Terakhir

the-last.word_

Sedang mereka melemparinya Stefanus berdoa, katanya: “Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku.” Sambil berlutut ia berseru dengan suara nyaring: “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!” Dan dengan perkataan itu meninggallah ia(Kis 7:59-60 TB)

Baru-baru ini kita dikagetkan oleh aksi bom bunuh diri yang meledak di Kampung Melayu. Bom ini meledak hanya berjarak hitungan hari dari meledaknya bom di Inggris tepatnya di Manchester. Bom diledakkan pada di akhir konser dari seorang wanita yang sedang digandurungi oleh jutaan manusia di seluruh dunia. Satu bom meledak di tengah kesibukan jam pulang kebanyakan orang, satu bom meledak meledak ditengah kebahagiaan orang. Bom meledak. Nyawa melayang. Saya turut berdukacita untuk setiap keluarga yang harus kehilangan anggota keluarganya secara tiba-tiba dan menggenaskan.

Fakta ini mengingatkan kita semua bahwa kapanpun, dimanapun, bagaimanapun, baik cepat atau lambat, kita akan menghembuskan nafas terakhir disaat-saat yang mungkin tidak pernah kita duga. Satu hal yang menarik mengenai kematian seseorang adalah perkataan apa yang terakhir kali diucapkan sebelum pribadi tersebut meninggal dunia. Kita tidak pernah bisa menjaga waktu kematian kita, tetapi kita bisa menjaga perkataan terakhir kita.

Ada banyak perkataan terakhir dari tokoh Alkitab yang sempat dicatat oleh penulis Alkitab. Rahel dengan kepahitannya, Musa dengan berkatnya, Imam Eli dengan keterkejutannnya. Simson dengan permintaannya, Saul dengan bunuh dirinya, Yesus dengan penyerahan diriNya, penjahat disamping Yesus dengan pertobatannya, Ananias dan Safira dengan penipuannya, Paulus dengan keberaniannya, Stefanus dengan pengampunannya, dan masih banyak lagi tokoh lainnya. Apa yang mereka katakan adalah akumulasi dari perkataan-perkataan selama kehidupan mereka.

Begitu penting untuk setiap kita untuk mengatakan hal-hal yang membangun baik untuk kehidupan kita maupun untuk kehidupan orang lain. Coba renungkan, apa yang baru saja anda katakan? Apakah itu membangun atau merobohkan? Seringkali kita mengatakan dan membicarakan hal-hal yang sia-sia atas atas dasar ‘cuma’. “Gw kan cuma bercanda”, “Lo lebay banget sih”, “Ini normal bro, semua orang juga begini.” Ini adalah kumpulan pembenaran diri dari orang-orang yang tidak pernah sadar akan betapa pentingnya menjaga perkataan mereka. Percayalah, lidah itu lebih tajam daripada pisau. Apakah kita suka melihat orang bercanda dengan pisau? Jika kita tahu betapa bahayanya bercanda dengan pisau, apalagi dengan perkataan kita. Berhenti berkata sia-sia, kotor, kutuk, dan perkataan-perkataan lain yang tidak berguna. Sebaliknya, alirkan kehidupan lewat setiap perkataan yang Tuhan ijinkan untuk kita katakan.

Setiap kali kita berkata-kata, bayangkan bahwa itu mungkin jadi perkataan kita yang terakhir. Pastikan itu adalah sesuatu yang akan membangun mereka yang mendengarnya.

Dari bawah AC kamar mama,

Binsargideon

Advertisements

About Gideon Sitorus

Love Live Learn Blog
This entry was posted in Bergaul dengan Tuhan and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s