Panggung Yang Penuh

Full stage

Sebab bukan orang yang memuji diri yang tahan uji, melainkan orang yang dipuji Tuhan.  (2 Korintus 10 : 18 TB)

Menghabiskan waktu selama 3 jam di sebuah minimarket terkenal jakarta dengan seorang aktivis gereja salah gereja terbesar di Indonesia menyimpulkan satu hal dalam hidup saya. Cara dari banyak orang kristen bersikap di panggung gereja hampir sama dengan cara orang dunia bersikap. Saya bukan sedang menulis sebuah kontroversi, tetapi saya sedang menjadikan diri saya objek utama dari tulisan saya.

Mari bergeser sesaat. Saya bukanlah pemerhati musik jazz tetapi sebagai penduduk lokal kota Jakarta saya tahu persis bahwa setiap tahun akan dihelat sebuah event musik bertaraf internasional di Jakarta. Event itu dikenal sebagai Java Jazz Festival. Beragam musisi beraliran jazz kelas dunia tampil untuk menghibur penonton. Satu hal yang pasti, karena begitu banyak musisi yang harus tampil maka ada banyak panggung yang disediakan tentunya dengan ruangan yang terpisah. Penonton diberi jadwal lengkap akan acara selama 3 hari dan bebas memilih musisi yang mereka ingin nikmati. Memilih musisi tertentu berarti memilih panggung dimana mereka tampil.

Pada dasarnya semua orang butuh penerimaan karena tidak dapat dipungkiri kita adalah makhluk sosial. Tepuk tangan penonton, gemuruh sorak sorai, siulan kekaguman, teriakan histeris adalah nilai dari penerimaan yang menurut kita layak. Jika tidak hati-hati penerimaan semacam ini akan membuat kita menjadi sempurna didepan orang banyak dan hancur dibelakang orang banyak. Bukankah ada istilah “dunia ini panggung sandiwara” ?

Secara umum manusia biasanya memilih untuk menyaksikan yang mereka kagumi tampil, berbeda dengan Tuhan, Ia memilih mencintai yang sedang tampil. Masalahnya adalah tepuk tangan Tuhan hampir-hampir tidak mungkin terdengar dengan kuping jasmani manusia. Bagaimana dengan tepuk tangan manusia? bahkan tembok yang tuli bisa mendengarnya.

Seringkali kesedihan itu timbul ketika melihat pelayan Tuhan bergesekan satu sama lain bukan untuk menajamkan sesamanya melainkan untuk menghancurkan sesamanya. Saul begitu ingin dipuji melebihi siapapun, sampai pujian untuk dirinya dianggap tidak ada ketika pujian untuk Daud dikumandangkan oleh wanita-wanita Israel yang berbahagia. Kehancuran kita dimulai dari ketika kita tampil untuk membuktikan kita lebih baik dari penampil sebelum kita.

Banyak orang berebut ingin tampil didepan gereja untuk sekedar menarik perhatian untuk dirinya. Ayolah! Panggung gereja terlalu sempit untuk memuat semua pelayan Tuhan. Ada banyak panggung diluar sana yang butuh penampil. Panggung misi, panggung orang miskin, panggung pemuridan, panggung pengorbanan, panggung kedar, dst dst. Diatas semua itu ada satu panggung lagi yang tidak butuh bersaing untuk tampil disana dan begitu sepi karena penontonnya hanya Tuhan. Panggung dimana kita menampilkan yang terbaik dari yang dipercayakan Tuhan selama ini dalam hidup kita. Tanpa penonton. Tanpa lampu sorot. Tanpa kamera. Tanpa tepuk tangan. Hanya ada Tuhan dan kita secara pribadi.

Panggung ini saya beri nama panggung integritas karena panggung ini memastikan bahwa kita adalah orang yang sama didepan orang banyak dan tanpa orang banyak. Kita berbicara kekudusan didasari dari kekudusan kita secara pribadi dengan Tuhan. Kita berbicara penginjilan didasari dari aktivitas kita sehari-hari. Kita berbicara pengorbanan didasari dari setiap ketaatan yang tidak terlihat orang lain.

Dimana kita selama ini tampil?

Cheers,

BG

Advertisements

About Gideon Sitorus

Love Live Learn Blog
This entry was posted in Bergaul dengan Tuhan and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s