Silence (Dimana Tuhan?)

SILENCE

Dari dalam kota terdengar rintihan orang-orang yang hampir mati dan jeritan orang-orang yang menderita luka, tetapi Allah tidak mengindahkan doa mereka. (Ayub 24:12 TB)

Atas rekomendasi teman saya, minggu lalu saya mengajak orang tua saya untuk menonton Silence. Film ini menceritakan perjuangan dari dua orang pastur katolik yang mencoba mencari pastur yang hilang di Jepang. Jepang pada saat itu begitu sadis dan keras terhadap agama katolik dan kekristenan. Mereka mencoba menghentikan pemberitaan Injil dengan cara apapun termasuk kekerasan yang diluar batas-batas kemanusiaan.

Inti dari film ini adalah pertanyaan dari manusia yang harus mengalami kekejaman yang begitu rupa akibat mempertahankan imannya. Mengapa Tuhan diam ketika anak-anakNya harus mengalami siksaan yang begitu mengerikan akibat percaya kepadaNya? Dimana Tuhan ketika panasnya air belerang membakar mereka yang memilih untuk setia kepadaNya? Satu dialog yang masih terngiang dalam pikiran saya adalah ketika Rodrigues berkata “Darah martir adalah benih daripada gereja”.

Pertanyaan “dimana Tuhan?” adalah pertanyaan yang begitu mudah terlontar ketika penderitaan begitu sulit dan rasa sakit seperti tidak memiliki ujung.

Dimana Tuhan ketika anak kecil diperkosa?

Dimana Tuhan ketika orang tua dibunuh?

Dimana Tuhan ketika saya dikhinati?

Sebenarnya pertanyaan ini harus kita tarik mundur lebih jauh.

Dimana Tuhan ketika Habel dibunuh?

Dimana Tuhan ketika Musa harus berlari meninggalkan Mesir?

Dimana Tuhan ketika Yohanes pembaptis dipenggal?

Dimana Tuhan ketika Yesus mati di kayu salib?

Jawabannya Tuhan ada disana. Tuhan ada disana ketika anak kecil diperkosa, Tuhan ada disana ketika orang tua dibunuh, Tuhan ada disana ketika kita dikhianati, Tuhan disana ketika Habel dibnuh, Tuhan ada disana ketika Musa harus berlari, Tuhan ada disana ketika Herodes memenggal kepala Yohanes Pembaptis, Tuhan ada disana ketika Yesus mati disalib. Mengapa Tuhan diam? Sejujurnya saya tidak mengerti.

Untuk bisa menilai suatu hal secara utuh dan adil maka kita harus bisa melihat seluruh aspek dari hal tersebut secara menyeluruh. Masalahnya adalah mustahil untuk kita bisa melihat rencana Tuhan secara keseluruhan. Hidup kita hanyalah sebuah kepingan puzzle dari rencana Tuhan yang maha besar untuk dunia ini. Bahkan kematian seseorang seringkali menjadi bagian dari rencana Tuhan untuk menggenapi rencanaNya yang lain.

Saya pernah mendengar cerita bagaimana sebuah desa di India bertobat setelah mereka menyiksa sebuah keluarga kristen dengan sangat sadis. Seluruh desa ini bertobat ketika mereka menyadari bahwa kematian tidak meruntuhkan iman keluarga tersebut. Kepala desa yang memimpin penyiksaaan tersebut mulai mencari tahu siapa sebenarnya Yesus yang dipercayai keluarga ini. Singkat cerita, kepala desa ini bertobat dan memimpin seluruh desanya bertobat. Cerita keluarga yang setia ini dituangkan dalam lagu I have decided to follow Jesus. Lagu ini dipakai oleh Billy Graham di berbagai KKR yang ia lakukan, dan menginspirasi jutaan orang menerima Yesus sebagai Tuhan dan JuruS’lamat. Baru-baru ini Hillsong mengaransemen ulang lagu ini dan menjadi berkat bagi mereka yang mendengarnya. Saya yakin masih ada rencana Tuhan yang lebih besar lagi terhadap kematian keluarga ini, bahkan mungkin yang akan terjadi setelah saya pribadi dipanggil pulang oleh Tuhan.

Sekali lagi, kita dipanggil untuk percaya lebih daripada untuk mengerti.

Sebetulnya pertanyaan ini juga pertanyaan yang menurut saya sedikit menyedihkan untuk Tuhan. Mengapa? Karena pertanyaaan ini seringkali terlontar ketika semuanya terlihat begitu menyedihkan. Pernahkan kita bertanya “Dimana Tuhan?” ketika semuanya berjalan dengan baik? Seringkali asosiasi kita tentang Tuhan menjadi begitu baik ketika semuanya terlihat baik. Kehadiran Tuhan menjadi sesuatu yang sifatnya yang situasional. Sementara Tuhan berkali-kali berjanji bahwa Ia tidak akan pernah meninggalkan kita. Baik kita mengerti atau tidak, Tuhan tetap ada disana. Bukan hanya sekedar ada, bahkan Ia berdiam didalam kita.

Saya berdoa supaya kita semua menjadi pribadi yang tidak gampang untuk mempertanyakan kehadiran Tuhan tetapi malah sebaliknya kita menjadi pribadi yang percaya penuh bahwa rencanaNya selalu yang terbaik untuk kita semua.

Starbucks kuningan city sambil ditemani lagu-lagu himne,

Binsar Gideon

Advertisements

About Gideon Sitorus

Love Live Learn Blog
This entry was posted in Bergaul dengan Tuhan and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s