Budak Kristus

bondservant

Dari Yudas, hamba Yesus Kristus .. (Yudas 1 : 1 TB)

Surat Yudas ditulis untuk semua orang yang terpanggil, dikasihi, dan dipelihara untuk Yesus Kristus; gambaran dari kita semua yang percaya. Surat ini terletak persis sebelum kitab Wahyu; kitab yang menggambarkan akhir daripada akhir zaman dan bagaimana Yesus akan datang untuk kedua kalinya di dunia. Surat ini juga membahas mengenai penyesatan yang sedang terjadi dan penghakiman yang akan datang. Bukankah dunia kita sekarang mirip dengan situasi yang digambarkan oleh Yudas?

Dari banyak gelar yang bisa dipilih oleh Yudas, menarik sekali bahwa ia memilih untuk menggambarkan dirinya bukan sebagai anak, sahabat, rekan sekerja, melainkan sebagai hamba Kristus. Lebih jauh lagi, dalam bahasa inggrisnya digunakan kata bondservant, kata bondservant memiliki arti yang sama dengan bahasa yunani doulos yang artinya budak. Mengapa Yudas memilih untuk menyebut dirinya sebagaiĀ budak Kristus?

Seorang budak mengerjakan sesuatu tanpa berharap akan upah. Ia sadar betul bahwa hidupnya adalah untuk melakukan kehendak tuannya dan apapun yang tuannya berikan kepadanya itu adalah pemberian yang tidak mungkin ia balas. Lewat suratnya yang sangat singkat, Yudas ingin mengajak kita semua untuk tetap “sadar diri” akan siapa diri kita sebenarnya. Ia ingin menjelaskan bahwa hidup yang dia hidupi adalah murni anugrah dan hidup yang tidak mau memilih hal selain dari mengerjakan kehendak Tuhannya.

Jika kita mundur ke injil Lukas, maka kita akan berjumpa dengan kisah anak yang hilang. Pada umumnya, bagian penerimaan Bapa menjadi titik berat dari cerita tersebut. Penerimaan Bapa adalah satu hal dan perasaan tidak layak si anak adalah hal lainnya. Kita tidak bisa hanya meihat dari sudut pandang si Bapa tanpa memperdulikan rasa tidak layak si anak. Apa yang akan terjadi jika si anak pulang dengan rasa ia layak untuk diterima kembali menjadi anak? Anak itu tahu bahwa ia tidak layak tetapi dilayakkan. Perasaan rendah diri dan tidak layak adalah dua hal yang berbeda. Rendah diri membuat kita berpikir bahwa kita tidak mungkin mendapatkan suatu hal, sementara tidak layak membuat kita berpikir bahwa jikalau kita mendapatkan hal tersebut semuanya murni merupakan anugrah Tuhan.

Pada akhir zaman ini, sama dengan himbauan Yudas, berhati-hatilah dengan sikap hati kita dihadapan Tuhan. Kasih karunia bukan alasan untuk kita hidup semau kita, melainkan untuk kita semakin sadar bahwa kita adalah budak-budak Kristus yang sebetulnya tidak layak untuk diangkat menjadi anak-anakNya. Jika kita sadar bahwa kita adalah budak Kristus, maka hidup yang kita hidupi adalah hidup untuk melakukan kehendakNya dalam hidup kita.

Apakah kita masih cukup budak dihadapan Tuhan? Apakah kita masih berpikir hal lain selain daripada mengerjakan kehendakNya dalam hidup kita?

Cheers,

BG

Advertisements

About Gideon Sitorus

Love Live Learn Blog
This entry was posted in Bergaul dengan Tuhan and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s