Popular

popularity

Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus. (Gal 1:10 TB)

Salah satu kegemaran saya di pagi hari adalah mendengarkan lagu-lagu rohani lewat media sosial yang bernama youtube. Aplikasi berbagi video ini sangat membantu saya untuk bisa update dengan lagu-lagu rohani terbaru atau lagu-lagu yang sebenarnya sudah lama namun belum pernah saya dengar. Beberapa hari yang lalu, saya mendengarkan satu lagu dan sambil mendengarkan lagu tersebut saya membaca komentar-komentar dari orang-orang yang sudah pernah menonton video lagu tersebut. Ada satu komentar yang sedikit menggelitik ketika saya membacanya. “Lagu yang sangat bagus, harusnya lagu ini bisa jauh lebih populer” begitulah kira-kira yang tertulis di kolom komentar. Saya mengerti maksud dari orang tersebut pastilah agar lagu tersebut bisa memberkati lebih banyak orang lagi. Sebuah harapan yang sangat mulia. Akan tetapi, jika kita tidak hati-hati maka sangat mungkin (tanpa kita sadari) kita melakukan sesuatu untuk mencari popularitas.

Mari berimajinasi sebentar, Yesus pasti tahu cara membuat kamera. Lalu mengapa dia tidak menciptakan kamera pada zamanNya? Atau mengapa Dia tidak datang pada zaman sekarang ketika menjadi populer begitu mudah? Jawabannya adalah karena Ia bukan pribadi yang mencari popularitas. Akan tetapi, kita semua tahu bahwa Ia adalah pribadi yang paling popular. Tidak ada foto Yesus yang asli yang pernah ada, akan tetapi orang-orang berlomba-lomba untuk mereka-reka wajah Tuhan Yesus. Yesus popular tetapi Yesus tidak pernah mencari popularitas. Ia adalah pribadi yang fokus akan melakukan apa yang menjadi tugas dan panggilanNya. Hal yang sama seharusnya juga berlaku untuk kita, janganlah kita hidup demi popularitas. Kebutuhan manusia adalah untuk diterima, sedangkan keinginan manusia adalah untuk menjadi popular.

Tidak ada yang salah dengan menjadi popular, yang menjadi salah adalah ketika kita merasa ada yang salah ketika kita tidak popular. Jika popularitas menjadi fokus hidup kita, maka sesungguhnya kita akan hidup dengan standard “apa yang disukai orang banyak.” Saya tidak mengerti dengan orang-orang yang mencari popularitas dengan menggunakan sesuatu yang sifatnya “kristen”. Ada garis pembeda yang sangat tipis antara memuliakan Tuhan dan mencari popularitas. Tugas saya bukan untuk menghakimi karena saya adalah orang yang paling berdosa dibanding semua orang, akan tetapi saya berharap tidak ada dari kita yang melakukan sesuatu sifatnya “rohani” demi popularitas semata-mata. Salah satu fondasi iman kekristenan kita dibangun kematian para pendahulu kita secara martir. Mereka tidak memilih menjadi popular, mereka memilih mati secara menggenaskan agar supaya Injil bisa diberitakan diseluruh dunia. Bahkan ketika anda membaca tulisan ini, ada orang-orang yang sedang mempertahankan imannya melewati dengan berbagai-bagai siksaan yang mengerikan. Bagaimana mungkin kita bisa mencari popularitas diatas itu semua?

Saya berdoa kita semua mengerti bahwa kita tidak dipanggil untuk terkenal. Kalaupun saat ini anda terkenal, anda tidak dipanggil untuk itu. Kita semua dipanggil untuk melakukan tugas kita yaitu membuat nama kita semakin tidak terkenal dan nama Yesus semakin terkenal.

Dari meja kamar sambil menunggu pertandingan Indonesia vs Malaysia,

Binsargideon

 

Advertisements

About Gideon Sitorus

Love Live Learn Blog
This entry was posted in Bergaul dengan Tuhan and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s