Meluputkan Diri

1604

Lalu bersiaplah Daud dan orang-orangnya, kira-kira enam ratus orang banyaknya, mereka keluar dari Kehila dan pergi ke mana saja mereka dapat pergi. Apabila kepada Saul diberitahukan, bahwa Daud telah meluputkan diri dari Kehila, maka tidak jadilah ia maju berperang. (1 Samuel 23:13 TB)

Daud seorang pahlawan gagah perkasa penuh dengan urapan dan penyertaan Tuhan memutuskan untuk meluputkan diri dari medan pertempuran. Dalam bahasa sehari-harinya, Daud kabur. Apa yang Daud kerjakan sepertinya bertolak belakang dengan janji Tuhan yang akan terus memberi kemenangan kepada Daud. Akan tetapi, dari kisah ini kita belajar bahwa memang ada waktunya untuk kita mundur.

Saya pernah mendengar pepatah tiongkok kuno yang berkata, “Strategi terhebat dalam sebuah peperangan adalah mengetahui kapan waktu yang terbaik untuk mundur”. Seringkali dalam kehidupan kita perlu mundur untuk bisa menyelesaikan apa yang Tuhan ingin kita selesaikan. Yesus disatu sisi adalah pribadi yang berani menghardik orang-orang farisi tetapi ada saat dimana Yesus memilih untuk meluputkan diri dari gerombolan orang yang menginginkan kematianNya.

Tidak semua masalah perlu kita hadapi, ada masalah yang sebetulnya hanya perlu kita hindari. Ketika kita sedang membawa mobil dan kita melihat ada mobil yang mogok didepan kita, maka hal yang terbaik yang kita bisa lakukan (jika kita karena satu dan lain hal tidak dapat menolongnya) adalah mundur dan mengambil jalur lain untuk melanjutkan kembali perjalanan kita. Sebaliknya, hal terbodoh yang bisa lakukan adalah mencoba memaksakan mobil didepan kita untuk berfungsi kembali dengan membunyikan klakson keras-keras.

Saya seringkali terjebak dalam adu argumen dengan orang-orang di sekitar saya. Tujuannya hanya untuk sekedar siapa yang benar dan siapa yang salah. Seringkali saya yang menang. Ya saya memang menang, tetapi saya kehilangan ikatan antara saya dan orang tersebut. Daud memilih tinggal di padang gurun dibanding maju berhadapan dengan Saul. Daud bukan takut kepada Saul. Daud sadar betul kapan waktunya maju dan kapan waktunya mundur. Hal yang sama juga harus kita miliki dalam melihat setiap tantangan atau mungkin masalah. Kita perlu peka akan tuntunan Roh Kudus, apakah Ia meminta untuk terus maju atau malah Ia minta kita untuk mundur.

Mungkinkah situasi yang sedang kita hadapi saat ini adalah saat yang tepat untuk mundur sejenak?

 

Cheers,

BG

 

 

 

Advertisements

About Gideon Sitorus

Love Live Learn Blog
This entry was posted in Bergaul dengan Tuhan and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s