Herodias

Herodias.jpg

sebab Herodes segan akan Yohanes karena ia tahu, bahwa Yohanes adalah orang yang benar dan suci, jadi ia melindunginya. Tetapi apabila ia mendengarkan Yohanes, hatinya selalu terombang-ambing, namun ia merasa senang juga mendengarkan dia. Akhirnya tiba juga kesempatan yang baik bagi Herodias, ketika Herodes pada hari ulang tahunnya mengadakan perjamuan untuk pembesar-pembesarnya, perwira-perwiranya dan orang-orang terkemuka di Galilea. (Markus 6:20-21 TB, penekanan oleh saya)

Renungan pagi saya hari ini diambil dari kisah pemenggalan Yohanes Pembaptis oleh Herodes atas permintaan Herodias (istri Herodes). Kisah ini dimulai dari tegoran oleh Yohanes kepada Herodes karena Herodes mengambil istri saudaranya sendiri. Alih-alih membereskan dosanya, Herodes malah membiarkan Herodias tetap ada didalam hidupnya. Herodes tidak membenci Yohanes atas tegorannya, karena Herodes menganggap Yohanes adalah orang suci, dan Herodes juga suka mendengarkan ajarannya.

Disatu sisi Herodes menyukai Yohanes yang adalah suara Tuhan dalam hidupnya, disisi lain ia tidak mau melakukan apa yang Tuhan katakan. Ia suka mendengar tetapi tidak suka melakukan. Herodias yang sadar bahwa selama ada Yohanes maka posisinya sebagai permaisuri tidak aman selama ada Yohanes didekat Herodes mencari waktu yang tepat untuk membunuh Yohanes. Singkat cerita, Herodias berhasil membuat Herodes memenggal kepala Yohanes Pembaptis. Alkitab mencatat, bahwa dengan sangat berat hati Herodes memenggal kepala Yohanes, akan tetapi ia harus melakukannya karena janjinya didepan banyak orang.

Hal yang sama sebetulnya bisa menjadi refleksi dalam kehidupan sehari-hari kita. Apa yang menjadi “Herodias” dalam kehidupan kita? Sesuatu yang kita tahu tidak benar tetapi kita tetap saja kita nikmati, baik itu secara sendirian atau beramai-ramai. Herodias juga bisa berarti ketergantungan kita akan hal-hal tertentu yang kita tahu Tuhan tidak suka. Jika kita tidak mengambil langkah iman untuk memutuskan hubungan kita dengan “Herodias” maka akan ada masa dimana “Herodias” kita membunuh suara Tuhan dalam hidup kita.

Seringkali kita berharap kita bisa hidup di dua dunia. Disatu sisi kita menikmati suara Tuhan didalam hidup kita, disisi lain kita tetap melakukan apapun yang ingin kita lakukan kalaupun kita tahu bahwa itu mendukakan hati Tuhan. Keengganan Herodes untuk melepaskan hubungannya dengan herodias (dosa) didalam hidupnya mengakibatkan kematian Yohanes Pembaptis (suara Tuhan) didalam hidupnya.

Coba cek hidup kita untuk beberapa saat, apa yang menjadi herodias kita?

Sebelum lari 7km,

 

Binsargideon

Advertisements

About Gideon Sitorus

Love Live Learn Blog
This entry was posted in Bergaul dengan Tuhan and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s