Liturgi

yesus-1menyembuhkan-orang-yang-mati-tangan-kanannya

Kemudian Yesus masuk lagi ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang mati sebelah tangannya. (Markus 3:1 TB, penekanan oleh saya)

Cerita perjalanan Yesus di Markus 3 dimulai dengan sebuah narasi dimana Yesus masuk ke rumah ibadat dan Ia mengarahkan mataNya kearah seorang yang tangannya mati sebelah. Beberapa saat setelah Yesus melihat orang tersebut, Yesus membawa orang tersebut ke tengah-tengah rumah ibadat sehingga orang tersebut menjadi pusat perhatian.

Kisah ini memberi pelajaran kepada kita semua yang ‘rutin’ pergi ke rumah ibadat untuk bisa melihat apa yang Yesus lihat. Seringkali kita pergi ke rumah ibadat untuk sebuah liturgi. Saya tidak mempermasalahkan liturgi, karena pada prinsipnya setiap gereja memiliki liturgi. Untuk gereja tradisional, liturgi adalah sebuah tata ibadah yang dibagikan kepada jemaatnya menjelang ibadah di mulai. Sementara untuk gereja karismatik, liturginya lebih dikenal dengan ‘rundown’. Jadi pada prinsipnya setiap gereja memiliki liturginya sendiri. Tidak ada yang salah dengan liturginya, yang jadi salah adalah kita pergi beribadah dengan fokus kepada liturgi.

Seringkali secara tidak sadar liturgi membuat kita beribadah dengan paradigma “yang penting saya sudah beribadah”, padahal di tempat kita beribadah ada banyak orang yang datang dan membutuhkan pertolongan. Mungkin hubungan mereka dengan Tuhan sedang mati, mungkin keluarga mereka sedang hancur, mungkin mereka sedang sakit secara fisik atau perasaan. Paradigma “yang penting saya sudah beribadah” menyebabkan kita tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekitar kita. Tuhan pergi ke rumah ibadat untuk mereka yang ‘hilang’ di rumah ibadat.

Seringkali saya pergi beribadah dengan suatu perhitungan. Berapa lagu lagi sebelum khotbah, berapa menit lagi sebelum khotbah selesai, berapa lama lagi sampai doa berkat dilepaskan di mibar gereja. Setelah ibadah selesai seolah-olah ada sebuah beban “ini hari minggu, saya harus ibadah” lepas dari pundak saya. Ini sama sekali tidak sejalan dengan apa yang Tuhan inginkan. Tuhan ingin kita menjangkau mereka yang hilang dirumah ibadat, itulah mengapa Yesus seringkali membuat ‘kekacauan’ ditengah-tengah ibadah, supaya kita semua bisa melihat dan sadar bahwa ada yang lebih penting sekedar liturgi ibadah. Manusianya lebih penting daripada programnya.

Kapan terakhir kita melihat kebutuhan orang lain di rumah ibadat? Atau jangan-jangan malah kita sibuk menghakimi mereka yang sedang menjangkau orang lain?

 

 

Dari tepi kolam pemandian air panas ciater,

Binsar Gideon

Advertisements

About Gideon Sitorus

Love Live Learn Blog
This entry was posted in Bergaul dengan Tuhan and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s