Akademi

akademi-kepolisian-logo

Lalu raja bertitah kepada Aspenas, kepala istananya, untuk membawa beberapa orang Israel, yang berasal dari keturunan raja dan dari kaum bangsawan, yakni orang-orang muda yang tidak ada sesuatu cela, yang berperawakan baik, yang memahami berbagai-bagai hikmat, berpengetahuan banyak dan yang mempunyai pengertian tentang ilmu, yakni orang-orang yang cakap untuk bekerja dalam istana raja, supaya mereka diajarkan tulisan dan bahasa orang Kasdim. (Daniel 1 : 3-4 TB)

Saya adalah orang yang suka mengikuti perkembangan di dunia kepolisian. Segala hiruk-pikuk, konflik, dan apapun terkait dunia kepolisian adalah hal yang sangat menarik untuk diikuti. Tidak banyak yang tahu bahwa posisi-posisi penting dan strategis dalam kepolisian seperti kapolri, kapolda, kabareskrim, kabaintelkan (apapun yang dimulai dengan ka) dan banyak posisi lainnya bukan untuk semua polisi melainkan hanya untuk mereka yang masuk kepolisian lewat jalur AKPOL (akademi kepolisian). Akademi ini akan menggembleng para kadernya untuk mempersiapkan menjadi pemimpin-pemimpin di masa depan.

Tokoh alkitab bernama Daniel adalah contoh orang yang melewati pendidikan ketika masuk kedalam kerajaan Babel. Ayat diatas menjelaskan bahwa Daniel bukanlah orang bodoh yang tidak terpelejar yang membutuhkan pendidikan, malah sebaliknya Daniel adalah keturunan bangsawan, berperawakan baik, menguasai berbagai-bagai hal yang belum tentu dimengerti oleh orang lain. Kapasitas yang begitu luar biasa yang dimiliki Daniel tidak serta-merta membuat dia terbebas dari pendidikan. Ada masa tiga tahun pembentukan yang tidak mudah untuk dilewati yang harus dilalui oleh Daniel.

Mengapa Daniel harus melewati itu semua? Karena ia sedang dipersiapkan untuk bekerja didalam istana. Semua orang, bisa atau mungkin pernah masuk kedalam istana, tetapi belum tentu semuanya punya kualifikasi khusus untuk bisa bekerja di istana. Istana berbicara mengenai tingkatan yang baru, akses yang luas, fasilitas yang luar biasa, dan begitu banyak hal-hal luar luar biasa yang dapat kita nikmati. Akan tetapi, Istana juga berbicara tentang tanggung jawab yang besar karena setiap keputusan yang diambil di Istana akan menentukan hidup begitu banyak orang.

Hal yang sama ketika Tuhan mendidik kita dengan berbagai-bagai hal yang secara daging tidak mudah untuk kita lalui. Proses ini bukan karena kita kurang rohani, kurang baca alkitab, kurang bergaul intim dengan Tuhan, tetapi semata-mata karena Tuhan ingin kita siap ketika kita bekerja di ‘istana’. Ketika kita melaui proses pendidikan Tuhan jangan menyerah, jangan mundur, apalagi menggerutu. Justru kalau hidup kita terasa datar-datar saja seolah-olah tidak ada masalah ataupun tantangan, jangan-jangan kita tidak masuk masa pendidikan khusus.

Pada akhir dari pada akhir zaman ini, saya yakin pendaftaran untuk masuk dalam akademi surga terbuka lebar. Tuhan sedang mencari orang-orang yang mau dididik untuk diberi berkat yang besar, dan tanggung jawab dan mandat yang besar. Pertanyaannya bukalah apakah Tuhan akan menmberikan semuanya itu melainkan apakah kita dengan segala ‘kelebihan’ kita tetap mau dan rela untuk masuk proses pendidikan Tuhan.

Sepintar atau sehebat apapun kita, tetap kita perlu pendidikan.

Cheers,

BG

 

Advertisements

About Gideon Sitorus

Love Live Learn Blog
This entry was posted in Bergaul dengan Tuhan and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s