Ditengah Tulah

Goshen

Sebab Aku akan mengadakan perbedaan antara umat-Ku dan bangsamu. (Keluaran 8 : 23 TB)
Akhir-akhir ini berita yang kita konsumsi didominasi oleh berita-berita seputar kehancuran ekonomi dunia yang sepertinya tidak jelas akhirnya. Terpuruknya ekonomi Tiongkok, harga minyak dunia yang terus turun, embargo Rusia oleh Eropa dan Amerika yang berdampak akan ketegangan dunia, nilai tukar rupiah yang tidak menununjukkah tanda-tanda menguat, ketegangan antar Iran dan Arab Saudi terkait masalah kematian lebih dari seribu jemaah Haji. Semua ini tentu akan membuat ketidakjelasan nasib dari milyaran orang didunia.

Beberapa hamba Tuhan mengasosiasikan segala yang terjadi dengan tanda-tanda akhir zaman yang sudah semakin dekat. Saya sepenuhnya setuju, bahwa akhir daripada akhir zaman sudah semakin dekat. Akan tetapi, selama belum ada pengangkatan atau kedatangan Tuhan yang kedua kali, bukankah kita masih menjadi manusia yang sama dengan manusia lainnya? Bukankah kita harus tetap menghidupi dan membiayai diri kita atau mungkin keluarga kita? Apa yang harus kita lakukan ditengah-tengah situasi dunia yang sepertinya sedang kena ‘tulah’?

Pada akhir dari masa perbudakan bangsa Israel di Mesir, Tuhan menulahi bangsa Mesir karena kekerasan kepala mereka yang tidak mau mengijinkan bangsa Israel keluar dari tanah Mesir. Allah menghukum bukan saja bangsa mesir tetapi allah-allah di Mesir tidak luput dari hukuman Tuhan. Tulah demi tulah terus menghajar bangsa Mesir sehingga akhirnya tulah kematian anak sulung membuat bangsa mesir sadar bahwa mereka harus mengijinkan bangsa Israel pergi. Berita baiknya adalah, selama bangsa Israel tinggal di Gosyen maka mereka terhindar dari seluruh tulah yang menghancurkan mesir.

Mesir dalam konteks hari ini adalah dunia yang sedang kita hidupi. Sebuah dunia yang sebenarnya terus memperbudak kita untuk membangun pencapaian demi pencapaian dalam hidup. Selama kita masih didunia maka hukum manusia melihat apa yang kelihatan oleh mata tidak akan pernah berakhir. Prinsip yang sama dalam menghadapi ketidakpastian dunia adalah tinggalkan Mesir dan pindah ke Gosyen. Ketika kita memilih untuk tinggal di Gosyen maka ada aturan, gaya hidup, pola pikir, ketaatan yang berbeda dengan ketika kita di Mesir.

Banyak orang Kristen menuntut Tuhan untuk memberikan Gosyen dalam hidupnya sementara mereka tetap tinggal di Mesir. Gosyen tidak usah diminta karena sudah tersedia. Pertanyaanya adalah, apakah kita mau keluar dari Mesir untuk tinggal di Gosyen? Apakah cara kita menghasilkan uang selama ini adalah cara Mesir? Apakah motivasi kita dalam pelayanan kita selama ini diwarnai dengan gaya Mesir? Mesir disibukkan dengan membangun monumen-monumen untuk dirinya sendiri, sementara Gosyen ditandai dengan orang-orang yang berhati gembala.

Satu hal yang menarik adalah, masa tulah Mesir adalah masa dimana orang-orang Israel berada begitu dekat dengan masa pembebasannya. Bukankah hal yang sama sedang terjadi? Ketika dunia sedang mengalami ‘tulah’; disaat yang bersamaan, kita dalam penanggalan Yahudi sedang masuk Yobel besar? Berhati-hatilah, jika kita tetap tinggal di Mesir dalam saat-saat seperti ini maka pada akhirnya ‘anak sulung’ kita (sesuatu yang kita anggap sangat berharga) akan hilang bersamaan dengan kematian seluruh ‘anak sulung’ dunia. Akan tetapi, jika kita tetap tinggal di Gosyen maka seperti apa yang ditulis oleh ayat diatas, akan ada perbedaan antara umat Tuhan dan bangsa Mesir.

Dimana kamu tinggal?
Cheers,
BG

Advertisements

About Gideon Sitorus

Love Live Learn Blog
This entry was posted in Bergaul dengan Tuhan and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s