Apapun Situasinya

God Invite

Pagi ini ketika saya berdoa, saya diingatkan tentang perumpaan anak yang hilang. Sebuah perumpamaan yang diceritakan oleh Yesus untuk menggambarkan keberhargaan kita sebagai anak di mata Allah.

Ketika saya merenungi kisah tersebut, saya sangat bersyukur akan gambaran Allah pada kisah tersebut. Terhadap anak bungsu yang hidup semaunya sendiri, Allah berlari untuk mendapatkannya. Terhadap si sulung yang begitu lelah mengerjakan bagiannya dalam hidupnya, Allah keluar untuk mendapatkannya. Semua itu dilakukan agar kedua anakNya dapat menikmati pesta yang sedang Ia buat. Pilihan jatuh kepada masing-masing anakNya, apakah mereka mau menikmati pesta atau mereka memilih untuk tetap tinggal diluar.

Dalam kehidupan kekristenan, ada banyak orang yang bertindak sebagai si sulung dan tidak sedikit pula yang menunjukkan bahwa dia anak bungsu. Situasi anak sulung adalah tahun-tahun yang penuh dengan kerja keras di ladang Tuhan dan melihat begitu banyak jiwa dituai. Hidup dari puasa kepada puasa berikutnya, dari doa kepada doa berikutnya, mengorbankan begitu banyak kepentingan dan kenikmatan pribadi untuk kepentingan Tuhan, tetapi seolah-olah tidak ada penghargaan yang terlihat, bahkan untuk sebuah perayaan ucapan terima kasih yang sederhana, sepertinya tidak mungkin.

Disisi lain, mungkin ada orang yang hidupnya begitu hancur berantakan, penuh dengan hal-hal negatif dan najis dan dalam titik tertentu mereka milih untuk kembali kepada Bapa dan tiba-tiba Tuhan angkat dia begitu rupa sehingga hidup terlihat begitu menyenangkan. Fokus dari pesta tersebut bukanlah kembalinya anak bungsu melainkan kebahagiaan Allah karena mendapat apa yang selama ini terhilang. Jika sang ayah tidak berbahagia ketika anaknya kembali, saya yakin tidak akan ada pesta yang diselenggarakan.

Apapun situasi kita pada hari ini, Allah yang mengambil inisiatif untuk datang mendapatkan kita dan Dia ingin setiap dari kita masuk dan menikmati kebahagiaaNya. Bisakah kita berbahagia ketika Allah sedang berbahagia? atau kita begitu disibukkan dengan kesusahan kita sendiri sehingga kita secara tidak sadar menolak undangan dari Allah untuk berbahagia?

Bagaimana jawabanmu?

Cheers,

BG

 

 

Advertisements

About Gideon Sitorus

Love Live Learn Blog
This entry was posted in Bergaul dengan Tuhan and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s