Jubah Yang Terbaik

Tunic

Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya (Lukas 15 : 22 TB)

Saya rasa hampir seluruh orang kristen baik yang lahir baru maupun yang hanya kristen KTP paham atau setidaknya mengetahui cerita lengkap dari penggalan ayat diatas. Cerita cinta dan kasih seorang Bapa yang merupakan gambaran dari Bapa di surga kepada anak bungsuNya yang terhilang. Siapakah anak bungsu yang hilang tersebut? Tidak perlu menunjuk orang lain karena kita adalah gambaran sempurna dari pribadi anak bungsu.

Ketika saya membaca perumpamaan anak yang hilang ini maka tiba-tiba saya berhenti pada adegan dimana Ayah dari anak tersebut memakaikan jubah yang baru kepada anaknya. Menurut saya, adegan ini aneh, mengapa Ayahnya ini tidak menyuruh anak bungsu tersebut untuk mandi terlebih dahulu atau mungkin menunggu anakNya masuk kedalam rumah terlebih dahulu? Lebih dari itu, adegan ini terjadi persis setelah anaknya meminta maaf akan perbuatannya. Sang Ayah tidak menjawab perkataan si anak bungsu, melainkan memerintahkan hamba-hambanya untuk menyiapkan jubah yang terbaik.

Kalau kita mundur ke perjanjian lama maka kita akan menemukan kisah mengenai jubah Yusuf. Jubah yang adalah sebuah gambaran mengenai panggilan Tuhan dalam hidupnya. Jubah itu berbicara panggilan Tuhan dalam hidup kita. Ayah dari si anak bungsu ini mengerti bahwa sebelum anak ini masuk ke rumah, panggilannya harus dikembalikan.

Panggilan bukan diberikan setelah kita lahir, justru karena ada panggilan maka kita lahir kedunia. Namun,seringkali kita lebih memilih untuk pergi meninggalkan panggilan Tuhan dalam hidup kita untuk menikmati semua yang dunia tawarkan. Apa yang dunia tawarkan seringkali tampak lebih menarik dari apa yang Tuhan tawarkan. Dunia adalah tentang jalan pintas, surga adalah tentang proses.

Semenjak Adam jatuh kedalam dosa maka setiap kita punya dosa, setidak-tidaknya dosa turunan. Dosa pulalah yang akhirnya membuat kita melenceng dari panggilan Tuhan dalam hidup kita. Berita baiknya adalah Tuhan rela mati untuk dosa-dosa kita, tetapi ingat bahwa Tuhan tidak mati dikayu salib untuk sekedar mengampuni dosa-dosa kita, lebih dari itu, kematianNya di kayu salib memampukan kita untuk mengerjakan panggilanNya dalam hidup kita.

Panggilan tidak berbicara mengenai berkhotbah diatas mimbar didepan 1 juta jiwa, atau menyanyi di sebuah acara yang disiarkan ke seluruh dunia. Ya itu memang bagus, tetapi surga tidak bersukacita akan hal tersebut, surga bersukacita jika ada satu jiwa diselamatkan. Jika ada seorang penjual bakso, yang lewat dagangannya orang bisa mengenal Yesus, maka dia adalah tukang bakso yang mengerjakan panggilannya.

Suatu saat ketika Tuhan datang untuk kedua kalinya, dan dia menjemput kita semua, adakah kita masih mengenakan jubah yang Ia berikan dalam hidup kita atau mungkin kita tiba-tiba tersadar bahwa jubah tersebut sudah kita kubur entah dimana. Jika saat ini kita hilang dalam kenikmatan dunia. Saran saya hanya satu; PULANG dan biarkan Dia mengenakan kembali jubah yang terbaik dalam hidup kita.

Cheers,

BG

Advertisements

About Gideon Sitorus

Love Live Learn Blog
This entry was posted in Bergaul dengan Tuhan and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s