Gurun

1

Demikianlah aku memandang kepada-Mu di tempat kudus, sambil melihat kekuatan-Mu dan kemuliaan-Mu. (Mazmur 63:3 TB, penekanan oleh saya sendiri)

Salah satu kunci untuk bisa membaca Alkitab dengan baik dan benar adalah dengan mengerti konteks dari ayat atau paragraf yang sedang kita baca. Masalahnya tidak banyak ayat alkitab yang ikut mencatat konteks latar belakang ayat atau perikop tersebut, sehingga kita harus mau untuk menginvestasikan waktu kita untuk belajar bukan hanya sekedar baca. Tidak semua orang yang membaca Alkitab mempelajari Alkitab.

Salah satu perikop di Alkitab dimana latar belakang penulisan dari perikop tersebut ikut ditulis adalah Mazmur 63. Mazmur ini dimulai dengan penjelasan bahwa Daud sedang berada di padang gurun Yehuda, sebuah tempat dan situasi yang tidak nyaman untuk dirinya. Akan tetapi, sepanjang Mazmur 63 kita tidak akan menemukan Daud berkeluh kesah tentang kesusahannya, bahkan saya tidak menemukan kata ‘gurun’ sepanjang Mazmur 63 selain di ayat awal dari pasal tersebut.

Bagaimana mungkin situasi yang begitu sulit yang sedang dialami Daud, bisa diresponi dengan dengan begitu luar biasa oleh Daud yang notabene adalah manusia yang penuh kelemahan seperti kita. Kuncinya terletak pada ayat yang saya sudah tuliskan di atas yaitu di ayat 3. Daud melihat padang gurunnya sebagai tempat kudus, dalam terjemahan lain ditulis tempat penyembahan. Daud melihat situasi dalam hidupnya yang terlihat sulit, tanpa harapan, tanpa jalan keluar, sebagai tempat penyembahannya.

Mudah buat kita menyembah ketika keadaan semua begitu baik. Ketika keuangan surplus, ketika keluarga harmonis, ketika bisnis begitu menguntungkan, ketika nama kita mulai naik, atau apapun itu yang terlihat baik. Akan tetapi, sulit buat melakukan hal yang sama ketika yang terjadi adalah kebalikannya. Biasanya yang ada hanya pertanyaan, sungutan, teriakan ketidak adilan dan apapun yang kita rasa ‘benar’ untuk kita lakukan. Mazmur 63 mengajarkan kepada kita bahwa kita bukanlah penyembah-penyembah yang bergantung pada situasi, kondisi, dan keadaaan. Sebaliknya, apapun situasi yang sedang kita lewati haruslah menjadi situasi dimana kita dapat menyembah Dia.

Terkadang Tuhan mengijinkan segala sesuatunya terjadi dalam hidup kita untuk melihat apakah kita adalah penyembah-penyembah yang situasional, atau kita adalah penyembah-penyembah yang benar. Seringkali, Tuhan tidak merubah situasi kita sampai kita merubah sikap hati kita. Ketika situasi kita sedang sulit, jangan terlalu cepat untuk meminta Tuhan menyelesaikan semuanya, minta Dia untuk membentuk hati kita sehingga kita dapat memiliki sikap hati yang benar. Penyembahan kita bukan sekedar kita bangun pagi lalu berdoa dan menikmati hadiratNya (ini adalah hal yang sangat baik untuk dilakukan) melainkan ketika kita bisa setiap saat, apapun situasinya, tetap menyembah dia dalam roh dan kebenaran.

Dari kamar sambil pusing  nyari ide buat ice breaking games besok,

Binsargiden

Advertisements

About Gideon Sitorus

Love Live Learn Blog
This entry was posted in Bergaul dengan Tuhan and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s