Pada Akhirnya

jesus-ascension

Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka. (Kis 1:9 TB)

Hari ini adalah hari libur memperingati kenaikan Isa Almasih. Kenaikan Tuhan Yesus membuat saya belajar satu hal tentang fase hidup kekristenan kita. Tidak ada orang yang suka ditinggal apalagi oleh pribadi yang mereka cintai. Akan tetapi, saya mendengar begitu banyak cerita tentang perubahan positif yang terjadi ketika orang ditinggalkan oleh orang yang dia cintai. Saya baru saja membaca biografi dari penginjil luar biasa yang menyadari panggilannya ketika orang tuanya meninggal. Bukan karena ia membenci orang tuanya, tetapi pilihan untuk menjadi dewasa adalah satu-satunya pilihan yang tersedia ketika ia ditinggalkan orang tuanya.

Menurut pandangan saya, jika kita menganalogikan fase kekristenan kita dengan kehidupan murid-murid Yesus pada zaman Alkitab maka akan ada 3 fase yang akan kita lewati. Fase pertama adalah fase ‘didatangi Tuhan’. Fase dimana hidup kita begitu gelap dan Tuhan datang ke dalam hidup kita dan mengembalikan posisi kita ke rancangan awal kita sebagai manusia. Fase ini fase dimana Tuhan mendatangi para murid dan berkata, “Mari ikutlah Aku, maka kamu akan kujadikan penjala manusia.” Fase ini begitu menyenangkan, karena biasanya persoalan yang membelenggu kita untuk waktu yang lama mulai perlahan-lahan terlepas.

Fase kedua adalah fase ‘berjalan bersama Tuhan’. Fase ini adalah fase dimana murid-muridNya menyaksikan berbagai mujizat yang spektakuler. Sebagai orang kristen, biasanya ini adalah masa-masa keemasan. Masa dimana sepertinya doa dijawab begitu cepat, dan kehidupan kita sepertinya penuh dengan mujizat dan perasaan akan Tuhan yang begitu dekat dalam setiap aspek kehidupan kita. Air mata seakan-akan ditampung di bendungan yang bocor karena begitu mudahnya kita menangis bahagia setiap kali kita mulai membayangkan Tuhan.

Suka atau tidak, siap atau tidak, kita akan memasuki fase yang ketiga. Fase ini saya sebut sebagai fase ‘ditinggal Tuhan’. Fase ini begitu berat untuk murid-muridNya, ayat diatas menulis bahwa awan menutupi pandangan mereka. Perasaan sedih, pandangan kosong, dan harapan yang seolah-olah sirna adalah sesuatu yang tidak terelakkan pada saat itu. Tetapi fase ini adalah fase dimana kita melihat buah yang luar biasa dari para murid. Petrus yang begitu berani berkhotbah, Filipus yang berbicara kepada penguasa Etiopia, sampai kepada Paulus yang memberitakan Injil ke seluruh Asia.

Kekristenan bukanlah sekedar air mata di doa kita, mujizat kesembuhan, atau terobosan keuangan yang semuanya berpusat kepada kita. Betul kita membutuhkan semua itu, tetapi itu bukan tujuan, itu hanya sesuatu yang menyertai perjalanan iman kita. Kekristenan sejati itu dimulai dari fase ‘ditinggal Tuhan’. Perlu dipahami bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita, tetapi apa yang saya maksudkan adalah ketika kita dituntut untuk menjadi dewasa dalam kekristenan. Saat dimana Tuhan membiarkan kita keluar dari zona aman kita untuk masuk ke dalam zona produktif kita sebagai orang kristen. Masa ini adalah masa dimana hidup kekristenan kita bukan sekedar terlepas dari masalah, doa yang dijawab, dan lain-lain, tetapi mengenai kita tetap memberitakan injil dan menjadikan bangsa-bangsa murid Kristus dalam situasi apapun.

Pada akhirnya, setiap kita akan memasuki fase ketiga dalam hidup kekristenan kita. Apakah kita akan semakin bergairah atau malah menjadi lesu?

Cheers,

BG

 

 

 

Advertisements

About Gideon Sitorus

Love Live Learn Blog
This entry was posted in Bergaul dengan Tuhan and tagged , . Bookmark the permalink.

One Response to Pada Akhirnya

  1. Danny Djayasentana says:

    PDitinggal Tuhan, Fase ketiga, menjadi Dewasa? Saya sangat setuju.

    Kalau boleh saya berbagi pengamatan saya mengenai Kekristenan di Indonesia , Teologia Kemakmuran berhasil membelokan TUJUAN orang percaya di Indonesia, dengan di BERKATI seharusnya orang percaya mampu lebih banyak Memberitakan INJIL dan Menjadi Saluran Berkat bagi sesama, tetapi sebaliknya “sebagian besar ” Kekristenan menjadi begitu EGOIS, bukan AMANAT AGUNG yang menjadi FOKUS hidup ” mereka”, tetapi KENYAMANAN & KEMAPANAN yang di kejar, hidup untuk diri sendiri, itu terlihat dari GAYA HIDUP jemaat di kota2 besar di Indonesia, berbeda dengan Kekristenan yang Radikal di China, Penganiayaan & Penderitaan karena Salib Kristus, Karena Injil, membuat HANYA JIWA2 adalah OBSESI mereka, HIDUP Kekristenan yang penuh Kuasa Allah dibuktikan melalui Kekristenan bawah tanah di China, Penganiayaan akan Injil & Salib Kristus menjadi Sukacita & Kebahagiaan mereka, bukan kata2 BERKAT yang terdengar dalam doa2 mereka, FOKUS mereka hanya Jiwa2.

    Akan Tiba masa KEDEWASAAN untuk Kekristenan di Indonesia, dan akan segera Teruji, siapa Pengikut KRISTUS SEJATI, ” Masa itu adalah masa PENGANIAYAAN.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s