Tidak Dikasihi

rumb-unlovable-pic

Jawab orang itu: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Lukas 10:27 TB)

Khotbah di mimbar hari ini begitu mengena buat saya. Pesannya sederhana dan dibawakan oleh pengkhotbah yang tidak begitu favorit untuk saya pribadi. Saya suka gaya penulisannya (saya membaca beberapa bukunya dan sedang membaca buku terbarunya) tapi terakhir kali saya mendengar khotbahnya saya sedikit bosan. Tapi tidak dengan khotbahnya hari ini ketika ia membawakan cerita tentang orang Samaria yang baik hati.

Penggalan ayat diatas adalah kalimat yang diucapkan Yesus ketika seorang ahli Taurat yang mencobai Yesus menanyakan kepadanya tentang bagaimana cara untuk mendapatkan hidup yang kekal. Atas pertanyaan yang sederhana tapi menjebak ini, Yesus menceritakan sebuah perumpamaan tentang seorang Samaria yang baik hati. Semua kita (terutama yang pernah bersekolah minggu) pasti sudah cukup paham mengenai cerita ini. Orang Samaria ini menolong orang Yahudi yang setengah mati karena dirampok dan dihajar di perjalanan dari Yerusalem menuju Yerikho. Ada tiga orang yang melihat orang malang ini; Imam, orang Lewi, dan orang Samaria. Ketiga orang ini melihat masalah yang sama tapi hanya orang Samaria yang melihat dengan mata belas kasihan.

Penting sekali untuk kita mengerti status orang Samaria pada zaman ketika Yesus menceritakan cerita ini. Orang Samaria pada zaman itu adalah sekumpulan orang najis, tertolak, dihindari, dan dibenci oleh bangsa Yahudi. Ada sebuah kebencian yang berusia ratusan bahkan ribuan tahun yang sudah mengendap didarah orang Yahudi ketika melihat orang Samaria. Dalam konteks cerita ini, keputusan orang Samaria ini untuk menolong orang malang ini adalah keputusan yang membuat dirinya terjebak dalam resiko yang mengerikan karena jalan dari Yerusalem menuju Yerikho adalah jalanan yang berbahaya karena penuh dengan perampok. Saya tidak mau menyalahkan Orang Lewi dan Imam yang melewati orang malang ini karena mungkin saja mereka berpikir orang malang ini adalah orang yang sedang berpura-pura menjadi korban dan akan merampok siapapun yang mencoba menolongnya. Akan tetapi, bagaimana mungkin orang Samaria yang secara status dibenci, ditolak, dan bahkan tidak dikasihi ini mampu menjadi sebuah ukuran akan ‘mengasihi sesama’?

Yesus adalah gambaran dari orang Samaria yang baik hati tersebut dan kita yang dahulu adalah korban yang hampir mati akibat dosa yang menguasai kita sebelum kita bertobat. Sebetulnya kita bukan hampir mati melainkan kita sudah mati secara roh. Yesus mengambil segala resiko untuk turun ke dunia dan hidup dalam berbagai penolakan untuk menghampiri kita di lobang kebinasaan kita dan membayar semua yang diperlukan untuk membuat kita hidup kembali. Itulah makna kasih yang sesungguhnya.

Apa alasan kasih kita terhadap orang lain? Apakah karena mereka mengasihi kita? Apakah karena mereka melakukan apa yang kita inginkan? Bagaimana jika sebaliknya mereka membenci kita dan membuat kita hidup dalam banyak masalah? Kasih yang sudah kita rasakan dari Tuhan memampukan kita untuk mengasihi orang lain dengan cara yang benar. Kita mengasihi orang lain bukan karena orang tersebut mengasihi kita melainkan karena kita sudah terlebih dahulu dikasihi oleh Tuhan. Siapa orang lain itu? Mungkin mereka adalah orang yang membenci kita atau mungkin mereka adalah orang yang sekarang hidupnya ada dalam lobang kebinasaan. Orang-orang ini ada di sekitar kita. Keputusannya ada ditangan kita apakah kita akan terus melangkah dengan tidak peduli atau berhenti sejenak untuk mengekspresikan kasih Tuhan yang sudah terlebih dahulu kita rasakan kepada mereka.

Beberapa hari lagi kita akan memasuki momen valentine, sebuah momen dimana begitu banyak orang berlomba-lomba mengekspresikan kasih mereka. Handphone saya penuh dengan notifikasi dari berbagai aplikasi dari mulai gojek, tokopedia, zalora, grab, dan lain lain yang dimulai dengan kata “ekspresikan kasihmu dengan…..”. Aplikasi-aplikasi ini sesungguhnya sangat tidak sopan, harusnya mereka bertanya dulu kepada saya mengenai status dan perasaan saya sebelum beriklan (jadi sensi). Saya tidak anti valentine, saya suka valentine walaupun terkadang pahit (jadi curhat). Akan tetapi, saya ingin mengajak kita semua untuk mengambil momen ini untuk tidak sekadar mengekspresikan kasih hanya kepada mereka yang mengasihi kita melainkan juga kepada mereka yang membenci kita dan mereka yang hidup dalam lobang kebinasaan.

Happy Valentine guys.

Diatas meja makan, dibalik hujan,

Binsar Gideon

 

Advertisements

About Gideon Sitorus

Love Live Learn Blog
This entry was posted in Bergaul dengan Tuhan and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s