Jas Hujan

Hari itu saya bertemu dengan nasabah saya di salah satu mall di Jakarta Selatan. Setelah semuanya selesai, saya bergegas untuk segara pulang karena cuaca sedang tidak menentu dan saat itu saya tidak menggunakan mobil melainkan sepeda motor. Ketika saya sampai di lobby untuk menuju tempat parkiran motor, saya sudah curiga dengan banyaknya orang yang sedang berdiri di lobby, dan kecurigaan saya terbukti benar. Hujan deras bahkan sangat deras (keesokan paginya saya membaca berita bahwa hujan berlangsung sepanjang malam tanpa henti).

Malam semakin larut namun keaadaan tidak bertambah baik, karena saya baru sadar bahwa tidak ada jas hujan di motor. Masalah pertama, cara menuju parkiran ditengah hujan yang begitu deras (parkiran motor saya sedikit berjarak dengan mall tersebut) belum terpecahkan, masalah kedua sudah muncul di antrian. Apakah saya harus pulang dengan kondisi basah kuyub? Saya hanya bisa menunggu dan menunggu.

Setelah beberapa saat menunggu, tiba-tiba datanglah mobil mewah di depan saya dan pintu dibuka. Beberapa orang dengan jas hujan yang basah turun dari mobil. Saya sendiri heran, bagaimana mungkin orang-orang ini masuk kedalam mobil dengan basah-basahan seperti itu. Tidak lama kemudian salah seorang dari mereka yang turun membuang jas hujan yang sedang mereka kenakan (memang jas hujannya adalah tipe jas hujan murah yang hanya untuk beberapa kali pakai). Karena satu orang membuang jas hujan, 3 temannya yang lain bersiap melakukan hal yang sama. Hati saya bimbang, apakah saya harus meminta jas hujan tersebut. Saya memutuskan untuk diam dan menyaksikan mereka bergiliran membuang jas hujan mereka di tempat sampah yang berada didepan saya. Fokus saya pun terpusat pada tong sampah yang berisi jas hujan yang sebetulnya akan sangat membantu saya dalam perjalanan pulang. Hati ingin mengambil, tetapi gengsi terlalu tinggi.

Ditengah-tengah pertikaian batin antara gengsi dan kebutuhan, tiba-tiba datang seseorang yang mendatangi satpam di lobby tersebut. Dengan suara pelan orang tersebut meminta izin kepada satpam untuk mengambil jas hujan didalam tong sampah tersebut. Satpam mengijinkan dan dia langsung mengambil. Melihat itu, saya berkata kepada diri saya sendiri “sekarang atau tidak sama sekali.” Akhirnya saya putuskan untuk mengambil jas hujan yang masih tersisa dan tidak lama setelah saya mengambil, datang juga 2 orang melakukan hal yang sama. Seandainya saya masih mengeraskan hati demi gengsi, mungkin saya pulang dengan basah kuyup dan menyesali kebodohan saya.

Singkatnya saya pulang dengan tidak basah kuyup berkat jas hujan tersebut. Ditengah perjalanan pulang, saya mengucap syukur kepada Tuhan yang menyediakan pertolongan pada waktunya dan mengijinkan saya memiliki sebuah cerita penyediaan Tuhan lainnya dalam hidup saya.

Cheers,

BG

IMG_20160301_104842

Advertisements

About Gideon Sitorus

Love Live Learn Blog
This entry was posted in Kesaksian Saya and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s