Injak

langkah

Pada waktu itu Musa bersumpah, katanya: Sesungguhnya tanah yang diinjak oleh kakimu itu akan menjadi milik pusakamu dan anak-anakmu sampai selama-lamanya, sebab engkau tetap mengikuti TUHAN, Allahku, dengan sepenuh hati. (Yosua 14:9 TB)

Malam minggu yang lalu gereja saya merayakan penutupan minggu puasa dengan worship night. Buat saya secara pribadi, puasa awal tahun kali ini bisa dibilang berantakan, dari rencana ‘water only’ fast selama lima hari malah menjadi puasa sampai jam 3 sore. Jauh dari komitmen awal tapi setidaknya masih ikut ambil bagian. Malam itu saya sangat menikmati worship night, terkadang air seteguk menjadi begitu bernilai ketika kita begitu haus. Ada yang sedikit berbeda dengan worship night biasanya karena ada Firman Tuhan singkat yang dibagikan,

Firman malam itu berbicara tentang Abraham yang berdiri diatas janji Tuhan bahwa dia suatu saat akan memiliki anak. Mungkin pembahasan ini sudah menjadi pembahasan yang sudah ratusan kali saya dengar. Tetapi entah mengapa pembahasan malam itu seperti nyangkut di pikiran saya. Beberapa hari setelah malam itu, ketika saya sedang mengendarai mobil, tiba-tiba Roh Kudus mengingatkan saya tentang ayat yang sudah saya tulis diatas. Lalu saya mencoba merangkai dari apa yang Roh Kudus ingatkan dengan Firman yang saya dengar malam itu.

Ayat tersebut menuliskan perkataan yang diucapkan Musa kepada Yosua. Kunci dari perkataan Musa adalah menginjak tanah atau berdiri diatas tanah. Saya beberapa kali mendengar banyak tindakan profetis “menginjak tanah” yang dilakukan banyak anak Tuhan dan akhirnya betul-betul tanah yang mereka injak menjadi milik mereka. Akan tetapi, saya percaya ada maksud yang lebih dalam dari sekedar menginjak tanah secara fisik. Jika hanya sekedar menginjak tanah, maka Tuhan pasti akan bingung. Bayangkan jika ada 2 anak Tuhan menginjak tanah yang sama dan mengklaim bahwa itu adalah milik mereka, Tuhan akan memasuki situasi dilematis.

Dalam hidup kita ini ada begitu banyak tanah, ada tanah berkat, tanah sukacita, tanah kelimpahan, tanah terobosan, dsb. Sebaliknya, ada juga tanah kekuatiran, tanah mengasihi diri sendiri, tanah kutuk, dsb. Apapun yang kita pilih untuk kita injak akan menjadi milik kita. Jika kita memilih untuk menginjak tanah berkat maka berkat akan menjadi milik kita. Sebaliknya, jika menginjak tanah kekhawatiran maka hidup kita adalah hidup yang penuh dengan rasa khawatir.

Tidak peduli apapun situasi kita saat ini, yang terpenting adalah kemana kita melangkah. Kita mungkin sedang berdiri diatas tanah kekahwatiran, akan tetapi, kita bisa memutuskan melangkah menuju tanah iman dan berdiri disana. Ayat diatas juga mengatakan bahwa penting untuk kita mengikuti Tuhan. Ikuti langkah Tuhan. Abraham mengikuti. Yosua mengikuti. Daud mengikuti. Paulus mengikuti. Petrus mengikuti. Yesus mengikuti. Dimanapun posisi kita saat ini, pastikan bahwa langkah kita selanjutnya adalah langkah yang sama dengan langkah Tuhan.

Selamat menginjak dan melangkah.

 

Cheers,

Binsargideon

Advertisements

About Gideon Sitorus

Love Live Learn Blog
This entry was posted in Bergaul dengan Tuhan and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s