Seandainya

fishermen-chad_25993_990x742

Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” (Mat 4:19 TB)

Seandainya ayat diatas berbunyi :

“Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kubuat bahagia seumur hidup.” atau
“Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kubuat terkenal.” atau
“Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kubuat penuh dengan pelayanan.” atau
“Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kubuat menjadi pendoa syafaat” atau
“Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kubuat menjadi orang paling sukses.” atau
“Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kubuat menjadi pendeta.” atau
“Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kubuat menjadi penatua jemaat.” atau
“Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kubuat menjadi pemusik.” atau
“Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kubuat menjadi seorang guru.” atau
“Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kubuat menjadi sehat dan penuh mujizat.” atau

“Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kubuat menjadi (apapun itu yang kita inginkan).”

Seandainya ayat tersebut berkata seperti salah satu yang sudah saya sebutkan diatas tentu hidup akan jauh lebih ‘menyenangkan’.

Sayangnya Ia tidak berkata seperti itu.

Perjalanan kekristenan kita dimulai dari inisiatif Tuhan mendatangi kita untuk mempunya suatu hubungan pribadi dengan kita. Itulah mengapa Ia berkata “Mari”.

Setelah kita mempunyai hubungan pribadi dengan Dia, Dia mengajak kita untuk bisa mengikutiNya dalam kemanapun Ia pergi. Tidak ada hal yang lebih membahagiakan dibanding bisa menikmati perjalanan bersama dengan mereka yang kita cintai. itulah mengapa Ia berkata “ikutlah Aku.”

Akan tetapi, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan yaitu menjadi penjala Manusia. Penjala manusia adalah puncak daripada panggilanNya dalam hidup kita. Bukan mimbar, bukan panggung, bukan apapun itu yang terlihat rohani.

Jika dalam perjalanan iman kekristenan kita, kita tidak memiliki keinginan untuk menjala manusia besar kemungkinan ada yang salah dalam proses kita mengikuti Tuhan. Datang kepada Tuhan, mengikuti Tuhan, menjadi penjala manusia adalah tiga hal yang tidak terpisahkan.

Sulit untuk berani berkata bahwa kita mengikuti Tuhan jika kita tidak pernah menjala manusia.

Cheers,

Binsargideon

Advertisements

About Gideon Sitorus

Love Live Learn Blog
This entry was posted in Bergaul dengan Tuhan and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s