Berharap Pada Tuhan

Expectations
Allah kita di Surga; Dia melakukan apapun yang Dia sukai (Maz 115: 3 NIV)

Menaruh harapan pada Tuhan adalah satu esensi dasar dalam kehidupan kekristenan kita. Akan tetapi harapan yang tidak terpenuhi biasanya akan berujung pada kekecewaan. Betapa sering kita mendengar orang kristen kecewa dan meninggalkan Tuhan karena harapan yang tidak sesuai dengan kenyataan. Baru-baru ini saya menonton film Fast and Furious 7, pendapat saya terhadap film ini adalah biasa saja. Saya ulangi  biasa saja. Menurut saya, jika saja salah satu bintang utama film tersebut tidak meninggal, filmnya tidak akan sebooming itu. Saya lebih menyukai versi sebelumnya dari film tersebut.

Ketika ekspektasi tidak terpenuhi maka biasanya kita akan berubah menjadi komentator ulung,”seharusnya begini…., seharusnya begitu….., kok hanya seperti ini……” dst dst. Satu hal yang pasti, film tersebut tidak akan berubah, tidak akan ada versi “pembetulan” dari film tersebut. Sebagai manusia, sikap tersebut adalah normal dan ketika menyadari bahwa hal tersebut tidak bisa diubah dan tidak ada akibat langsung dengan kehidupan kita maka kita akan segera melupakannya.

Permasalahannya adalah jika kita mengunakan cara berharap yang sama dengan cara kita berharap kepada Tuhan. Mari saya jelaskan, kalau dasar pengharapan kita adalah “apa yang Dia mampu perbuat” maka kita akan sering kecewa karena seringkali yang Dia buat terlihat seperti kurang greget. Ayub begitu kecewa dengan Tuhan terhadap apa yang terjadi dalam hidupnya. Ayub mendasarkan harapannya diatas apa yang Tuhan mampu buat. Ayub kecewa.

Dalam kasihNya Tuhan tidak menghukum Ayub melainkan mengajak Ayub “berdebat”.

Bersiaplah engkau sebagai laki-laki! Aku akan menanyai engkau, supaya engkau memberitahu Aku. Di manakah engkau, ketika Aku meletakkan dasar bumi? Ceritakanlah, kalau engkau mempunyai pengertian! (Ayub 38 : 3-4 TB)

Ayat diatas adalah salah satu dari sekian banyak argumentasi Tuhan terhadap Ayub yang tidak dapat dijawab oleh Ayub. Ketika kita ingin berharap kepada Tuhan, belajar untuk meletakkan dasar pengharapan kita diatas dasar “Dia Tuhan saya bukan”. Apapun yang Dia kerjakan dalam hidup kita bukanlah didasari oleh apa yang Dia mampu kerjakan karena Dia mampu mengerjakan segalanya.

Seorang komentator tidaklah lebih baik dari pelatih tim yang sedang bertanding. Komentator tidak melihat dan tidak bersinggungan dengan segala aspek pertandingan yang tidak mungkin dilihat hanya dengan menjadi komentator. Masalah pribadi pemain, kondisi internal klub, tuntutan manajeman adalah sedikit dari begitu banyak hal yang tidak pernah dimengerti oleh komentator. Komentator hanya menilai dari apa yang mereka lihat di lapangan.

Hal yang sama juga berlaku dalam hidup kita. Jangan menjadi komentator akan perbuatan Tuhan dalam hidup kita, ada terlalu banyak aspek yang tidak terlihat atau bahkan mungkin tidak akan pernah terlihat karena keterbatasan kita sebagai manusia. Belajar percaya bahwa dalam ke-TuhananNya Dia betul-betul mengerti akan apa yang Dia sedang kerjakan. Tidak ada kesalahan dan tidak akan pernah ada.

Selamat berharap!

Cheers,

BG

Advertisements

About Gideon Sitorus

Love Live Learn Blog
This entry was posted in Bergaul dengan Tuhan and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s