Bintang-Nya

wise_men_1

Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem dan bertanya-tanya: “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.” (Mat 2:1-2 TB, penekanan oleh saya)

Tanpa terasa kita sudah memasuki akhir dari tahun 2017 yang juga berarti natal yang sudah didepan mata. Untuk saya pribadi, 2017 adalah tahun dimana saya akan menghadiri perayaan natal terbanyak. Natal dengan keluarga, gereja, teman pelayanan, sekolah, kantor, life group, dan masih banyak lagi. Mungkin ada sekitar 12 perayaan natal yang harus dihadiri selama Desember ini. Secara fisik memang sangat capek tapi begitulah Desember, selalu penuh dengan kemeriahan natal.

Akan teteapi, jikalau kita tidak hati-hati, maka sebetulnya natal bisa menjadi sekadar acara tahunan yang kita rayakan di akhir tahun. Padahal natal yang sesungguhnya adalah sebuah momen dimana Tuhan turun ke dunia dalam rupa manusia untuk bisa menebus dosa-dosa kita. Tuhan datang untuk memberi kegembiraan, bukan kegembiraan yang hanya terbatas akan berkat jasmani, melainkan kegembiraan karena Raja segala raja telah datang ke dunia dan melepaskan kita dari perbudakan dosa yang membelenggu kita.

Kemarin saya membaca kisah natal yang ditulis dalam Injil Matius dan ketika membacanya, ayat tersebut seperti keluar dan berbicara banyak kedalam hidup saya. Dalam kisah natal itu, diceritakan bahwa ada sekelompok orang majus yang melihat bintang-Nya dan mengikutinya sehingga bertemu dengan bayi Yesus di Betlehem. Setelah bertemu dengan bayi Yesus, mereka sujud menyembah dan mempersembahkan persembahan berupa emas, kemenyan, dan mur. Mereka melihat bintang, tetapi mereka tahu bahwa bintang itu bukan untuk disembah. Mereka tahu bahwa Yesus saja yang layak disembah.

Dalam perjalanan kita bertemu dengan Tuhan pasti ada “bintang” yang menjadi penunjuk jalan. Buat sebagian dari kita bintang tersebut mungkin berkat, kesembuhan, keluarga, promosi atau sesuatu hal yang luar biasa. Buat sebagian yang lain, mungkin “bintang” tersebut berupa masalah, persoalan, sakit-penyakit, hutang, atau sesuatu hal yang menyakitkan. Apapun itu, kita tahu bahwa “bintang” tersebut menjadi petunjuk untuk kita sadar bahwa ada Pribadi yang Mahakuasa dan peduli akan hidup kita. Akan tetapi seringkali secara tidak sadar kita hanya berhenti sampai di bintang tersebut saja dan lupa bahwa “bintang” tersebut seharusnya membawa kita lebih dekat lagi kepada-Nya.

Saya berdoa bahwa natal ini adalah sebuah momen dimana kita sadar bahwa kita ada untuk menyembah Dia. Apapun yang terjadi dalam hidup kita (terutama tahun ini) baik itu senang maupun sulit, jadikan itu sebuah petunjuk untuk kita bisa bertemu dan menyembah Tuhan kita. Jangan berhenti sampai kepada pemberiannya saja, kejar Pribadi yang memberikannya. Orang-orang majus bisa saja berhenti di Istana Herodes dan menikmati apa yang indah-indah menurut dunia, tetapi mereka terus berjalan mencari bayi Yesus. Mereka harus meninggalkan istana megah dan memasuki kandang domba tetapi mereka tahu ada sukacita sejati ketika kita bisa bertemu dengan Raja segala raja dan sujud menyembah-Nya sambil mempersembahkan yang terbaik yang ada dalam hidup kita.

Selamat Natal semuanya 🙂

Sambil menunggu waktu makan Pokenbir untuk natal life-group,

Binsar Gideon

Advertisements

About Gideon Sitorus

Love Live Learn Blog
This entry was posted in Bergaul dengan Tuhan and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s