Telapak Tangan

palm-hand

Setelah itu ia berkata kepada bujangnya: “Naiklah ke atas, lihatlah ke arah laut.” Bujang itu naik ke atas, ia melihat dan berkata: “Tidak ada apa-apa.” Kata Elia: “Pergilah sekali lagi.” Demikianlah sampai tujuh kali. Pada ketujuh kalinya berkatalah bujang itu: “Wah, awan kecil sebesar telapak tangan timbul dari laut.” Lalu kata Elia: “Pergilah, katakan kepada Ahab: Pasang keretamu dan turunlah, jangan sampai engkau terhalang oleh  (1 Raja-raja 18:43-44 TB)

Akhirnya ngeblog!!! April ini adalah bulan yang sangat-sangat sibuk buat saya secara pribadi. Begitu banyak kesibukan dari mulai urusan kerjaan, acara kantor, acara gereja, dan urusan sekolah. Rasa-rasanya pikiran saya semacet dan sepenuh antrian mobil dari cawang menuju pancoran. Begitu banyak hal yang ingin saya tulis tapi sepertinya waktu tidak mengijinkan. Sebenarnya sih saya tidak sesibuk itu, tapi saya sering buang-buang waktu di social media yang biasanya saya sesali pada akhirnya.

Anyway, beberapa hari terakhir ini Tuhan membawa pikiran saya untuk mempelajari suatu kisah di perjanjian lama yang terjadi pada zaman nabi Elia. Zaman itu tidak ada hujan selama 3,5 tahun yang berakibat kekeringan dan kelaparan yang begitu hebat. Singkat cerita, Tuhan berkehendak mengirimkan hujan kepada bangsa Israel dan Elia sudah menyadarinya. Menyadari akan apa yang Tuhan akan lakukan, Elia naik ke puncak gunung karmel dan berdoa. Setelah selesai berdoa, Elia memerintahkan bujangnya untuk naik ke atas dan melihat ke arah laut. Enam kali bujangnya Elia bolak-balik melihat dan tidak menemukan apapun. Namun, pada usaha yang ketujuh bujangnya melihat awan yang sebesar telapak tangan. Buat bujang tersebut, ini tidak berarti apa-apa, tetapi buat Elia itu adalah tanda dari Tuhan dimana hujan lebat akan turun. Tidak lama kemudian hujan yang begitu lebat turun dan membasahi tanah Israel. Buat bujanganya itu hanya awan sebesar telapak tangan, buat Elia itu adalah tanda hujan yang begitu besar yang Tuhan sedang kirimkan.

Ketika kita dalam kekeringan atau kesusahan seringkali mata kita dibutakan oleh beratnya persoalan. Akan tetapi, justru pada saat-saat seperti itu Tuhan sedang menguji mata iman kita. Berhati-hatilah karena ketika masalah terlihat begitu besar maka tanda dari Tuhan biasanya terlihat begitu kecil. Setiap kali kita memasuki/melewati masa-masa kekeringan, belajar untuk memperhatikan lebih lagi. Perhatikan dengan seksama apa yang selama ini kita anggap biasa atau mungkin kebiasaan. Biasanya, lewat hal yang terlihat kecil itu, Tuhan sedang mempersiapkan hujan berkat yang besar. Kuncinya adalah kepekaan dan kemampuan kita untuk melihat dengan cara Tuhan melihat

Coba berhenti sejenak ditengah masa kekeringan hidup kita dan lihat apa yang terlihat hanya sebesar telapak tangan alias begitu kecil dan tidak berarti. Mungkin itu keahlian kita yang masi sangat dasar, atau bahkan mungkin itu jam-jam doa kita. Orang mungkin berkata itu tidak berguna dan tidak menolong tetapi percaya itu adalah tanda dari Tuhan bahwa terobosan sudah didepan mata. Sebaliknya, jika memang belum terlihat, jangan berhenti untuk melihat. Ingat, pada enam usaha pertamanya, bujang tersebut belum melihat apa-apa. Jika memang tandanya belum terlihat bukan berati tanda itu tidak pernah ada; terus saja berusaha untuk melihat sampai tanda tersebut benar-benar terlihat.

Belajar untuk melihat dengan cara Tuhan melihat.

Cheers,

Binsargideon

Advertisements

About Gideon Sitorus

Love Live Learn Blog
This entry was posted in Bergaul dengan Tuhan and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s