Tidak Layak Huni

Tidak Layak Huni

Sebab bukan orang yang memuji diri yang tahan uji, melainkan orang yang dipuji Tuhan. (2 Korintus 10:8 TB)

Baru-baru ini saya diajak untuk melayani sebuah kebaktian kecil di apartemen di bilangan Jakarta Barat. Setelah menempuh kemacetan sore khas kota Jakarta, akhirnya kami tiba di lokasi. Kompleks apartemennya bisa dibilang kecil. Ada dua apartemen dan beberapa ruko perkantoran di kompleks apartemen tersebut. Jarak antara apartemen yang satu dengan yang lainnya tidak begitu jauh, hanya dipisahkan oleh koridor dengan panjang sekitar 30 meter. Ada 2 hal yang menarik perhatian saya, yang pertama, ada 6 gereja di dalam apartemen kecil tersebut. Saya tidak bisa membayangkan apa yang terjadi pada hari minggu, mungkin ada orang yang datang masuk ke gereja yang ‘salah’. Tetapi hal kedua yang menarik hati saya adalah, ada banyak tempelan pengumuman dari pemerintah yang menyatakan bahwa bangunan tersebut tidak layak huni dan tidak lolos uji kebakaran. Ironi bukan? Disatu sisi sangat ‘rohani’, disisi lain tidak tahan uji.

Ada dua kesimpulan yang saya belajar dari apartemen tersebut. Pertama, sesuatu yang terlihat sangat rohani belum tentu tahan uji. Seringkali kita, terutama saya, memberikan impresi betapa ‘rohani’nya kita kepada orang-orang disekeliling kita. Hal ini tidak salah, tetapi ketika masalah datang dalam hidup kita apakah impresi kerohanian yang sama dapat dilihat oleh orang yang sama? Jika tidak, tentu ini sebuah masalah yang bukan membawa kemuliaan nama Tuhan tetapi merusak gambar Tuhan didepan orang banyak. Kerohanian sejati kita akan terlihat jelas pada saat ujian datang bukan ketika kita melompat-lompat di gereja. Sebagai orang awam, kecuali sebuah gedung sudah terbukti tahan uji, sulit bagi kita untuk menilai pondasi gedung tersebut, karena sudah terkubur jauh didalam, berbeda dengan orang ahli yang bisa menilai kekuatan pondasi sebuah gedung walaupun pondasinya sudah tidak terlihat.

Kesimpulan kedua yang saya belajar adalah hukum keseimbangan. Manusia terdiri dari tiga elemen yang tidak terpisahkan yaitu tubuh, jiwa, dan roh. Tiga elemen ini harus bertumbuh dalam keseimbangan. Apa maksudnya? tidak bisa kita berdoa dikamar selama 25 jam sehari (1 jamnya ditambahi malaikat karena kita terlalu kudus) dan berharap semuanya dikerjakan oleh Tuhan. Memang Tuhan adalah Tuhan yang membut mujizat, tetapi ingat salah satu mujizat besar yang Dia ciptakan dalam hidup kita adalah daya cipta, daya pikir, daya kreasi kita atau dalam bahasa sederhananya otak kita. Tidak berarti karena di bangunan tersebut ada banyak gereja maka mereka bisa seenaknya dalam memperhatikan azas-azas keselamatan yang harus dimiliki setiap gedung. Saya yakin, hanya butuh api yang kecil untuk menghancurkan seluruh elemen daripada gedung tersebut. Begitu juga dalam hidup kita, bekerjalah sambil mengharap berkat, taburlah sambil berharap akan tuaian. Bukan orang yang mengerti prinsip tabur tuai yang akan menuai, melainkan mereka yang menabur. Perbedaan besarnya terletak pada tindakan.

Setelah saya menelusuri mengenai bangunan ini di internet, ternyata bagunan tersebut sudah dicap bangunan tidak layak huni oleh pemerintah. Pertanyaan yang sama juga berlaku untuk kita, ketika Tuhan mengecek bangunan hidup kita, sertifikat apa yang dia beri? Siap huni atau tidak layak huni?

Cheers,

BG

Advertisements

About Gideon Sitorus

Love Live Learn Blog
This entry was posted in Kesaksian Saya and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s