Bahagia

grave

Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa. (Maz 16:11 TB)

Selamat datang Februari. Tanpa terasa Januari 2017 sudah selesai padahal rasanya baru saja kita merayakan momen pergantian tahun. Hidup terasa begitu cepat. Buat saya Januari adalah bulan yang ajaib. Mengapa terasa begitu ajaib? Beberapa orang di sekitar saya dipanggil Tuhan pulang. 1 rekan kerja, 2 orang nasabah saya (wanita, masing-masing berusia 36 dan 38 tahun),  2 orang ibu yang merupakan orang tua dari teman saya. Bahkan besok saya akan pergi ke rumah duka untuk melayat ayah dari teman saya. Begitu banyak dan begitu cepat.

Dalam setiap kunjungan saya ke rumah duka, selalu pertanyaan yang sama muncul. Apa sih yang dicari dalam hidup ini? Hidup terasa begitu cepat. Jika tidak percaya, coba tanyakan kepada orang-orang dengan berbagai usia, apakah mereka betul-betul merasa bahwa mereka sudah menjalani hidup mereka untuk sekian tahun di muka bumi. Untuk saya pribadi jawabannya tidak. 30 tahun yang sudah saya jalani di bumi terasa begitu singkat. Jika usia saya 70 tahun, maka saya hampir menjalani setengah dari usia saya di bumi. Pertanyaan yang sama muncul, apa sih yang dicari? Jawabannya sederhana. Semua orang ingin berbahagia. Bukan kebahagiaan yang sementara, tetapi yang kekal.

Bagaimana cara berbahagia? Apa itu kebahagiaan yang sejati? Apakah dengan mendapatkan apa yang kita mau, kita akan berbahagia? Jawabannya tidak. Memang betul ketika kita mendapatkannya yang kita mau kita merasa begitu bahagia, tetapi itu tidak akan lama. Perasaan paling kosong adalah ketika kita mendapatkan yang kita mau dan kita pikir kita akan berbahagia dan ternyata kita salah besar. Mari saya berikan contoh. Di belahan bumi (entah di bagian mana) yang lain, saya yakin pasti ada orang yang berpikir bahwa jika dia punya motor dia akan berbahagia. Dirumah saya ada 2 motor, dan saya bisa bilang saya biasa saja untuk 2 motor yang saya punya. Saya bukan tidak bersyukur. Saya hanya tidak bisa bilang bahwa memiliki motor bisa membuat bahagia. Biasa saja. Sesuatu yang sifatnya sementara tidak akan bisa memberikan kita kebahagiaan yang kekal. Saya bisa menulis panjang dan lebar tentang bagaimana orang-orang yang mendapat apa yang mereka mau dan segera sesudah mereka mendapat yang mereka mau, mereka tetap merasa biasa saja. Lebron James, Boris Becker, Michael Phelps, James Higgins, dan seterusnya.

Berbeda dengan fisik kita yang bersifat sementara, jiwa kita bersifat kekal. Ketika fisik kita berakhir, jiwa dan roh kita masih ada. Dibutuhkan sesuatu yang bersifat kekal untuk memuaskan jiwa kita dan kita semua tahu bahwa Tuhan adalah Pribadi yang kekal. Dia Alfa dan Omega, yang awal dan akhir. Ayat diatas menjelaskan kepada kita bahwa Tuhanlah sumber sukacita yang abadi. Ketika keadaan kita terasa begitu menyenangkan, hati-hatilah jangan sampai kita melupakan Tuhan. Sebaliknya, ketika keadaan terasa begitu berat, sadarlah bahwa Tuhan adalah sumber sukacita abadi kita.

Starbucks Rest Area Km 39,

 

BinsarGideon

Advertisements

About Gideon Sitorus

Love Live Learn Blog
This entry was posted in Bergaul dengan Tuhan and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s