Membiarkan Rahel Mati

imgfullsize
Dan ketika ia hendak menghembuskan nafas–sebab ia mati kemudian–diberikannyalah nama Ben-oni kepada anak itu, tetapi ayahnya menamainya Benyamin. Demikianlah Rahel mati, lalu ia dikuburkan di sisi jalan ke Efrata, yaitu Betlehem. (Kej 35 : 18 – 19 TB)

Salah satu tokoh Alkitab di perjanjian lama yang menurut saya memiliki sisi plegmatis yang kuat. Pada saat-saat tertentu, hidup Yakub sepertinya diatur begitu rupa oleh orang-orang disekitarnya, ketika ia diperintahkan untuk melakukan skenario penipuan yang disutradarai oleh Ribka, ia tidak berkata apa-apa; ketika mendengar Ruben tidur dengan gundiknya, saat itu ia memilih bungkam; saat Laban memberinya Lea yang tidak dicintainya, ia tetap memilih menikahi Lea.

Salah satu momen yang paling menentukan dalam hidup Yakub adalah ketika ia bergerak meninggalkan Betel (tempat dimana ia menerima janji Allah dalam hidupnya). Rahel, istri yang ia begitu cintai, mati karena sakit bersalin. Lewat persalinan yang begitu sakit dan berujung pada kematiannya, Rahel melahirkan seorang anak laki-laki yang ia ingin namakan Ben-Oni (anak penderitaanku). Akan tetapi, Yakub memilih menamakan anaknya Benjamin (anak keberuntunganku, anak tangan kananku), semua ini terasa aneh karena Yakub yang begitu cinta akan Rahel memilih untuk tidak memenuhi permintaan terakhir dari Rahel.

Seandainya Rahel masih hidup, mungkin nama anak itu adalah benar-benar Ben-Oni karena nama 11 anak pendahulu Benjamin adalah nama yang diberikan oleh istri-istri Yakub. Membiarkan Rahel mati secara daging dan keinginan adalah salah keputusan terbaik yang pernah diambil oleh Yakub selama hidupnya. Dalam bahasa sekarang, Yakub tidak membiarkan hidupnya diliputi kegalauan. Bayangkan kalau Ben-Oni yang hidup, mungkin tidak akan lahir Mordekhai (penyelamat bangsa Israel dari kepunahan masal) dan salah satu rasul terbesar yang pernah ada, yang kita kenal dengan nama Paulus.

Dalam hidup kita, seringkali Tuhan memenuhi banyak keinginan kita secara ajaib. Mungkin itu pekerjaan, uang, promosi, kesembuhan, pasangan, harta atau apapun yang biasanya akan kita nikmati sebagai Rahel dalam hidup kita berkat yang tidak terpisahkan dalam hidup kita, tetapi jangan pernah lupa bahwa Ia juga punya hak penuh untuk mengambilnya. Ketika hal itu terjadi, jangan pernah untuk hidup dalam penyesalan atau kesedihan-kesedihan yang tidak perlu. Pilihan kita dalam bersikap menghadapi hal tersebut akan menentukan seberapa besar berkat yang bisa turun dalam hidup kita.

Ayub membiarkan Tuhan mengambil seluruh harta dan keluarganya, Yakub membiarkan Tuhan mengambil Rahel, Daud membiarkan Tuhan mengambil anak sulungnya dari Betsyeba dan diatas itu semua Allah membiarkan Yesus mati di kayu salib untuk korban penebusan dosa umat manusia. Mereka semua yang tidak hidup dalam kegalauan, menuai hal-hal ajaib dalam kehidupan mereka. Allah sendiri menuai milyaran jiwa-jiwa yang diselamatkan.

Cintai Tuhanmu lebih daripada engkau mencintai Rahelmu

Cheers,

BG

Advertisements

About Gideon Sitorus

Love Live Learn Blog
This entry was posted in Bergaul dengan Tuhan and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s