Tentang Hukuman Mati

FIRING SQUAD
Berita-berita tentang hukuman mati yang akan segera dilaksanakan oleh bangsa kita menggugah perasaan saya. Pagi ini saya membaca berita dengan perasaaan sedih bahwa orang-orang yang diciptakan Tuhan dengan tujuan ilahi harus mengakhiri hidupnya di tangan para eksekutor. Saya tidak menyalahkan Jokowi akan keputusannya, apapun yang dia pilih pasti akan selalu ada pro dan kontra. Jokowi hanya menjalankan undang-undang yang dibuat oleh wakil rakyat dan dipilih oleh rakyat. Memang betul sekarang hak untuk mengampuni ada ditangan dia tetapi itu hanyalah kepingan domino terakhir di rentetan domino-domino lainnya.

Saya heran akan negara-negara yang sekarang kalang kabut akan warganya yang dieksekusi. Dimana mereka pada saat undang-undang hukuman mati itu disahkan? Bukankan sesaat sebelum kita mendarat maka di pesawat akan ada pengumuman tentang hukuman mati di Indonesia?

Tetapi, diatas itu semua, saya tidak setuju akan hukuman mati. Mungkin beberapa orang langsung berargumen bahwa saya tidak pernah merasakan dampak dari perbuatan sang narapidana. Akan tetapi, ada banyak cerita dari orang yang dimampukan untuk mengampuni orang-orang yang seharusnya menerima hukuman mati. Hukuman mati laksana sebuah palang yang menutup paksa pintu pertobatan yang masih dibuka oleh Tuhan. Kalau narkoba layak dihukum mati, bagaimana dengan prostitusi? Saya kenal dengan beberapa orang yang meninggal oleh karena AIDS yang didapat dari tempat pelacuran. Mungkin beberapa orang yang saya kenal itu mewakili ribuan orang lain yang saya tidak kenal tetapi merasakan dampak yang sama.

Bagaimana dengan sipir penjara yang membantu narapidana itu mengedarkan narkoba di balik jeruji? Hukuman apa yang layak diberikan kepada sipir tersebut? Apakah sipir tersebut bekerja sendiri tanpa sepengetahuan atasannya? Jika ternyata atasannya terbukti terlibat, hukuman apa yang layak diberi? Saya juga kasihan terhadap orang yang menembakan senjatanya ke arah narapidana. Apakah mereka dapat hidup tenang tanpa ada perasaan bersalah sama sekali? Saya yakin pasti ada goncangan di jiwa mereka. Pertanyaan pasti akan terus berlarian sepanjang hidup mereka.

Narkoba bukanlah pangkal dari masalahnya. Masalah sesungguhnya adalah kekosongan yang terus dialami manusia, dan pada kenyataanya beberapa mencoba mengisinya dengan narkoba. Menghukum mati pengedar narkoba seperti seorang tentara yang sedang terluka parah dan untuk menghilangkan “sementara” rasa sakitnya ia harus disuntik painkiller dalam perjalanan menuju rumah sakit. Bukan rasa sakitnya yang harus dihilangkan melainkan lukanya harus disembuhkan. Jika hanya rasa sakitnya yang dihilangkan maka cepat atau lambat ia akan mati, tetapi jika lukanya sembuh rasa sakitnya akan hilang.

Saya teringat akan kisah seorang pelacur yang menghadapi tuntutan kematian dan Yesus berkata “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu”. Menghukum mati bukan jawaban. Yesus adalah jawaban.

Cheers,

BG

Advertisements

About Gideon Sitorus

Love Live Learn Blog
This entry was posted in random stuff and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s