Dimana Jatuhnya?

Where did it fall

Tetapi berkatalah abdi Allah: “Ke mana jatuhnya?” Lalu orang itu menunjukkan tempat itu kepadanya. Kemudian Elisa memotong sepotong kayu, lalu dilemparkannya ke sana, maka timbullah mata kapak itu dibuatnya. (2 Raja-Raja 6:6 TB)

Hari ini adalah hari ke-13 dari tahun 2016. Waktu terasa begitu cepat tanpa memberikan toleransi kepada siapapun untuk menghentikannya walau untuk sejenak. Secara hitungan minggu, kita sudah menjalani 2 minggu, yang berarti 50 minggu lagi yang tersisa. Tahun 2015 sedikit demi sedikit mulai memudar dalam ingatan kita, karena begitu banyak yang harus kita kerjakan di tahun 2016 ini.

Diawal tahun ini saya teringat akan suatu peristiwa di perjanjian lama, ketika serombongan nabi dibawah Elisa sedang menebang pohon untuk membangun rumah. Dalam prosesnya, tiba-tiba mata kapak seorang nabi terlepas dan jatuh kedalam air. Keadaan semakin diperparah dengan fakta bahwa kapak itu adalah barang pinjaman yang harus dikembalikan dengan tanggung jawab. Ditengah ketidakmungkinan, kemustahilan, perasaan bersalah, kehilangan kepercayan diri, tiba-tiba Elisa bertanya kepada nabi tersebut “Dimana jatuhnya?”

Pertanyaan ini bukanlah pertanyaan yang membutuhkan jawaban dari kalkulasi yang rumit, dan pemikiran yang dalam. Pertanyaan ini seolah-olah berkata “Apakah kamu mau jujur tentang kejatuhanmu?” Tuhan Yesus menanyakan pertanyaan yang sama ketika Maria menangisi Lazarus. Ia bertanya “Dimana kamu baringkan dia?” Sebuah pertanyaan yang bukan menandakan bahwa Tuhan dibatasi oleh ruang dan waktu, melainkan sebuah pertanyaan yang mau menggali seberapa jujur kita dihadapan Tuhan.

Bagaimana kita menjalani 2 minggu pertama yang sudah Tuhan berikan? Apakah ada hal-hal tidak baik di tahun 2015 yang masih kita bawa di tahun 2016. Apakah ada kegagalan, frustrasi, kejatuhan, kesedihan di 2015 yang masih meneror kita di 2016 ini? Jika kita tidak membereskannya maka tanggal demi tanggal akan kembali terbuang dengan sia-sia. Apakah kita mau hidup dalam siklus yang bukan merupakan rencana Allah dalam hidup kita? Atau apakah hidup itu sekedar menghabiskan hari demi hari tanpa tahu bahwa kita adalah umat yang lebih dari pemenang?

Hari ini Tuhan bertanya kepada setiap kita, “dimana jatuhnya?” Ceritakan apa adanya kepada Tuhan dan biarkan Dia melakukan mujizatNya ditempat dimana kita berasa bahwa ini adalah titik kegagalan kita. Kejujuran kita tidak pernah dan tidak akan pernah berujung akan penuduhan dari Tuhan, malah dalam kesetiaanNya Ia akan membawa kita membalikan setiap kejatuhan menjadi kemenangan. Jangan biarkan setiap hari di 2016 lewat tanpa kita jujur dihadapan Tuhan. Setiap orang tua dunia yang waras akan merasa bahagia dan dipercayai ketika anaknya berani mengaku kegagalan mereka, terlebih Tuhan kita yang tidak memiliki unsur dosa didalamNya.

Maukah kamu jujur dihadapan Tuhan?

Cheers,

BG

 

 

Advertisements

About Gideon Sitorus

Love Live Learn Blog
This entry was posted in Bergaul dengan Tuhan and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s