Paku dan Duri

Nail And Crown of Thorns

Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. (Roma 5:8 TB)

Beberapa hari yang lalu dunia digemparkan oleh teror yang melanda ibukota Belgia. Puluhan orang tewas dan ratusan orang terluka parah. Perhatian dunia kembali tertuju kepada kelompok tertentu dan kekuatan dunia saling bersumpah untuk memerangi teror dengan kekuatan yang lebih gila. Saya sendiri bingung akan pertanyaan yang harus saya ajukan; Kapankah ini akan berakhir? Atau apakah ini akan berakhir?.

Sesungguhnya kelompok ini adalah kelompok yang ‘menarik’ untuk dipelajari. Mereka sebetulnya dalam pengertian tertentu bergerak dalam apa yang mereka percayai sebagai ketaatan. Mereka saling berlomba untuk mengorbankan diri mereka untuk apa yang mereka percayai sebagai ketaatan kepada ‘kehendak Tuhan’. Padahal sebetulnya fokus mereka adalah hadiah yang mereka percayai akan mereka dapat di kehidupan berikutnya.

Beberapa hari terakhir ini saya mencoba untuk melihat paskah dengan kacamata kelompok ini. Bukankan Yesus juga melakukan hal yang sama? Bukankah perjalanan Yesus di dunia adalah sebuah perjalanan ‘bunuh diri’. Bukankah yang menyalibkanNya adalah ketaatanNya kepada kehendak Bapa di sorga?

Lalu dimana letak perbedaannya? Sebenarnya perbedaan dasarnya adalah siapa yang mereka taati. Banyak orang taat sampai mati demi apa yang mereka percayai akan mereka dapat, mereka taat kepada hadiah. Yesus taat terlepas dari apapun yang akan Dia dapat. Ayat diatas adalah sebuah penjelasan yang tidak terbantahkan bahwa Yesus sebenarnya sedang ‘berjudi’ dalam ketaatanNya. Yesus tidak taat setelah semua dunia bertobat, melainkan Ia taat jauh sebelum dunia bertobat. Lebih jauh lagi, Yesus tidak mati dengan hitungan detik bersamaan dengan meledaknya bom, melainkan Ia harus melewati jam demi jam akan sakitnya tusukan paku dan duri yang menghancurkan setiap bagian tubuhNya.

Banyak orang taat kepada ambisinya untuk menjadi nomor satu, apapun akan dia kerjakan demi tahta sebagai orang nomor satu. Apapun yang ambisinya perintahkan akan dia kerjakan, sekalipun itu melukai orang lain. Banyak orang taat kepada egonya, bahkan ketika egonya berkata dia harus bunuh diri, maka ia akan mengerjakannya. Jika kita taat kepada sesuatu yang fokusnya kepada diri kita sendiri, apa bedanya kita dengan mereka?

Ibrani 11 adalah pasal dimana cerita tentang para pahlawan iman digoreskan dengan tinta emas. Hampir semua berakhir dengan hal yang indah secara manusia, sampai kita sadar bahwa pasal itu diakhiri dengan pernyataan menarik dari ketaatan.”Dan mereka semua tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, sekalipun iman mereka telah memberikan kepada mereka suatu kesaksian yang baik.” (Ibrani 11: 39 TB)

Bagaimanakah jika ketaatanmu tidak berujung pada hadiah yang engkau inginkan? Bisakah engkau tetap taat?

 

Cheers,

Binsar Gideon

 

 

Advertisements

About Gideon Sitorus

Love Live Learn Blog
This entry was posted in Bergaul dengan Tuhan and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s