Belenggu

article-1209405-0630369A000005DC-889_634x347

Salam dari padaku, Paulus. Salam ini kutulis dengan tanganku sendiri. Ingatlah akan belengguku. Kasih karunia menyertai kamu. (Kolose 4:18 TB, penekanan oleh saya)

Bacaan saya dalam minggu ini adalah surat dari Paulus kepada jemaat di Kolose. Jemaat di Kolose adalah jemaat yang hidup berteumbuh, berbuah, dan memberikan kabar gembira dalam hal pertumbuhan iman kepada rasul Paulus yang saat itu sedang dalam penjara. Terhadap jemaat model seperti ini, Paulus tidak menulis surat penuh dengan pujian, melainkan surat yang mengingatkan kembali bagaimana seharusnya mereka sebagai orang kristen yang percaya akan kematian Yesus, hidup. Surat ini (jika saya boleh meringkasnya secara pribadi) berisikan permintaan dari Paulus kepada mereka untuk hidup secara SERIUS dalam kekristenan mereka. Paulus ingin memastikan bahwa kematian dan kebangkitan Yesus terlihat nyata dalam kehidupan mereka. Surat ini juga berlaku untuk kita sebagai orang kristen yang bertumbuh dan berbuah.

Ayat terakhir dari surat ini menjadi menarik untuk saya pribadi karena Paulus mencoba mengingatkan mereka yang membaca suratnya bahwa ia sedang terbelenggu di penjara karena Kristus. Tentu mereka semua tahu bahwa Paulus sedang di penjara, tetapi Paulus menegaskan kembali akan belenggu yang sedang mengikatnya. Paulus mencoba mengirim pesan bahwa kehidupan setelah menerima Kristus bukanlah hidup yang mudah. Bukan saja tidak mudah, melainkan penuh tantangan. Sesuatu yang penuh dengan tantangan membutuhkan keseriusan.

Seringkali secara tidak sadar kita berpikir kekristenan adalah shortcut untuk semua masalah kita. Jika itu benar, maka murid-murid Yesus seharusnya mati dalam damai, akan tetapi ceritanya berbeda, mereka semua mati menggenaskan. Jika kita berpikir kekristenan hanya sekedar shortcut, maka kekristenan kita akan berakhir ketika masalah selesai dan dimulai kembali ketika masalah baru muncul. Kekristenan kita tidak berpusat kepada Kristus melainkan kepada masalah.

Ada banyak orang kristen yang secara tidak sadar menilai kematian Yesus adalah suatu hal yang biasa saja. Sesuatu yang mereka percayai tetapi tidak mereka seriusi. Memang kita berkata dengan mulut kita bahwa kita percaya, tetapi tindakan kita tidak menunujukkan bahwa kita percaya. Pilihan-pilihan kita dalam hidup menunjukkan hal yang merupakan kebalikan dari apa yang mulut kita kata katakan. Saya berdoa kita bukan seperti itu, jika ya, ayo kembali dan bertobat.

Pertanyaannya adalah bagaimana cara kita serius terhadap kehidupan kekristenan kita? Jawabannya sederhana, silakan membaca dan merenungkan surat kolose. Saya tidak sedang berusaha untuk menakuti-nakuti kita semua, melainkan saya ingin kita semua melihat kematian Yesus di kayu salib adalah sebuah karya yang luar biasa. Kita harus sadar bahwa cara kita hidup bukanlah cara hidup yang sembarangan melainkan sebuah kehidupan yang berpusat kepadaNya. Coba renungkan sejenenak dan lihat bagaimana kita menghabiskan bulan Januari yang baru saja kita lewati, apakah kita serius menjalaninya?

Jika Tuhan saja serius akan kehidupan kita sehingga Ia mati untuk kita, maka sudah seharusnya kita memandang serius kehidupan kita.

Sambil menunggu bihun goreng favorit (bihun goreng solaria) yang disajikan dengan cabe rawit iris dan kecap asin,

Binsargideon

Advertisements

About Gideon Sitorus

Love Live Learn Blog
This entry was posted in Bergaul dengan Tuhan and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s