mau dalam prosesnya, ia harus memelihara dirinya.

Allah memelihara diri kita adalah sebuah sisi. Kita memelihara diri kita, adalah sisi yang lain. Seringkali kita tidak memelihara diri kita dengan baik. Memelihara diri kita dari apa? Memelihara diri kita dari pengaruh dunia yang semakin hari semakin aneh. Paulus menulis kepada jemaat di Efesus sebuah perintah yang dia katakan dan tegaskan secara bersamaan.

Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka……..Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus. (Efesus 4:17-20 TB)

Paulus dengan jelas menulis bahwa kita ini berbeda. Kita berbeda dari dunia. Jangan hidup seperti dunia hidup. Semua itu berbalik kepada keputusan-keputusan di setiap saat dalam kehidupan kita. Ingat, keputusan setiap saat bukan keputusan satu kali. Saya tidak bilang apa yang dunia tawarkan itu tidak nikmat, tapi belajar untuk berkata tidak untuk setiap pengaruh dunia. Kita memang hidup di dunia tapi kita bukan hidup dari dunia. Kita hidup dari Firman Allah. Firman yang salah satunya memerintahkan kita untuk memelihara diri kita.

Buat pembaca yang suka sepakbola pasti mengenal nama Cristiano Ronaldo, sesosok penyerang yang saat ini di usianya yang sudah menginjak usia 32 tahun masih bertanding di level tertinggi (beberapa minggu lagi ia akan bertanding membela Real Madrid di final liga champions dan berpeluang menjadi tim pertama yang berhasil memepertahankan gelar liga champions di era modern). Semua orang tahu bagaimana disiplinnya Ronaldo dalam menjaga hidupnya sebagai atlet. Mundur ke belakang, jika anda seorang penyuka Manchester United, maka anda akan tahu bahwa Ronaldo adalah mantan pemain Manchester United dan ia datang ke Manchester United bersama dengan Nani dan Anderson. 3 orang ini berusia relatif sama dan datang ke klub sebesar Manchester United di usia yang muda. Mereka juga bahu-membahu membantu Manchester United meraih piala liga champions ketiganya pada tahun 2008. Pertanyannya dimana Nani dan Anderson sekarang? Beberapa mungkin tahu Nani bermain di Valencia, akan tetapi, saya yakin anda tidak akan tahu dimana Anderson bermain saat ini (kecuali anda mencari di wikipedia). Bagaimana mungkin pada usia emasnya, mereka memiliki nasib yang berbeda. Rumor mengatakan, Anderson memiliki masalah dalam menjaga nafsu makannya, berkali-kali ia memakan fast food di malam hari (sesuatu yang sangat terlarang untuk atlet). Sebagai hasilnya, Anderson bermasalah dengan berat badannya. Anderson gagal memelihara dirinya.

Cerita panjang barusan adalah gambaran betapa pentingnya memelihara diri sendiri. Mengapa kita perlu memelihara diri kita? Karena hidup kita bukan untuk kita sendiri, melainkan untuk melihat tujuan Tuhan yang besar untuk hidup kita digenapi. Disisi yang lain kita ini adalah ‘atlet-atlet’ rohani yang sedang bertanding. Kita bukan bertanding untuk mahkota yang fana melainkan mahkota yang kekal. Jika mereka saja yang bertanding untuk piala yang sifatnya sementara memelihara diri begitu rupa, apalagi kita yang bertanding untuk piala yang kekal.

Tuhan itu punya janji dalam hidupmu. Sama seperti Ibu Samson yang berubah dari wanita mandul menjadi wanita yang melahirkan anak yang membawa kelepasan bagi bangsa Israel, demikian juga Tuhan mau pakai hidupmu secara luar biasa dan mejadi berkat bagi orang-orang di sekitarmu. Please, pelihara dirimu.

Selamat memelihara diri sendiri.

Dari saint cinammon setiabudi,

BinsarGideon

 

Posted in Bergaul dengan Tuhan | Tagged , | Leave a comment

Alkisah

download.png

Tulisan ini untuk bukan untuk kalangan sendiri. Tulisan ini ditulis oleh kalangan sendiri. Bukan kalangan sendiri dari segi suku, agama, atau ras tertentu, melainkan oleh kalangan yang masih sendiri. Alias kalangan jomblo. Oke cukup sampai disini aja perkenalannya, sebelum jadi cerita curhat.

Saya mau cerita. Bukan sekedar cerita. Saya mau cerita dan saya harap anda menebak siapa yang lagi saya ceritakan. Jika anda berhasil menebak, saya bangga sama anda. Jika anda gagal menebak, saya bangga sama diri saya sendiri. Yang penting saya sudah bangga dulu.

Dicerita ini ada beberapa nama tokoh yang fiktif dan aneh (dengan tujuan supaya semakin membingungkan) yaitu:

1.kopitubrukanberuntun
2. greentealatte
3. wedangrondeketigasudahKO
4. airminumaslipegununganyangsedangmeletus
5. tehtawarmenawarsampemurahbangetsampeyangngejualstress

Ceritanya seperti ini.

Alkisah ada seorang (sebut saja namanya si kopitubrukanberuntun) yang karena suatu hal bergabung dengan sebuah bangsa lain (kita sebutlah nama bangsa lain ini bangsa polytron *mucul titiek puspa sambil bilang, “cintailah produk-produk dalam negeri*). Bangsa polytron memiliki pemimpin yang sangat disegani dan dihormati di seluruh dunia (sebut saja namanya greentealatte). Nah, karena si kopitibrukanberuntun ini pintar dan berprestasi, dia terpilih menjadi salah satu pemimpin di bangsa polytron. Semenjak jadi pemimpin, si kopitubrukanberuntun ini begitu berprestasi dan berhasil merombak berbagai sistem yang ada di bangsa polytron. Mulailah bangsa polytron menyadari bahwa ada orang asing yang setulus hati dan jiwa mau membantu bangsa polytron. Akhirnya, si greentealatte ini menyadari bahwa ia harus mengangkat si kopitabrakanberuntun menjadi wakilnya langsung. Masalahnya adalah, di sekitar greentealatte terlalu banyak orang yang gak suka dengan dengan si kopitabrakanberuntun.

Siapakah si kopitabrakanberuntun? Kalau masih gak yakin, lanjutkan ceritanya…

Siasatpun dibuat oleh orang-orang yang gak suka (kita sebut saja namanya wedangrondeketigasudahKO, airminumaslipegununganyangsedangmeletus, tehtawarmenawarsampemurahbangetsampeyangngejualstress, dan lain-lain).

Akhirnya dibuatlah sebuah hukum, sebuah hukum yang berkaitan dengan agama. Disisi lain, hukum ini sangat besar kemungkinannya akan dilanggar oleh si kopitabrakanberuntun. Hukum-pun dibuat dan disetujui. Pelanggaran hukum akan berakibat masuk penjara yang mengerikan.

Seperti yang sudah kita prediksi, si kopitabrakanberuntun ini melanggar hukum tersebut. Melihat pelanggaran tersebut, wedangrondeketigasudahKO, airminumaslipegununganyangsedangmeletus, tehtawarmenawarsampemurahbangetsampeyangngejualstress, dan lain-lain segera menuntut si kopitabrakan beruntun harus masuk penjara. Melihat kenyataan ini greentealatte-pun stress, karena secara hati ia ingin menolong si kopitabrakanberuntun tapi ia tidak mau melanggar hukum yang ada. Segala cara dicoba dan ternyata tetap tidak bisa. Kopitabrakanberuntun harus masuk penjara. Greentealatte sedih. sangat sedih. Tapi ia berkata, “tolong hormati hukum yang ada!!!”

Siapakah si kopitabrakanberuntun? Kalau masih gak yakin, lanjutkan ceritanya…

Akhirnya, tibalah harinya dimana kopitabrakanberuntun harus masuk penjara. Bangsa polytron berduka. Sebaliknya, wedangrondeketigasudahKO, airminumaslipegununganyangsedangmeletus, tehtawarmenawarsampemurahbangetsampeyangngejualstress, dan lain-lain malah berbahagia.

Cerita sampai disini.

Pertanyaannya, siapakah kopitabrakanberuntun? Jawaban anda sudah dikunci. Tidak bisa diganti.

Silakan scrollkebawah untuk jawabannya.

Jawabannya Daniel.

Tau gak cerita akhirnya Daniel gimana? Untung Daniel masuk penjara gua singa. Coba dia bebas. Alkitab kan jadi gak seru.

Cheers,

BinsarGideon

Posted in random stuff | Tagged | Leave a comment

ANEH.

ANEH

Menulis ini adalah sebuah gejolak batin. Saya pesimis bisa mencapai tujuan dari penulisan saya ini. Tapi saya ingin saja menulis karena saya tetap ingin optimis dalam setiap kepesimisan saya. Tulisan ini panjang. Sangat panjang. Seandainya ingin membaca silakan melanjutkan. Seandainya tidak, lebih baik berhenti disini. Besar kemungkinan setelah selesai membaca ini, kita akan merasa sia-sia akan waktu yang ada. Sekali lagi, lebih baik berhenti daripada melanjutkan.

Akhir-akhir ini.

Semua teriak-teriak ketidakadilan.
Semua teriak-teriak hak saya.
Semua teriak-teriak aksi balasan.
Semua teriak-teriak.
Semua.

KETIDAKADILAN

Mari berbicara ketidakadilan. Membahas ketidakadilan adalah membahas Yesus. Satu-satunya pribadi yang diperlakukan tidak adil adalah Yesus. Dia tidak berdosa malah dibuat menjadi dosa dan dihukum sampai mati. Mati dengan cara yang sangat tidak adil.

Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah. (2 kor 5:21 TB)

Siapa pelakunya? Kita. Orang-orang yang merasa paling adil di dunia.

Coba jawab jujur. Bersyukur gak Yesus diperlakukan tidak adil? Kalau berbicara ketidakadilan, seperti yang sudah saya tulis diatas kita adalah orang yang paling tidak adil dan tidak tahu diri. Sudah kita bunuh PribadiNya, masih kita minta keselamatan daripadaNya. Lalu apa poinnya? Poinnya adalah ketidakadilan adalah hal yang biasa.

Ada lagi yang kulihat di bawah matahari: di tempat pengadilan, di situpun terdapat ketidakadilan, dan di tempat keadilan, di situpun terdapat ketidakadilan. (Pengkhotbah 3:16 TB)

Akan tetapi, Tuhan bisa merubah ketidakadilan menjadi berkat buat kita, yang penting hati kita benar dihadapan Tuhan.

Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar. (Kejadian 50:20 TB)

Seandainya kita bisa menulis ulang Alkitab, apakah kita mau kisah Yusuf tanpa bagian dia dipenjara? Apakah kita mau kisah Daud tanpa dia di gua adulam? Apakah kita mau kisah Yohanes tanpa dia dipenggal oleh Herodes? Apakah kita mau Musa diinjinkan Tuhan masuk kedalam tanah perjanjian? Apakah kita mau bangsa Israel tidak dijajah di Mesir? Ini bukan masalah adil atau tidak ini masalah proses yang harus mereka lewati, dan kita bisa belajar lewat proses itu.

Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. (2 Tim 3:16)

Ahok pun sama, mungkin dia harus melewati proses ini. Kalaupun dia mau naik banding, kita menghargai keputusannya. Sama seperti di Paulus di Alkitab naik banding ketika dia harus menghadapi sidang demi sidang untuk mempertahankan imannya. Masalahnya apa yang kita lakukan dengan berteriak-teriak keadilan, jangan-jangan memotong proses Tuhan dalam hidup Ahok.

Menulis ini bukannya berarti saya takut atau pasif. Tidak sama sekali tidak. Saya berani, sangat berani, cuma akal saya selalu berkata, “Buat apa?” Petrus dalam keberaniannya menyandang pedang di taman getsemani. Bukan sekadar meyandang, ia mengayunkan pedangnya sehingga putuslah kuping hamba imam besar. Lalu Yesus bikin apa? Apakah Yesus memuji Petrus akan keberaniannya? Tidak. Alkitab mencatat bahwa Yesus menyambung kembali kuping yang diputuskan oleh Petrus. Yesus bahkan bertanya sebuah pertanyaan retoris kepada Petrus.

Maka kata Yesus kepadanya: “Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang. Atau kausangka, bahwa Aku tidak dapat berseru kepada Bapa-Ku, supaya Ia segera mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu Aku? (Mat 26: 52-53 TB)

Liat apa yang Yesus lakukan?

Buat Yesus yang penting adalah suatu kali hamba imam besar ini bisa memiliki telinga yang dapat membantunya mendengar Injil kebenaran. Betapa banyak persahabatan yang hancur hanya karena kita memilih untuk ‘memotong’ telinga mereka. Bagaimana kita mau membawa terang kalau kita yang menutup cahaya itu sendiri. Ketika kita melihat mereka? Apakah ada belas kasihan? atau ada rencana pembalasan?

AKSI BALASAN

Akhir-akhir ini diserukan aksi balasan dalam bentuk aksi damai. Saya sebetulnya kurang begitu setuju tentang opsi ini. Menurut saya semakin kita diam maka akan semakin baik (nanti saya jelaskan di bagian ‘strategi’). Mengapa saya kurang sreg dengan aksi balasan? Belajar dari Daud. Daud itu lari dari Saul, kenapa? Karena ada gadis-gadis muda yang gak terima ketika ada koor ibu-ibu yang memuji Saul. Mereka berbalas-balasan. Yang jadi korban Daud.

dan perempuan yang menari-nari itu menyanyi berbalas-balasan, katanya: “Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa.”Lalu bangkitlah amarah Saul dengan sangat; dan perkataan itu menyebalkan hatinya, sebab pikirnya: “Kepada Daud diperhitungkan mereka berlaksa-laksa, tetapi kepadaku diperhitungkannya beribu-ribu; akhir-akhirnya jabatan raja itupun jatuh kepadanya.” Sejak hari itu maka Saul selalu mendengki Daud. (1 Sam 18:7-9 TB)

Tahun 2012 ketika Jokowi menang pilgub DKI, semua (termasuk saya) menghina-hina Fauzi Bowo dengan segala bentuk tulisan dan gambar. Tahun 2014 ketika Jokowi naik Presiden berapa banyak gambar, tulisan yang menghina Prabowo. Sekarang Ahok masuk penjara, mulai keluar balasan dalam bentuk gambar dan tulisan yang menghina Ahok, bahkan sekarang sudah populer sebuah hashtag #salamduatahun. Buat yang gak terima Ahok dipenjara dua tahun mulai menyerang. Ini aneh banget. Saya pengen nulis, ini bodoh banget tapi terlalu kejam. Padahal ini bukan lagi aneh tapi bodoh. Tapi yasudahlah mari bilang ini aneh.

Waktu menang, kita menghina yang kalah. Waktu kita kalah kita tidak menerima yang menang. Waktu Ahok naik gubernur karena Jokowi menang, semua berlomba-lomba mengklaim ini rencana Tuhan. Waktu Ahok masuk penjara ini rencana siapa? Berani jawab ini rencana setan? Masak rencana Tuhan kalah sama rencana setan?

Kalau kita berbalas-balasan yang jadi korban siapa? Ahok. Jokowi. Bangsa Indonesia.

Lebih parah lagi, mau apa bangsa ini pecah? Mau ada Indonesia utara dan Indonesia selatan? Semakin kita berbalas-balasan semakin senang lah Iblis. Kita pikir mereka yang dipake Iblis, ternyata kita sendiri yang dipake. Coba perhatikan baik-baik. Kelompok A datang dengan baju merah, kelompok B datang dengan baju putih. Gabungan kita semua adalah Merah dan Putih. Ini bukan kebetulan. ini suatu tanda bahwa Iblis sedang merobek-robek kita. Iblis sedang memisahkan merah dari putih dan sebaliknya. Jangan biarkan ini terjadi.

Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan. (Roma 12 :19 TB)

HAK SAYA

Dulu waktu saya kecil saya sering berantem dengan saudara-saudara saya. Setiap kali orang tua saya tau maka yang kena omel adalah dua-duanya. Saat itu, sebagai pihak yang merasa benar saya selalu berpikir, “orang saya yang benar kenapa saya yang diomelin”. Bukankah hak saya adalah pembelaan dari orang tua saya? Akan tetapi, semakin dewasa saya, semakin saya sadar bahwa kesalahan saya adalah terprovokasi.

Dalam pertandingan sepakbola, sehebat apapun seorang pemain jika emosinya gampang tersulut maka dia adalah mangsa empuk buat lawannya. Pada final piala dunia 2006, Zidane terprovokasi oleh hinaan Materazzi, akibatnya ia menanduk Materazzi dan dia menerima kartu merah. Materazzi dan Italia pun senang karena akhirnya mereka menjadi juara. Yang terprovokasi Zidane, yang kalah 1 negara. Itu adalah efek dari terprovokasi.

Kalau kita terprovokasi maka yang hancur adalah negeri ini. Semakin kita terprovokasi maka iblis makin senang. Disinilah strategi iblis berjalan dengan sangat baik. Kita bukan melihat iblis sebagai musuh, malah kita melihat ‘mereka’ sebagai musuh. Padahal kita semua sangat familiar dengan ayat berikut ini:

karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. (Efesus 6:12 TB)

Jadi sesuatu yang terbuat dari darah dan daging. Sejahat apapun dia. Dia bukan musuh kita. Musuh kita itu tidak terlihat. Lihat dong betapa bangsa ini berusaha dihancurkan Iblis dari zaman penjajahan sampai hari ini. Iblis sadar dengan menggunakan kekuatan dari luar dia gak berhasil, makanya dia mau hancurkan dari dalam. Jadi stop menghina-hina dan berteriak-teriak yang malah memperkeruh suasana. Bangsa kita ini jago gerilya. Ayo peperangan melawan iblis dengan strategi senyap.

Apa itu strategi senyap?

Pada paragraf sebelum ini saya sudah memeberi gambaran akan siapa musuh kita sebenarnya. Semoga persepsi kita sama. Untuk melawan musuh yang tidak terlihat, maka kita harus menggunakan kekuatan persenjataan yang tidak terlihat.

Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus, (Efesus 6:13-18 TB)

Saya teringat kisah bagaimana bangsa Israel harus menghadapi kenyataan bahwa mereka akan dimusnahkan pada zaman Ester. Palu sudah diketok, kemusnahan sudah didepan mata. Lalu saya teringat juga akan kisah bangsa Niniwe yang sudah dalam agenda Tuhan untuk dihancurkan. Kali ini bukan manusia yang berencana tapi Tuhan sendiri yang memutuskan. Akan tetapi semua kita tahu bahwa akhirnya baik bangsa Israel dan bangsa niniwe selamat. Apa yang mereka lakukan?

Mereka berpuasa. Mereka memilih bertempur di alam roh dibanding di alam daging. Bagaimana bertempur di alam roh?

Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. (Matius 5:44 TB)

Sederhananya seperti ini (bisa variasikan sendiri) dan lakukan bersama-sama dengan group-group sosial media yang kita punya.

Senin. Perkatakan Firman dan berkat secara bersama-sama
Selasa. Lakukan kebaikan untuk 3 orang.
Rabu. Doa keliling. Ketika sedang diajalan dimobil dikantor mulai perkatakan semua hal yang positif buat bangsa Indonesia.
Kamis. Puasa.
Jumat. Siapkan 5 nasi bungkus. Bagikan kepada mereka yang kelaparan.
Sabtu. Siapkan waktu berdoa bersama dengan keluarga untuk bangsa ini
Minggu. Rayakan kemenangan minggu ini.

Tanpa agenda politik tanpa maksud apapun bahkan kalau bisa tanpa koar-koar di media. Dengan cara seperti ini. Kita sedang menabur firman dan kebenaran di bangsa ini. Stop berteriak-teriak. Ganti dengan dengan aksi senyap. Sesenyap mungkin, sampai digenapi apa yang Alkitab katakan:

Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya (Matius 24:14 TB)

NB: Makanya Gid jadi orang kristen jangan jadi Kristen sosial media. Mending jadi kristen Alkitabiah. Kelamaan di sosial media cuma masalah waktu jadi aneh. (Ngomong ke diri sendiri)

Cheers,

BinsarGideon

Posted in random stuff | Tagged , | 3 Comments

Telapak Tangan

palm-hand

Setelah itu ia berkata kepada bujangnya: “Naiklah ke atas, lihatlah ke arah laut.” Bujang itu naik ke atas, ia melihat dan berkata: “Tidak ada apa-apa.” Kata Elia: “Pergilah sekali lagi.” Demikianlah sampai tujuh kali. Pada ketujuh kalinya berkatalah bujang itu: “Wah, awan kecil sebesar telapak tangan timbul dari laut.” Lalu kata Elia: “Pergilah, katakan kepada Ahab: Pasang keretamu dan turunlah, jangan sampai engkau terhalang oleh  (1 Raja-raja 18:43-44 TB)

Akhirnya ngeblog!!! April ini adalah bulan yang sangat-sangat sibuk buat saya secara pribadi. Begitu banyak kesibukan dari mulai urusan kerjaan, acara kantor, acara gereja, dan urusan sekolah. Rasa-rasanya pikiran saya semacet dan sepenuh antrian mobil dari cawang menuju pancoran. Begitu banyak hal yang ingin saya tulis tapi sepertinya waktu tidak mengijinkan. Sebenarnya sih saya tidak sesibuk itu, tapi saya sering buang-buang waktu di social media yang biasanya saya sesali pada akhirnya.

Anyway, beberapa hari terakhir ini Tuhan membawa pikiran saya untuk mempelajari suatu kisah di perjanjian lama yang terjadi pada zaman nabi Elia. Zaman itu tidak ada hujan selama 3,5 tahun yang berakibat kekeringan dan kelaparan yang begitu hebat. Singkat cerita, Tuhan berkehendak mengirimkan hujan kepada bangsa Israel dan Elia sudah menyadarinya. Menyadari akan apa yang Tuhan akan lakukan, Elia naik ke puncak gunung karmel dan berdoa. Setelah selesai berdoa, Elia memerintahkan bujangnya untuk naik ke atas dan melihat ke arah laut. Enam kali bujangnya Elia bolak-balik melihat dan tidak menemukan apapun. Namun, pada usaha yang ketujuh bujangnya melihat awan yang sebesar telapak tangan. Buat bujang tersebut, ini tidak berarti apa-apa, tetapi buat Elia itu adalah tanda dari Tuhan dimana hujan lebat akan turun. Tidak lama kemudian hujan yang begitu lebat turun dan membasahi tanah Israel. Buat bujanganya itu hanya awan sebesar telapak tangan, buat Elia itu adalah tanda hujan yang begitu besar yang Tuhan sedang kirimkan.

Ketika kita dalam kekeringan atau kesusahan seringkali mata kita dibutakan oleh beratnya persoalan. Akan tetapi, justru pada saat-saat seperti itu Tuhan sedang menguji mata iman kita. Berhati-hatilah karena ketika masalah terlihat begitu besar maka tanda dari Tuhan biasanya terlihat begitu kecil. Setiap kali kita memasuki/melewati masa-masa kekeringan, belajar untuk memperhatikan lebih lagi. Perhatikan dengan seksama apa yang selama ini kita anggap biasa atau mungkin kebiasaan. Biasanya, lewat hal yang terlihat kecil itu, Tuhan sedang mempersiapkan hujan berkat yang besar. Kuncinya adalah kepekaan dan kemampuan kita untuk melihat dengan cara Tuhan melihat

Coba berhenti sejenak ditengah masa kekeringan hidup kita dan lihat apa yang terlihat hanya sebesar telapak tangan alias begitu kecil dan tidak berarti. Mungkin itu keahlian kita yang masi sangat dasar, atau bahkan mungkin itu jam-jam doa kita. Orang mungkin berkata itu tidak berguna dan tidak menolong tetapi percaya itu adalah tanda dari Tuhan bahwa terobosan sudah didepan mata. Sebaliknya, jika memang belum terlihat, jangan berhenti untuk melihat. Ingat, pada enam usaha pertamanya, bujang tersebut belum melihat apa-apa. Jika memang tandanya belum terlihat bukan berati tanda itu tidak pernah ada; terus saja berusaha untuk melihat sampai tanda tersebut benar-benar terlihat.

Belajar untuk melihat dengan cara Tuhan melihat.

Cheers,

Binsargideon

Posted in Bergaul dengan Tuhan | Tagged , , , | Leave a comment

Speculoos

crunchy-cookie-butter

Ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu; ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk; (Pengkhotbah 3:5 TB)

Saya sangat menyukai speculoos. Bahkan menurut saya, ini adalah salah satu penemuan terbaik manusia di zaman modern. Buat kamu yang tidak tahu speculoos, kamu harus bertobat dan segera mencari kebenaran tentang apa itu speculoos. Speculoos awalnya adalah biskuit yang dipanggang setiap kali perayaan Santo Nicholas di Belanda tapi pada tahun 2007 mulailah ada variasinya dalam bentuk selai (sok pintar padahal cuma baca wikipedia). Dirumah saya, seringkali roti tawar terlantar tanpa arah dan tujuan ketika speculoos habis. Sebaliknya, speculoos bisa berdiri dengan angkuh dan sombong walaupun tidak ada roti dirumah. Begitulah kira-kira rasa cinta saya terhadap speculoos. Saya ulangi sekali lagi, saya sangat menyukai speculoos. 

Saya ingat suatu hari saya terlibat perbincangan dengan adik perempuan saya yang baru mendarat di cina untuk melanjutkan studinya. Ditengah pembicaraan kami terselip sebuah percakapan yang sangat menyedihkan dan memilukan hati. Adik saya membawa satu toples speculoos didalam cabin luggagenya. Keputusan cerobohnya membuat speculoos tersebut harus terbuang percuma. Sedih. Sangat sedih. Insiden ini mengajarkan saya satu hal yang menarik. Tentu semua diawali dengan kekurangan informasi atau kecerobohan adik saya. Akan tetapi, ada pelajaran yang lebih dari itu semua. Pelajaran yang berkata bahwa dalam perjalanan hidup kita adalah hal yang harus kita let go bukan karena tidak mencintainya, melainkan ada tujuan yang harus kita tuju dan perjalanan menuju tujuan tersebut membuat kita harus melepaskan apa yang begitu kita cintai.

Mengapa speculoos tersebut harus ditinggalkan? Jawabannya sederhana, karena memiliki potensi untuk mebahayakan penumpang lainnya yang bersama dengan  kita (walaupun sampai Tuhan datang kedua kalinya saya tetap tidak akan bisa mengerti bagaimana mungkin selai tabur itu dapat menjadi begitu berbahaya). Sebetulnya kita juga punya pilihan untuk tidak jadi terbang dan menikmati selai tabur tersebut. Tapi kita semua tahu bahwa harga tiketnya jauh lebih mahal. Dan lebih dari itu semua kita punya negara tujuan yang harus kita tuju. Pilihannya terlihat mudah tapi sebetulnya itu adalah pergumulan kita sehari-hari.

Tiket perjalanan paling mahal yang pernah dibeli bukanlah tiket perjalanan ke luar angkasa yang sudah dinikmati oleh beberapa orang-orang super kaya di dunia. Tikett perjalan yang paling mahal adalah tiket perjalanan kita dengan Tuhan menuju panggilan Tuhan dalam hidup kita. Tiket ini begitu mahal karena harganya adalah seluruh sorga dan nyawa Yesus sendiri. Ketika kita tahu di tangan kita ada perjalanan yang begitu mahal, mengapa kita harus memilih mempertahankan sesuatu yang seharusnya tidak boleh kita bawa dalam perjalanan kita?

Dalam hidup saya, saya belajar untuk melepaskan begitu banyak hal bukan karena saya tidak mencintainya melainkan saya tahu apa yang saya pegang itu bisa berbahaya untuk perjalanan iman saya dan orang-orang di sekitar saya. Tidak sedikit yang mempertanyakan keputusan saya dan bahkan beberapa orang berkata saya gila, tidak sabar, tidak tahu rasa berterima kasih, atau bahkan tidak punya ambisi. Semua itu aneh buat mereka yang tidak tahu seberapa mahal tiket perjalanan saya dengan Tuhan yang ada di tangan saya.

Mungkin saat ini ada hal yang kita tahu bahwa ada hal yang Tuhan minta untuk kita lepaskan untuk kita bisa berjalan dalam tujuan Tuhan. Mungkin itu pengampunan, mungkin itu kesombongan, mungkin itu hubungan, mungkin itu harta, mungkin itu jabatan, mungkin itu hobi, mungkin itu ketergantungan, mungkin ini mungkin itu. LET IT GO.

Mengapa penting untuk LET GO? karena kita tidak bisa berkata LET GOD sebelum kita berkata LET GO.

Dari meja starbucks kota kasablanka sambil menunggu macet jakarta,

Binsar Gideon

Posted in Bergaul dengan Tuhan | Tagged , | Leave a comment

Aku, Ahok, Anies, dan Asuransi

timthumb.php

“Gid, asuransi gw ditutup aja deh trus pindah aja ke elo.” Perkataan ini adalah perkataan yang sering saya dengar setelah saya selesai menjelaskan asuransi yang saya punya kepada calon nasabah saya. Mendengar perkataan tersebut, nafsu saya selalu berkata “yaud tutup aja, lumayan komisi didepan mata” tapi hati saya akan berkata “lebih baik jangan ditutup”. Semua asuransi pada dasarnya bagus asal digunakan dengan porsi dan tujuan yang tepat, yang membedakan asuransi satu dengan yang lain adalah besarnya manfaat yang diberikan oleh asuransi bukan dijanjikan oleh agennya.

Ketika melihat satu asuransi yang menurut saya kurang baik, maka saya akan mencoba untuk memperbaiki asuransinya tanpa menutup asuransinya. Kalau kita membeli asuransi hanya karena ada yang lebih bagus, maka setiap saat kita akan menutup polis kita dan membuka asuransi yang baru karena produk akan terus berubah. Langkah yang benar adalah memperbaiki asuransi yang ada dan menambah (jika budgetnya ada) dengan asuransi yang baru. Saya paling tidak suka ada agen asuransi yang berjualan dengan cara menjelek-jelekan produk lain apalagi berusaha menutup produk yang sudah dimiliki oleh nasabah. Sangat tidak berkelas. Sangat.

Mari lompat ke Pilkada DKI.

Pemilihan gubernur DKI didepan mata. Wajah Indonesia secara umum akan dipantulkan oleh apa yang terjadi di Ibukota kita tercinta. Situasi begitu panas; saking panasnya bisnis microwave diprediksi akan segera bangkrut. Pertarungan antara Ahok dan Anies dan mereka yang berada di belakang dua kandidat ini sungguh menarik untuk diikuti. Menurut saya, pilkada DKI harus dilihat dengan kacamata persaingan dari 2 pasangan yang memiliki gagasan yang baik untuk DKI.

Waktunya membahas Ahok dan Anies.

Ahok.

Pandji (jubir dari kubu Anies) pernah menulis di blognya

Pandji1

Dari tulisan diatas kita bisa sadar bahwa Ahok ini punya kinerja yang bagus. Satu hal yang harus kita harus pahami Ahok ini kinerjanya tidak sempurna, karena kesempurnaan itu milik Tuhan. Bahkan kalaupun Ahok menjabat gubernur DKI sampai selama-lamanya kita akan tetap bisa menemukan kekurangannya. Ahok ini gubernur pertama yang kinerjanya (kalau saya boleh jujur) saya rasakan secara langsung. Ahok ini memperjuangkan sila ke 5 ‘keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia’ padahal dia sering kali diperlakukan tidak adil. Banyak orang ribut-ribut ketika dia menggusur orang-orang yang tinggal dibantaran kali dan diatas tanah negara, sedikit yang berterima kasih ketika banjir sudah berkurang secara signifikan. Berbicara mengenai gusur-menggusur, saya hanya penasaran terhadap orang-orang yang rumahnya digusur itu, seandainya ada orang yang tidak mereka kenal tiba-tiba tidur dirumah mereka tanpa izin, apakah akan mereka usir, atau mereka carikan rumah alternatif sama seperti Ahok yang mempersiapkan rusun untuk mereka.

Anies.

Bagaimana dengan Anies? Anies ini datang dengan gagasan-gagasan yang ajaib dan luar biasa. Dari mulai rencana rumah (belakangan kita tahu ternyata rumah susun) berDP 0 sampai pembangun ‘Jakarta Mental Institute’ untuk mengurangi angka bunuh diri di jakarta. Banyak orang yang mencoba menghina ambisi-ambisi ini karena melihat kemustahilannya. Lalu bagaimana dengan saya? Menurut saya, walaupun terkesan sangat mustahil, kenapa juga harus dihina, toh mereka sedang jualan dan berusaha untuk memimpin jakarta. Anies memiliki gagasan yang baik dan bagus, lalu apakah mereka akan melakukannya jika nanti terpilih? saya tidak tahu tetapi saya juga tidak mau pesimis terlebih dahulu. Siapa tahu memang mereka benar-benar bisa melakukannya. Walapun masih sekadar ‘siapa tahu’.

Lalu apa hubungannya dengan pilkada dan asuransi? Mari saya jelaskan tapi tanpa kopi ala bang denny. Asuransi itu terus berubah, karena perusahaan akan terus menerus merubah produknya untuk menggaet lebih banyak nasabah. Setiap kali ada produk asuransi baru yang ditawarkan, jangan terbawa nafsu untuk mengganti karena sesuatu yang ‘terlihat’ lebih baik dari yang kita punya belum tentu kita butuhkan sekarang, selama kita tahu yang kita punya sudah baik. Cobalah terlebih dahulu untuk memaksimalkan apa yang sudah kita punya. Hal yang paling bodoh adalah ketika kita terburu nafasu dalam membeli asuransi hanya karena janji dari sang agen bukan perjanjian yang berupa kontrak dari asuransi. Janji suci pernikahan saja masih bisa dikhinati apalagi janji agen dan janji kampanye dari calon gubernur. Sekedar informasi yang tentu kita semua sudah tahu, janji dan perjanjian itu beda.

Pilihan saya.

Buat saya tidak ada yang salah dengan Anies. Akan tetapi, Anies adalah salah satu pilihan nanti ketika saya sudah tidak bisa memilih Ahok dan itupun saya masih akan menilai apa yang akan ditampilkan oleh pesaing Anies. Saya sudah memiliki yang baik mengapa saya harus berjudi dengan sesuatu yang masih terlihat baik. Dua-duanya baik, hanya Ahok sudah terlihat kinerjanya. Kinerja Anies sebagai mentri pendidikan juga baik, hanya saja kita sedang memilih calon gubernur DKI. Kalau hari ini pemilihan calon mentri pendidikan sudah pasti saya akan pilih Anies. Lebih baik saya lebih aktif untuk memberikan Ahok masukan dibanding saya harus mengganti Ahok. Orang jahat saja layak diberi kesempatan kedua, apalagi orang baik.

Mengharapkan Ahok sempurna itu seperti mengharapkan Tuhan menjadi tidak sempurna.

Walaupun saya mendukung Ahok, saya akan tetap welcome seandainya Anies yang memenangkan pilkada kali ini. Siapapun yang menang harus kita hargai dan yakini bahwa mereka adalah pilihan Tuhan. Lagipula, siapapun gubernur yang nantinya terpilih, kalau saya buang sampah sembarangan maka Jakarta akan tetap banjir. Buat saya yang penting adalah apakah anda sudah berasuransi atau belum? Kalau sudah, saya siap membantu mereview polis anda. Kalau belum, ayok bertemu untuk saya jelaskan. Dijamin tidak akan menyesal. #tetepusahajualan

Dari meja Sint Cinnamon Setiabudi,

Binsargideon

Posted in random stuff | Leave a comment

Silence (Dimana Tuhan?)

SILENCE

Dari dalam kota terdengar rintihan orang-orang yang hampir mati dan jeritan orang-orang yang menderita luka, tetapi Allah tidak mengindahkan doa mereka. (Ayub 24:12 TB)

Atas rekomendasi teman saya, minggu lalu saya mengajak orang tua saya untuk menonton Silence. Film ini menceritakan perjuangan dari dua orang pastur katolik yang mencoba mencari pastur yang hilang di Jepang. Jepang pada saat itu begitu sadis dan keras terhadap agama katolik dan kekristenan. Mereka mencoba menghentikan pemberitaan Injil dengan cara apapun termasuk kekerasan yang diluar batas-batas kemanusiaan.

Inti dari film ini adalah pertanyaan dari manusia yang harus mengalami kekejaman yang begitu rupa akibat mempertahankan imannya. Mengapa Tuhan diam ketika anak-anakNya harus mengalami siksaan yang begitu mengerikan akibat percaya kepadaNya? Dimana Tuhan ketika panasnya air belerang membakar mereka yang memilih untuk setia kepadaNya? Satu dialog yang masih terngiang dalam pikiran saya adalah ketika Rodrigues berkata “Darah martir adalah benih daripada gereja”.

Pertanyaan “dimana Tuhan?” adalah pertanyaan yang begitu mudah terlontar ketika penderitaan begitu sulit dan rasa sakit seperti tidak memiliki ujung.

Dimana Tuhan ketika anak kecil diperkosa?

Dimana Tuhan ketika orang tua dibunuh?

Dimana Tuhan ketika saya dikhinati?

Sebenarnya pertanyaan ini harus kita tarik mundur lebih jauh.

Dimana Tuhan ketika Habel dibunuh?

Dimana Tuhan ketika Musa harus berlari meninggalkan Mesir?

Dimana Tuhan ketika Yohanes pembaptis dipenggal?

Dimana Tuhan ketika Yesus mati di kayu salib?

Jawabannya Tuhan ada disana. Tuhan ada disana ketika anak kecil diperkosa, Tuhan ada disana ketika orang tua dibunuh, Tuhan ada disana ketika kita dikhianati, Tuhan disana ketika Habel dibnuh, Tuhan ada disana ketika Musa harus berlari, Tuhan ada disana ketika Herodes memenggal kepala Yohanes Pembaptis, Tuhan ada disana ketika Yesus mati disalib. Mengapa Tuhan diam? Sejujurnya saya tidak mengerti.

Untuk bisa menilai suatu hal secara utuh dan adil maka kita harus bisa melihat seluruh aspek dari hal tersebut secara menyeluruh. Masalahnya adalah mustahil untuk kita bisa melihat rencana Tuhan secara keseluruhan. Hidup kita hanyalah sebuah kepingan puzzle dari rencana Tuhan yang maha besar untuk dunia ini. Bahkan kematian seseorang seringkali menjadi bagian dari rencana Tuhan untuk menggenapi rencanaNya yang lain.

Saya pernah mendengar cerita bagaimana sebuah desa di India bertobat setelah mereka menyiksa sebuah keluarga kristen dengan sangat sadis. Seluruh desa ini bertobat ketika mereka menyadari bahwa kematian tidak meruntuhkan iman keluarga tersebut. Kepala desa yang memimpin penyiksaaan tersebut mulai mencari tahu siapa sebenarnya Yesus yang dipercayai keluarga ini. Singkat cerita, kepala desa ini bertobat dan memimpin seluruh desanya bertobat. Cerita keluarga yang setia ini dituangkan dalam lagu I have decided to follow Jesus. Lagu ini dipakai oleh Billy Graham di berbagai KKR yang ia lakukan, dan menginspirasi jutaan orang menerima Yesus sebagai Tuhan dan JuruS’lamat. Baru-baru ini Hillsong mengaransemen ulang lagu ini dan menjadi berkat bagi mereka yang mendengarnya. Saya yakin masih ada rencana Tuhan yang lebih besar lagi terhadap kematian keluarga ini, bahkan mungkin yang akan terjadi setelah saya pribadi dipanggil pulang oleh Tuhan.

Sekali lagi, kita dipanggil untuk percaya lebih daripada untuk mengerti.

Sebetulnya pertanyaan ini juga pertanyaan yang menurut saya sedikit menyedihkan untuk Tuhan. Mengapa? Karena pertanyaaan ini seringkali terlontar ketika semuanya terlihat begitu menyedihkan. Pernahkan kita bertanya “Dimana Tuhan?” ketika semuanya berjalan dengan baik? Seringkali asosiasi kita tentang Tuhan menjadi begitu baik ketika semuanya terlihat baik. Kehadiran Tuhan menjadi sesuatu yang sifatnya yang situasional. Sementara Tuhan berkali-kali berjanji bahwa Ia tidak akan pernah meninggalkan kita. Baik kita mengerti atau tidak, Tuhan tetap ada disana. Bukan hanya sekedar ada, bahkan Ia berdiam didalam kita.

Saya berdoa supaya kita semua menjadi pribadi yang tidak gampang untuk mempertanyakan kehadiran Tuhan tetapi malah sebaliknya kita menjadi pribadi yang percaya penuh bahwa rencanaNya selalu yang terbaik untuk kita semua.

Starbucks kuningan city sambil ditemani lagu-lagu himne,

Binsar Gideon

Posted in Bergaul dengan Tuhan | Tagged , , | Leave a comment

Tantangan Multiplikasi (Book Review)

cam00754

Ini adalah tulisan paling tidak tahu diri sepanjang masa dan sepanjang jalan kenangan. Saya, seorang yang tidak pernah menulis buku dan jarang membaca buku mengomentari buku orang lain. Sebentar. Jangan salah pahami saya. Saya sedang memaksa diri saya untuk membaca setidaknya satu buku per bulan, dengan membuat satu kategori baru berjudul “book review” di blog saya, maka saya mau tidak mau harus membaca buku. Lebih daripada untuk mereview, tulisan saya di kategori ini lebih bertujuan untuk memastikan saya membaca buku.

Sebetulnya saya suka baca buku, sayangnya kebanyakan buku bagus tersedia dalam bahasa inggris. Berhubung bahasa inggris saya berada pada level perlu dikasihani, maka saya seringkali frustasi dan patah hati ketika membaca buku berbahasa inggris. Kesedihannya ibarat ditinggal mati anjing kesayangan setelah diputusin pacar seminggu menjelang lamaran. Sedih. Sangat sedih. Akan tetapi, itu tidak boleh menjadi alasan, karena sebetulnya banyak juga buku bagus berbahasa indonesia.

Gaya ulasan saya ini sangat tidak terstruktur dan cenderung suka-suka saya. Sama sekali tidak mengikuti pakem-pakem bagaimana seharusnya sebuah buku dibedah. Sekali lagi, tujuannya untuk memaksa diri saya membaca dan semoga bisa menjadi referensi buat pembaca yang sedang mencari buku untuk dibaca.

Buku pertama yang ingin saya ulas berjudul “Tantangan Multiplikasi” ditulis oleh Steve dan William Murrel (bapak dan anak) yang saya beli (biasanya minjem dan gak balik) dengan harga Rp. 90.000.

Buku ini dalam satu kata

“Kepemimpinan”

Lembar Demi Lembar

Pendapat dari Dave Ferguson (saya tidak kenal siapa dia) di sampul depan tentang buku ini sangat benar. Buku ini mendefinisikan ulang kepemimpinan. Buku ini mengupas tuntas kepemimpinan mulai dari membudayakan kepemimpinan, menemukan pemimpin, membangun pemimpin, sampai membangun pemimpin antar generasi. Banyak pemimpin yang bagus ketika ia memimpin, tetapi sedikit pemimpin yang bisa membangun pemimpin-pemimpin bagus yang juga melakukan hal yang sama. Jika kita ingin kepemimpinan kita berlangsung panjang bahkan ketika kita sudah tidak lagi memimpin maka buku ini wajib kita baca.

Ngomong-ngomong

Buku ini bukanlah sekadar teori-teori kepemimpinan. Buku ini adalah cerita hidup bagaimana jatuh bangun penulis yang membangun sebuah generasi kepemimpinan selama berpuluh-puluh tahun. Membaca buku ini akan menyadarkan kita bahwa penulis adalah seorang pelaku bukan konsultan. Lebih dari itu, buku ini mengajarkan kepemimpinan yang berdasarkan kebenaran yang hakiki yang adalah Firman Tuhan. Alkitab adalah sumber referensi terbaik untuk segala hal termasuk kepemimpinan.

Semua Harus Tau

Riwayat singkat dari penulis dapat kita jumpai dibagian halaman belakang buku. Saya tidak kenal penulis, tapi tau penulis. Saya membaca beberapa bukunya (100 tahun dari sekarang, wiki church, dan mungkin ada judul lain yang saya sudah lupa). Saya juga berencana untuk membaca bukunya yang mengupas hal-hal terkait parenting (pengen kawin mode on).
Satu hal yang saya suka dari penulis adalah gaya penulisannya. Saya tidak paham-paham amat mengenai jenis-jenis gaya penulisan tapi saya selalu menikmati gaya penulisan si penulis baik di buku ini maupun di buku-buku lainnya.
Buku yang saya baca adalah terjemahan bahasa indonesia dari versi aslinya yang berjudul “Multiplication Challenge”. Terjemahannya menurut saya baik dan tidak membuat saya geregetan akan kualitas terjemahan yang sering kali menghilangkan makna aslinya (pengalaman membaca beberapa buku terjemahan).

GR Momen

Satu-satunya hal yang membuai saya dibuku ini adalah ketika penulis menyarankan bahwa adalah baik untuk seorang pemimpin menulis dan mengelola blog. Saya tidak bilang saya mampu menulis, tapi setidaknya saya sudah mulai menulis.

Plak Momen

Membaca buku ini membuat pipi batin saya merah penuh tamparan. Bagian yang paling menampar saya adalah ketika penulis menulis, “Kemalasan dan kepemimpinan itu seperti air dan minyak. Keduanya tidak dapat bercampur. Kemalasan itu sepenuhnya berlawanan dengan kepemimpinan.” Saya ini malasnya ampun-ampunan.

Membayangkan saya berada dibawah asuhan langsung dari penulis maka besar kemungkinan saya akan dipecat dari teamnya di minggu-minggu pertama. Saya adalah pemimpin malas yang harus bertobat. Menunda-nunda adalah satu hal yang sangat saya benci dari diri saya sendiri. Saya sering menulis hal-hal yang harus saya kerjakan, dan setelah selesai menulis, saya malah membuang-buang waktu mengerjakan hal lain yang tidak penting. Seseorang pernah melihat daftar yang saya buat dan berkata, “Bro, seandainya lo kerjain dari pagi, mungkin semuanya sudah kelar.” Aku tobat ya Tuhan.

Kesimpulin (a)

Secara garis besar saya sangat merekomendasikan buku ini untuk kita semua yang mau menjadi pemimpin. Jangan lupa untuk menyiapkan stabilo untuk menebalkan bagian-bagian yang mungkin akan menampar kita kiri-kanan.

Selamat membaca.

Posted in Book Review | Tagged , , | 2 Comments

Betapa

build

Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi. Adakah sumber memancarkan air tawar dan air pahit dari mata air yang sama? (Yak 3:9-11 TB)

Hari minggu kemarin adalah hari dimana mentor saya membawakan Firman Tuhan dari atas mimbar. Seingat saya, sampai hari kamis (kalau ingatan saya masih berfungsi dengan benar) mentor saya masih mencari bahan untuk khotbah, akan tetapi, mendengar pesan Tuhan dari mimbar kemarin sangat mengena di telinga dan hati para pendengar. Khotbahnya sederhana dengan pembahasan yang sudah juga sering saya dengar tetapi tetap saja kalau Tuhan yang bekerja maka ceritanya akan tetap berbeda.

Saya tidak ingin membahas isi dari khotbahnya apalagi pengkhotbahnya. Saya ingin membahas tentang seorang anak muda yang menjadi alasan kita menyanyikan tembang lawas rohani pada hari minggu kemarin. Di akhir khotbahnya, mentor saya mengajak semua jemaat untuk menyanyikan lagu rohani lawas yang mungkin untuk kita yang baru bertobat terdengar asing di telinga. Untuk saya yang tumbuh di gereja saya sangat menikmati momen-momen dimana gereja masa kini menyanyikan lagu-lagu rohani zaman dahulu. Judul lagunya adalah “Betapa Hatiku”.

Betapa hatiku
Berterima kasih Tuhan
Kau mengasihiku
Kau memilikiku

Reff:
Hanya ini Tuhan persembahanku
Segenap hidupku, jiwa dan ragaku
S’bab tak kumiliki harta kekayaan
Yang cukup berarti tuk kupersembahkan

Hanya ini Tuhan permohonanku
Terimalah Tuhan persembahanku
Pakailah hidupku sebagai alatMu
Seumur hidupku

Suasana ketika lagu ini dinyanyikan terasa begitu luar biasa. Banyak air mata menetes. Bahkan jika hari itu ibadah dihadiri jutaan orang, mungkin pasukan orange harus dikerahkan karena Jakarta akan kebanjiran, dan disisi lain pabrik tissue akan mengalami kenaikan omset yang luar biasa. Maafkan saya yang agak lebay tetapi sejauh mata saya berkeliling semua orang sangat diberkati dan tersentuh.

Sebelum menyanyikan lagu ini, mentor saya memberitahukan bahwa alasannya memilih lagu ini disebabkan oleh seorang anak muda yang ketika pergi bersamanya di hari sebelum dia berkhotbah menyanyikan penggalan dari lagu ini. Ketika ia mendengar lagu ini, ia merasa bahwa lagu ini harus dinyanyikan ketika menutup khotbah. Sekarang bayangkan jika anak muda tersebut menyanyikan lagu lain yang tanpa makna, atau mungkin maknanya cenderung tidak jelas. Mungkin hal berbeda yang akan terjadi.

Anak muda ini tidak pernah tau bahwa sedikit penggalan lagu di waku yang begitu singkat ternyata menjadi berkat untuk ratusan orang yang menghadiri ibadah. Mungkin ada orang di ibadah tersebut yang imannya sedang lemah, mungkin juga ada orang yang sedang menjauh dari Tuhan, mungkin ada orang yang mulai mepertanyakan Tuhan. Akan tetapi, lewat lagu tersebut banyak hati yang diubahkan dan jiwa yang diteduhkan. Anak muda ini menjadi saluran berkat lewat sebuah penggalan pendek yang dia nyanyikan.

Hal yang sama juga berlaku  untuk kita.Bagaimana cara kita menggunakan mulut kita? Apa yang keluar dari mulut kita? Apakah hinaan, cercaan, makian, lagu putus asa, lagu kepahitan? atau sebaliknya semua yang sifatnya membangun. Sama seperti anak muda tersebut, kita tidak pernah tahu atau sadar bahwa ternyata ada saat-saat dimana (bahkan tanpa kita sadari) apa yang kita katakan adalah penentu apakah hidup orang yang mendengarnya akan dibangun atau semakin dihancurkan. Pilih apa yang keluar dari mulut kita dengan bijak.

Saya berdoa tidak ada dari kita yang berkata ‘cuma’. Semua yang ‘cuma’ cenderung percuma. Jangan habiskan hidup kita untuk sesuatu yang percuma. Pilih untuk selalu membangun hidup orang lain bukan menghancurkannya.

Dikamar dibawah hembusan Ac 1/2 PK,

 

Binsargideon

 

Posted in Bergaul dengan Tuhan | Tagged | Leave a comment

Tidak Dikasihi

rumb-unlovable-pic

Jawab orang itu: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Lukas 10:27 TB)

Khotbah di mimbar hari ini begitu mengena buat saya. Pesannya sederhana dan dibawakan oleh pengkhotbah yang tidak begitu favorit untuk saya pribadi. Saya suka gaya penulisannya (saya membaca beberapa bukunya dan sedang membaca buku terbarunya) tapi terakhir kali saya mendengar khotbahnya saya sedikit bosan. Tapi tidak dengan khotbahnya hari ini ketika ia membawakan cerita tentang orang Samaria yang baik hati.

Penggalan ayat diatas adalah kalimat yang diucapkan Yesus ketika seorang ahli Taurat yang mencobai Yesus menanyakan kepadanya tentang bagaimana cara untuk mendapatkan hidup yang kekal. Atas pertanyaan yang sederhana tapi menjebak ini, Yesus menceritakan sebuah perumpamaan tentang seorang Samaria yang baik hati. Semua kita (terutama yang pernah bersekolah minggu) pasti sudah cukup paham mengenai cerita ini. Orang Samaria ini menolong orang Yahudi yang setengah mati karena dirampok dan dihajar di perjalanan dari Yerusalem menuju Yerikho. Ada tiga orang yang melihat orang malang ini; Imam, orang Lewi, dan orang Samaria. Ketiga orang ini melihat masalah yang sama tapi hanya orang Samaria yang melihat dengan mata belas kasihan.

Penting sekali untuk kita mengerti status orang Samaria pada zaman ketika Yesus menceritakan cerita ini. Orang Samaria pada zaman itu adalah sekumpulan orang najis, tertolak, dihindari, dan dibenci oleh bangsa Yahudi. Ada sebuah kebencian yang berusia ratusan bahkan ribuan tahun yang sudah mengendap didarah orang Yahudi ketika melihat orang Samaria. Dalam konteks cerita ini, keputusan orang Samaria ini untuk menolong orang malang ini adalah keputusan yang membuat dirinya terjebak dalam resiko yang mengerikan karena jalan dari Yerusalem menuju Yerikho adalah jalanan yang berbahaya karena penuh dengan perampok. Saya tidak mau menyalahkan Orang Lewi dan Imam yang melewati orang malang ini karena mungkin saja mereka berpikir orang malang ini adalah orang yang sedang berpura-pura menjadi korban dan akan merampok siapapun yang mencoba menolongnya. Akan tetapi, bagaimana mungkin orang Samaria yang secara status dibenci, ditolak, dan bahkan tidak dikasihi ini mampu menjadi sebuah ukuran akan ‘mengasihi sesama’?

Yesus adalah gambaran dari orang Samaria yang baik hati tersebut dan kita yang dahulu adalah korban yang hampir mati akibat dosa yang menguasai kita sebelum kita bertobat. Sebetulnya kita bukan hampir mati melainkan kita sudah mati secara roh. Yesus mengambil segala resiko untuk turun ke dunia dan hidup dalam berbagai penolakan untuk menghampiri kita di lobang kebinasaan kita dan membayar semua yang diperlukan untuk membuat kita hidup kembali. Itulah makna kasih yang sesungguhnya.

Apa alasan kasih kita terhadap orang lain? Apakah karena mereka mengasihi kita? Apakah karena mereka melakukan apa yang kita inginkan? Bagaimana jika sebaliknya mereka membenci kita dan membuat kita hidup dalam banyak masalah? Kasih yang sudah kita rasakan dari Tuhan memampukan kita untuk mengasihi orang lain dengan cara yang benar. Kita mengasihi orang lain bukan karena orang tersebut mengasihi kita melainkan karena kita sudah terlebih dahulu dikasihi oleh Tuhan. Siapa orang lain itu? Mungkin mereka adalah orang yang membenci kita atau mungkin mereka adalah orang yang sekarang hidupnya ada dalam lobang kebinasaan. Orang-orang ini ada di sekitar kita. Keputusannya ada ditangan kita apakah kita akan terus melangkah dengan tidak peduli atau berhenti sejenak untuk mengekspresikan kasih Tuhan yang sudah terlebih dahulu kita rasakan kepada mereka.

Beberapa hari lagi kita akan memasuki momen valentine, sebuah momen dimana begitu banyak orang berlomba-lomba mengekspresikan kasih mereka. Handphone saya penuh dengan notifikasi dari berbagai aplikasi dari mulai gojek, tokopedia, zalora, grab, dan lain lain yang dimulai dengan kata “ekspresikan kasihmu dengan…..”. Aplikasi-aplikasi ini sesungguhnya sangat tidak sopan, harusnya mereka bertanya dulu kepada saya mengenai status dan perasaan saya sebelum beriklan (jadi sensi). Saya tidak anti valentine, saya suka valentine walaupun terkadang pahit (jadi curhat). Akan tetapi, saya ingin mengajak kita semua untuk mengambil momen ini untuk tidak sekadar mengekspresikan kasih hanya kepada mereka yang mengasihi kita melainkan juga kepada mereka yang membenci kita dan mereka yang hidup dalam lobang kebinasaan.

Happy Valentine guys.

Diatas meja makan, dibalik hujan,

Binsar Gideon

 

Posted in Bergaul dengan Tuhan | Tagged , , , | Leave a comment