Patah

patah

Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati,dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya. (Mazmur  34:19 TB)

Pagi ini ketika saya terbangun saya membuka Mazmur 34 untuk mengulang kembali Firman Tuhan yang disampaikan lewat mimbar pada hari minggu kemarin. Akan tetapi, ditengah pembacaan saya, saya terhenti pada ayat yang saya tulis diatas (ayat ini sebetulnya tidak dibahas pada firman kemarin) dan saya mulai merenungkan ayat ini untuk beberapa saat.

Patah hati adalah sebuah masa yang tidak mungkin dapat kita hindari. Sama seperti ketika membawa mobil, akan ada saat dimana jalan tertutup dan kita dialihkan melalui jalur yang sebetulnya tidak kita harapkan. Ketika kita mengucapkan “halo” kepada sesuatu/seseorang maka kita akan berhadapan dengan saat dimana kita harus berkata “selamat tinggal”. Tidak ada selamat tinggal yang mudah, apalagi jika hal/orang tersebut memiliki tempat yang berarti di hati kita. Bahkan ada saat dimana hal itu begitu sulit untuk dilewati dan meremukkan jiwa kita.

Tuhan tidak menjanjikan kehidupan tanpa patah hati. Patah hati itu pasti. Akan tetapi, Tuhan menjelaskan dimana keberadaanNya ketika kita sedang patah hati. Ia begitu dekat dengan kita. Tidak ada hal yang lebih menenangkan dibanding kita tahu dan sadar bahwa Ia berada didekat kita. Oleh karena itu, jangan sia-siakan patah hati kita. Jangan memilih untuk mendekati hal-hal yang sebetulnya hanya terlihat menghibur tetapi malah sebaliknya akan semakin menghancurkan. Bangun hubungan pribadi yang lebih intim, gali sumur kehausan kita akan Tuhan lebih dalam, baca dan renungkan kebenaran lebih giat lagi.

Saya tidak berkata ini akan mudah tapi pada akhirnya tidak akan pernah sia-sia. Tubuh kita ditopang oleh kaki dan kita tahu fungsi kaki kita adalah untuk bergerak. Tubuh kita dirancang untuk bergerak bukan untuk diam. Tidak mudah untuk bergerak ketika semuanya begitu hancur, tapi putuskan untuk bergerak, jangan diam dan meratapi hidup. Tidak berdosa ketika kita meratap, yang menjadi salah adalah ketika kita meratap seolah-olah tidak ada hari esok. Sekali lagi saya tekankan, tidak mudah tetapi tidak akan pernah sia-sia.

Sukacita yang sejati bukan tergantung kepada situasi, pribadi, atau keadaan tertentu. Semuanya itu bersifat sementara. Sukacita sejati adalah ketika kita tahu bahwa Ia adalah Tuhan yang dekat dengan kita.

Selamat patah hati

Cheers,

BG
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

About Gideon Sitorus

Love Live Learn Blog
This entry was posted in Bergaul dengan Tuhan and tagged , , . Bookmark the permalink.

One Response to Patah

  1. esra sitinjak says:

    “Tuhan tidak menjanjikan kehidupan tanpa patah hati. Patah hati itu pasti. Akan tetapi, Tuhan menjelaskan dimana keberadaanNya ketika kita sedang patah hati. Ia begitu dekat dengan kita”.

    Kerennnn bang Gid!
    Semoga orang-orang yang patah hati menemukan keberadaanNya dalam hidup mereka 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s