Mundur Teratur

stepping-backward

Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula. (Wahyu 2 : 4 TB)

Didasari oleh perasaan ingin tahu, baru-baru ini saya mencari fakta mengenai kekristenan di Amerika. Hasil pencarian saya menunjukan sebuah fakta yang mengejutkan sekaligus menyedihkan. Betapa tidak? Disaat dimana negara-negara yang menekan kekristenan secara luar biasa justru mengalami kemajuan dalam hal pertumbuhan jumlah orang percaya,Amerika yang dikenal sebagai negara yang bebas justru mengalami kemunduran. Kemarin saya mendengar dari seorang misonaris bahwa setiap minggunya ada sejumlah gereja di amerika yang tutup karena tidak ada jemaat. Sebuah ironi dari negara yang dikenal melahirkan para jendral-jendral Tuhan, membangun fondas-fondasi kekristenan, menberi uang dalam jumlah yang sudah tidak dapat dihitung untuk pelayanan pekabaran injil di seantero dunia.

Mengapa ini bisa terjadi? Saya tidak tahu pasti karena saya tidak melakukan riset yang mendalam tentang hal ini. Akan tetapi, menurut saya salah satu faktornya adalah “kenyamanan” dalam berhubungan dengan Tuhan. Saya tidak menentang “kenyamanan”, tetapi “kenyamanan” dapat membunuh secara perlahan-lahan kalau kita tidak berhati-hati.

Minggu lalu saya dan teman-teman baru saja menemani rombongan sekolah misi dari suatu negara untuk menikmati beberapa jam dari waktu luang mereka. Mereka ingin membeli batik, saya dan teman-teman memutuskan pergi ke pusat perbelanjaan di pusat jakarta yang terkenal akan batiknya. Saya melewati tempat itu berkali-kali, tetapi kemarin adalah untuk pertama kalinya (kalau tidak salah) saya mengunjungi tempat itu untuk mencari batik. Setibanya disana, rombongan sekolah misi begitu bersemangat melihat batik ditempat itu sementara saya tidak antusias dengan tempat itu. Mengapa bisa terjadi? Karena buat saya bisa pergi ketempat itu kapanpun saya mau, sementara untuk mereka mungkin itu adalah kesempatan terakhir mereka untuk bisa membeli batik buatan Indonesia.

Saya beberapa kali membaca buletin yang diedarkan oleh lembaga-lembaga misi dunia dan saya dapat menyimpulkan bahwa ada kelaparan akan Tuhan di negara-negara yang terkenal menekan kekeristenan begitu nyata. Ketika mereka membaca Alkitab, mereka membaca dengan sikap “ini mungkin kesempatan terakhir saya”. Ketika mereka ikut kebaktian, mereka ikut dengan sikap “setelah sekian lama bersembunyi akhirnya bisa berkumpul lagi untuk memuji Tuhan”. Sementara di negara-negara bebas? Seringkali Alkitab menjadi sesuatu yang bisa ditunda, kebaktian sesuatu yang kita bisa pilih jam-nya, hari-nya, pendeta-nya, pemusik-nya, dan bahkan kita bisa pilih Firman seperti apa yang kita mau dengar.

Betapa menyedihkannya kalau kebebasan yang Tuhan berikan menjadi alasan kemunduran umat-Nya. Seringkali kita berdoa untuk negara-negara yang kekristenannya ditekan secara daging oleh pemerintahnya, padahal disisi lain kita yang berdoa secara tidak sadar ditekan secara roh oleh kenyamanan.

Coba periksa kembali kekristenan kita. Apakah kita sebenarnya sedang “mundur teratur” dalam Tuhan?

Cheers,

BG

Advertisements

About Gideon Sitorus

Love Live Learn Blog
This entry was posted in Bergaul dengan Tuhan and tagged , , . Bookmark the permalink.

One Response to Mundur Teratur

  1. Energy Giver says:

    Good captured as usual, brother 🙂

    All progress take place outside the comfort zone (Psalm 147 : 3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s