Tahun 2016 – Tahun Pintu Kulkas

filled_fridge

Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. (Matius 11:29 TB)

Hari ini ada satu kejadian menarik yang membuat saya belajar sesuatu yang juga cukup menarik. Saya pulang kerumah melihat papa saya sedang makan mie instan. Bukan dia yang memasak melainkan adik saya. Alasan ayah saya mengkonsumsi mie instan adalah karena tidak ada makanan dirumah. Saya mencoba menarik episode memasak mie instan mundur beberapa saat. Episodenya pasti kurang lebih seperti ini, papa membuka tudung saji dan tidak ada apapun yang tersedia, peruntungannya kembali dicoba dengan membuka kulkas, dan hasil yang sama didapatkan, tidak ada makanan yang siap dikonsumsi atau dihangatkan. Tidak bisa menahan lapar maka jalan pintas diambil. Pintu kulkas ditutup dan padangan bergeser ke kardus besar berisi mie instan. Hanya butuh 5 menit untuk memasak dan 15 menit untuk makan. Lapar hilang.

Tidak lama berselang, mama saya membuka tudung saji yang sama dengan iman yang sama dan hasilnya nihil. Target berikutnya adalah pintu kulkas, dan pemandangan yang sama didapatkan. Tidak ada makanan yang siap. Tetapi mama saya membiarkan pintu kulkas tetap terbuka dan mulai mengambil apa yang ada didalam kulkas, dan dengan waktu yang lebih panjang, tiba-tiba tercium aroma rendang khas rumah tangga sitorus yang menyerbak, mengalahkan pewangi ruangan di bioskop-bioskop ternama di jakarta.

Kalau pada episode mie instan, yang tersedia hanya 1 porsi mie instan untuk sekali santap. Episode rendang menayangkan rendang dalam jumlah yang banyak, yang kalau dimakan sewajarnya tanpa dirasuki roh rakus mungkin bisa untuk sekeluarga makan selama 3 hari.

Bagaimana mungkin kulkas yang sama memberikan hasil yang berbeda? Apa yang membedakan? Satu mengerti cara mengolah apa yang dimiliki, satu tidak mengerti cara mengolah. Yang mengerti cara yang mengolah membutuhkan waktu yang lebih lama, proses yang lebih panjang, dan wajan yang lebih panas, sedangkan kondisi yang satu hanya butuh sedikit waktu, proses yang seadanya, dan wajan yang tidak terlalu panas.

Kekristenan juga sama, waktu kita kecil semua tersedia, tetapi lambat laun Tuhan ingin kita mengerti bagaimana hal itu bisa tercipta. Seringkali dalam menghadapi masalah kita berteriak begitu keras seolah-olah Tuhan itu Tuhan yang tuli dan tidak perduli. Padahal jika kita mau menyadari Tuhan sudah memberi begitu banyak didalam ‘kulkas’ kita. Belajar untuk melihat apa yang Tuhan sudah beri dan belajar untuk mengolahnya dengan buku resep yang berjudul Alkitab. Berhenti untuk selalu punya mentalitas kekurangan sehingga kita tidak pernah puas dengan apa yang Tuhan beri.

Cerita dua talenta dan lima talenta berakhir pada pujian dari sang Tuan. Kemampuan Yakub mengolah kacang merah menjadi sup kacang merah memberinya hak kesulungan. Tuhan membelah laut merah setelah Musa mulai menggunakan tongkat yang Tuhan berikan dalam hidupnya. Setiap kali kita tergoda untuk ngambek sama Tuhan, ambil waktu sebentar untuk membuka ‘kulkas’ kita dan lihat sudah begitu banyak yang Dia beri, sampai mungkin ada beberapa hal yang sudah basi karena kita tidak pernah gunakan. Stop komplain. Belajarlah untuk mengolah.

Tahun 2016 adalah tahun dimana waktunya untuk kita membuka pintu kulkas.

Cheers,

BG

 

 

Advertisements

About Gideon Sitorus

Love Live Learn Blog
This entry was posted in Bergaul dengan Tuhan and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s