Tidak Penting

Ayak

Dalam perjalananku aku sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak orang-orang Yahudi dan dari pihak orang-orang bukan Yahudi; bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut, dan bahaya dari pihak saudara-saudara palsu. Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian, dan, dengan tidak menyebut banyak hal lain lagi, urusanku sehari-hari, yaitu untuk memelihara semua jemaat-jemaat. (2 Kor 11:26-28 TB)

Klasifikasi pembuat kue di dunia ini dibagi menjadi dua. Mama saya dan lainnya. Silakan dipesan jika penasaran. Harga murah kualitas selangit. Ah, kok saya malah berdagang. Musim lebaran dan natal adalah kesibukan tersendiri untuk mama saya karena pesanan kue-kue kering yang mulai berdatangan dari berbagai penjuru mata angin. Saya suka buatannya karena tidak ada beban biaya yang dikenakan setelah menikmatinya.

Hari ini saya belajar sesuatu yang tidak penting yang ternyata penting dalam proses pembuatan kue. Setelah mencampur beberapa bahan dasar di mangkok besar untuk adonan, mama saya mulai mengayak terigu ke atasnya. Proses mengayak terigu ini terlihat sangat-sangat tidak berguna. Bukankah harusnya terigunya dituang saja langsung dari kemasannya ke dalam adonan? Mengapa harus melewati proses ayakan? Toh terigu kemasan sudah cukup halus dan hampir tidak mungkin kita tidak menemukan batu didalamnya. Proses yang tidak penting tetapi penting ini harus dilakukan karena terigu yang tidak diayak bisa membuat tekstur kue menjadi berantakan. Tidak ada yang salah dengan terigunya, sudah baik dan bersih, tetapi tetap saja harus diayak.

Hidup seringkali memberi kita begitu banyak pertanyaan. Saya sudah begini, mengapa masih saja begini? Saya sudah begitu, kenapa masih saja mengalami semuanya? Seolah-olah banyak goncangan yang tidak penting tetapi toh tetap saja harus kita terjadi. Sudah berkendara dengan baik dan benar, masih saja diserempet motor. Sudah beri perpuluhan, masih saja harus deg-degan setiap kali waktunya bayar tagihan.
Dalam menghadapi ayakan, kita berbeda dengan terigu. Terigu tidak bisa menolak, kita bisa menolak. Paulus dalam segala jerih payahnya dalam pekabaran Injil masih saja kapal karam, kelaparan, dipatuk ular, dan bahkan dirajam. Kalau Paulus dengan segala ‘kelayakannya’ saja tidak mengeluh, apa dasar kita untuk mengeluh? Jika kue sudah selesai maka orang baru bisa menilai mana kue yang teksturnya melewati proses ayakan mana yang tidak diayak. Lebih baik diayak daripada tidak bisa dinikmati dan berakhir di pembuangan.

Kalau kamu sedang tergoncang, jangan-jangan kamu sedang diayak. Tenang saja, ujungnya pasti baik.

Cheers,

BG

Advertisements

About Gideon Sitorus

Love Live Learn Blog
This entry was posted in Bergaul dengan Tuhan and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s