Betapa

build

Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi. Adakah sumber memancarkan air tawar dan air pahit dari mata air yang sama? (Yak 3:9-11 TB)

Hari minggu kemarin adalah hari dimana mentor saya membawakan Firman Tuhan dari atas mimbar. Seingat saya, sampai hari kamis (kalau ingatan saya masih berfungsi dengan benar) mentor saya masih mencari bahan untuk khotbah, akan tetapi, mendengar pesan Tuhan dari mimbar kemarin sangat mengena di telinga dan hati para pendengar. Khotbahnya sederhana dengan pembahasan yang sudah juga sering saya dengar tetapi tetap saja kalau Tuhan yang bekerja maka ceritanya akan tetap berbeda.

Saya tidak ingin membahas isi dari khotbahnya apalagi pengkhotbahnya. Saya ingin membahas tentang seorang anak muda yang menjadi alasan kita menyanyikan tembang lawas rohani pada hari minggu kemarin. Di akhir khotbahnya, mentor saya mengajak semua jemaat untuk menyanyikan lagu rohani lawas yang mungkin untuk kita yang baru bertobat terdengar asing di telinga. Untuk saya yang tumbuh di gereja saya sangat menikmati momen-momen dimana gereja masa kini menyanyikan lagu-lagu rohani zaman dahulu. Judul lagunya adalah “Betapa Hatiku”.

Betapa hatiku
Berterima kasih Tuhan
Kau mengasihiku
Kau memilikiku

Reff:
Hanya ini Tuhan persembahanku
Segenap hidupku, jiwa dan ragaku
S’bab tak kumiliki harta kekayaan
Yang cukup berarti tuk kupersembahkan

Hanya ini Tuhan permohonanku
Terimalah Tuhan persembahanku
Pakailah hidupku sebagai alatMu
Seumur hidupku

Suasana ketika lagu ini dinyanyikan terasa begitu luar biasa. Banyak air mata menetes. Bahkan jika hari itu ibadah dihadiri jutaan orang, mungkin pasukan orange harus dikerahkan karena Jakarta akan kebanjiran, dan disisi lain pabrik tissue akan mengalami kenaikan omset yang luar biasa. Maafkan saya yang agak lebay tetapi sejauh mata saya berkeliling semua orang sangat diberkati dan tersentuh.

Sebelum menyanyikan lagu ini, mentor saya memberitahukan bahwa alasannya memilih lagu ini disebabkan oleh seorang anak muda yang ketika pergi bersamanya di hari sebelum dia berkhotbah menyanyikan penggalan dari lagu ini. Ketika ia mendengar lagu ini, ia merasa bahwa lagu ini harus dinyanyikan ketika menutup khotbah. Sekarang bayangkan jika anak muda tersebut menyanyikan lagu lain yang tanpa makna, atau mungkin maknanya cenderung tidak jelas. Mungkin hal berbeda yang akan terjadi.

Anak muda ini tidak pernah tau bahwa sedikit penggalan lagu di waku yang begitu singkat ternyata menjadi berkat untuk ratusan orang yang menghadiri ibadah. Mungkin ada orang di ibadah tersebut yang imannya sedang lemah, mungkin juga ada orang yang sedang menjauh dari Tuhan, mungkin ada orang yang mulai mepertanyakan Tuhan. Akan tetapi, lewat lagu tersebut banyak hati yang diubahkan dan jiwa yang diteduhkan. Anak muda ini menjadi saluran berkat lewat sebuah penggalan pendek yang dia nyanyikan.

Hal yang sama juga berlaku  untuk kita.Bagaimana cara kita menggunakan mulut kita? Apa yang keluar dari mulut kita? Apakah hinaan, cercaan, makian, lagu putus asa, lagu kepahitan? atau sebaliknya semua yang sifatnya membangun. Sama seperti anak muda tersebut, kita tidak pernah tahu atau sadar bahwa ternyata ada saat-saat dimana (bahkan tanpa kita sadari) apa yang kita katakan adalah penentu apakah hidup orang yang mendengarnya akan dibangun atau semakin dihancurkan. Pilih apa yang keluar dari mulut kita dengan bijak.

Saya berdoa tidak ada dari kita yang berkata ‘cuma’. Semua yang ‘cuma’ cenderung percuma. Jangan habiskan hidup kita untuk sesuatu yang percuma. Pilih untuk selalu membangun hidup orang lain bukan menghancurkannya.

Dikamar dibawah hembusan Ac 1/2 PK,

 

Binsargideon

 

Advertisements

About Gideon Sitorus

Love Live Learn Blog
This entry was posted in Bergaul dengan Tuhan and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s