Perduapuluhan

tithing

Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. (Lukas 6:38 TB)

Saya tidak suka kopi tetapi saya suka duduk di kedai kopi. Ada sesuatu di kedai kopi yang saya tidak bisa saya dapatkan ditempat lain. Kemarin saya duduk di kedai kopi untuk menyelesaikan beberapa pasal  dari komitmen baca Alkitab harian saya yang sudah terbengkalai beberapa hari. Saat saya sedang asik membaca, ada 4 orang dari kaum sepupu kita duduk di meja sebelah saya dan  terlibat dalam diskusi mengenai orang kristen dan kewajiban perpuluhan. Salah satu perkataan menarik yang adalah “Pantes aja gereja bisa beli layar LED gede-gede, gedungnya bagus dan gede, orang jemaatnya dipajakin 10 persen tiap bulan, emang kita, mau bangun rumah ibadat aja harus susah-susah minta kiri kanan.” Mendengar ini saya seperti ingin memberikan klarifikasi, tetapi akal sehat saya memilih untuk melanjutkan bacaan saya. Saya tidak punya data, tetapi saya yakin jumlah orang yang tidak memberi perpuluhan lebih banyak daripada yang memberi.

Bagaimana cara pandang kita terhadap perpuluhan? Banyak orang menentang perpuluhan tetapi mengangkat spanduk perjanjian 30, 60, 100 kali ganda. Seringkali ketika kita memberi selalu didasari akan “kelayakan” tempat atau pribadi yang menerima pemberian kita. “Ngapain kita ngasi ke gereja, pendetanya korupsi hidup mewah-mewah, mending kita ngasi ke tempat lain”, Seberapa sering  kita berpendapat atau mendengar hal seperti ini. Sekarang bayangkan kalau Tuhan memiliki prinsip yang sama. “Ngapain kasih anda 30 kali lipat, mending ngasi ke Afrika soalnya masih ada jutaan anak-anak yang hidup dengan kelaparan yang sangat parah”.

Persembahan selalu mengenai hati kita. Perpuluhan, perduapuluhan, pertigapuluhan, dan jumlah yang lain yang kita persembahkan lebih menggambarkan kondisi hati kita dibanding alasan-alasan kita. Tuhan memberi karena hatiNya adalah hati yang memberi. Tuhan tidak hanya membayar pajak untuk diriNya sendiri, Ia membayari pajak Petrus. Yesus sedang membayari seseorang yang Ia tahu akan segera menghianatiNya. Adakah perusahaan yang membayari kewajiban pajak dari perusahaan lain yang merugikan bisnisnya? Saya paling bingung kalau berdebat tentang teologi perpuluhan karena sejujurnya saya tidak ahli dalam teologi. Pikiran sederhana saya hanya berkata, apakah saya pantas diberkati?

Argumen apa yang mewajibkan Tuhan untuk memberkati kita? Siapa yang sanggup berdiri dan berdebat dengan Tuhan? Ayub dalam segala kesalehannya pun tidak sanggup berdebat dengan Tuhan. Saya kadang-kadang heran sama orang yang bertanya, “10 persennya dari penghasilan bersih apa kotor, sebelum apa sesudah dipotong pajak?” Tuhan lebih daripada sekedar digit di kalkulator kita.

Bagaimana cara pandang kita terhadap perpuluhan? Pajak atau sikap hati?

Cheers,

BG

 

 

 

Advertisements

About Gideon Sitorus

Love Live Learn Blog
This entry was posted in Bergaul dengan Tuhan and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s