Tiga Perempuan

three-sisters

Masa hidupku ada dalam tangan-Mu, lepaskanlah aku dari tangan musuh-musuhku dan orang-orang yang mengejar aku! (Maz 31:15 TB)

Saya baru saja kembali dari perjalanan singkat dan mendadak ke Australia. Perjalanannya seru dan sangat mengasyikan padahal sebetulnya saya sudah sedikit pesimis dengan Australia terutama Sydney. Salah satu tempat yang saya kunjungi adalah Three Sisters; sebuah formasi gunung batu yang menurut legenda aborigin adalah tiga perempuan yang dirubah kedalam bentuk batu supaya tersembunyi dari mereka yang ingin mengambil tiga perempuan ini untuk dinikahi. Namanya juga legenda, sudah pasti kebenarannya hanyalah legenda.

Letak Three Sisters ini sedikit jauh dari Sydney, membutuhkan perjalanan selama kurang lebih 2 jam menggunakan kereta dari stasiun di pusat kota Sydney. Nama stasiun pemberhentiannya adalah Katoomba dan dari stasiun ini kita bisa menggunakan bus atau berjalan kaki untuk mencapai Echo Point (tempat dimana kita bisa melihat formasi bebatuan ini dengan jelas). Saya tidak pergi sendiri, saya pergi bersama seorang teman dan sesampainya Stasiun Katoomba, cuaca begitu dingin (bulan juli adalah musim dingin di Australia) dan teman saya mengajak berjalan kaki daripada naik bus untuk menuju lokasi.  Dia bilang, “jalan aja yuk, kalau jalan tubuh kan bergerak sehingga bisa ngurangin dingin.” Jadi kami memutuskan berjalan dan ternyata selama perjalanan tidak terasa begitu dingin dan juga banyak pemandangan indah yang bisa dinikmati. Well, perjalanannya memang melelahkan dan dingin, tetapi ketika kita sampai di tujuan, semuanya seperti terbayar saat melihat keindahan maha karya Tuhan.

Menurut saya, hal yang sama juga berlaku dalam kehidupan kekristenan kita. Oswald Chambers menulis salah satu buku renungan yang berjudul My Utmost for His Highest. Salah satu buku renungan yang paling baik yang pernah saya baca. Dalam bukunya, ia membagi perjalanan kehidupan manusia dengan Tuhan akan melewati 4 musim. Salah satu musim yang harus dilewati adalah musim dingin. Suka tidak suka, kekristenan kita pasti akan melewati fase musim dingin. Baca Alkitab terasa datar, doa terasa kelu, mujizat terasa jauh, iman serasa lumpuh, dan semuanya terlihat beku. Itulah musim dingin dalam kehidupan kita. Lalu bagaimana menghadapinya? Kuncinya sederhana, “Terus berjalan.”

Kalau Alkitab terasa membosankan – Terus baca.
Ketika lidah terasa kelu ketika berdoa – Terus berdoa.
Ketika tidak ada tanda mujizat yang terlihat – Terus percaya.
Ketika iman terasa lumpuh – Terus beriman.
Ketika perjalanan dengan Tuhan terasa beku – Terus berjalan.

Jika kita berhenti berjalan bersama Tuhan selama musim dingin, maka lambat laun kita akan menjadi pribadi yang kecewa, sakit hati, dan penuh amarah. Akan tetapi, jika kita terus berjalan, maka skita akan menikmati hubungan kita dengan Tuhan selama musim dingin. Ada banyak yang Tuhan akan tunjukkan selama musim dingin di kehidupan kita asal kita mau terus berjalan bersama dengan Tuhan. Lebih dari itu semua, ketika kita sampai ketempat dimana Tuhan ingin membawa kita, rasanya seluruh perjuangan kita untuk terus bejalan bersama Tuhan tidaklah sia-sia.

Saya berdoa untuk setiap kita yang sedang melewati musim dingin, atau bahkan akan melewati musim dingin didepan, bukanlah menjadi pribadi yang gampang menyerah melainkan menjadi pribadi yang mau terus berjalan bersama Tuhan.

Dari depan handuk hijau yang meminta saya untuk mandi,

Binsargideon

 

Advertisements

About Gideon Sitorus

Love Live Learn Blog
This entry was posted in Bergaul dengan Tuhan and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s