Tentang Pilpres Amerika

trump.jpg

2 hari terakhir ini linimasa sosial media saya, situs portal berita, dan berbagai sumber informasi lainnya sedang larut dalam pembicaraaan tentang figur maha kontroversial yang baru saja memenangkan pilpres Amerika. Namanya Donald Trump. Suka tidak suka, setuju tidak setuju, Donald Trump telah berhasil membalikan keadaan. Tidak disukai berbagai-bagai pihak (termasuk partainya sendiri), diserang dengan berbagai cara, dan ditinggalkan begitu banyak “pendukungnya”, kalah debat, kalah survey, dan berbagai ketidakmungkinan untuk menang, tetap dia berhasil memenangi pemilihan presiden Amerika Serikat.

Kemenangan ini membuktikan bahwa Tuhan itu ada. Jangan salah menilai saya, saya bukan sedang mengendorse Donald Trump dan mengatakan bahwa pemilih Hillary adalah penentang Tuhan, tapi kita perlu sadar bahwa tidak mungkin kalau bukan Tuhan yang mengatur semuanya. Berbagai analisa bermunculan mengenai kemenangan Donald Trump (saya membaca beberapa diantaranya), tapi buat saya, ayat dibawah memegang kunci utama. Tuhan menggerakan hati para pemilih.

Hati raja seperti batang air di dalam tangan TUHAN , dialirkan-Nya ke mana Ia ingini. (Amsal 21:1 TB)

Ironisnya, berbagai berita ketakutan mulai menyebar sebagai akibat dari kemenangan ini, beberapa diantaranya cenderung tidak masuk akal, bagaimana mungkin seseorang berpikir untuk imigrasi ke negara lain akibat hasil pilpres ini. Apakah migrasi menjadi jawaban? Tidak, sama sekali tidak. Tempat paling aman adalah ketika kita berada pada pusat kehendak Tuhan untuk kita pribadi. Ada masanya Tuhan berkata untuk kita tinggal, ada masanya Tuhan berkata untuk kita pergi. Tinggal dan pergi bukanlah masalahnya, tetapi peka dengan tuntunan Tuhan adalah kuncinya.

Tuhan berkata kepada Lot untuk pergi ketika Ia menghancurkan sodom dan gomora. Apakah Tuhan tidak bisa membuat perisai perlindungan untuk keluarga Lot ketika api dari langit menghancurkan sodom dan gomora? bisa, bukan hanya bisa tapi gampang, tapi kehendak Tuhan berkata Lot harus pergi. Ceritanya menjadi berbeda ketika Tuhan membunuh semua anak sulung di mesir, Tuhan tidak berkata kepada bangsa Israel untuk pergi, Tuhan memerintahkan untuk tetap tinggal dan mengoleskan darah anak domba di ambang pintu rumah. Terkadang Tuhan berkata untuk kita pergi, terkadang Tuhan berkata kita harus tinggal.

Saya berdoa bahwa di situasi dunia yang sangat tidak menentu, kita bukan jadi orang-orang yang beroperasi dibawah roh ketakutan, tapi kita belajar untuk peka untuk tahu apa yang menjadi kehendak Tuhan untuk kita.

Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku! (Maz 42:5 TB)

Cheers,

BG

Advertisements

About Gideon Sitorus

Love Live Learn Blog
This entry was posted in Bergaul dengan Tuhan and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s