Belas Kasihan

mother-teresa-feeding

“Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan.” (Markus 8 : 2 TB)

Sebagian besar dari kita mengerti arti dari belas kasihan. Banyak juga dari kita melakukan banyak hal yang didasari oleh belas kasihan. Kita juga melayani Tuhan yang berkali-kali digerakan oleh belas kasihan. Akan tetapi, tidak bisa dipungkiri bahwa ada banyak orang kristen (khususnya saya) yang terbiasa bergerak dengan logika dan menemukan bahwa bergerak dengan dasar belas kasihan adalah hal yang sulit untuk dikerjakan.

Saya terbiasa dengan tanggapan yang menyatakan bahwa saya terlalu kejam, tidak memikirkan perasaan orang lain, dan bahkan tidak memiliki belas kasihan.  Saya setuju tetapi terkadang sepenuhnya setuju. Saya tidak ingin menjabarkan karakter saya, tetapi saya ingin sedikit bermain logika dalam “berbelas kasihan”. Ketika kita mengalami kesulitan untuk “berbelas kasihan” karena terlalu banyak bermain dengan logika, mari lihat satu fakta menarik tentang belas kasihan. Sadarkah kita bahwa seringkali belas kasihan itu tidak menguntungkan pihak yang ditolong, tetapi malah akhirnya menolong pihak yang menolong?

Mari lihat hidup Daud, ketika ia dalam rasa frustrasi mengejar orang amalek yang menawan keluarganya dan membakar habis ziklag, ia bertemu seorang budak muda yang hampir mati kelaparan. Digerakkan oleh belas kasihan, Daud menolong budak tersebut dan kita tahu bahwa budak tersebut yang menjadi penunjuk jalan Daud menemukan perkemahan orang amalek. Contoh kedua, ketika Yusuf meronta-ronta dihadapan kakak-kakaknya yang mencoba membunuh dia, tiba-tiba Ruben berbelas kasihan dan memberikan ide untuk menjual Yusuf daripada membunuhnya, saudara-saudaranya setuju dan akhirnya kita tahu bahwa Yusuf menjadi penguasa di mesir dan menyelamatkan hidup Ruben dan saudara-saudaranya. Dari dua contoh ini, kita dapat bertanya pertanyaan ini: “siapa yang menolong siapa?” Apakah Daud yang menolong budak itu? Atau budak itu yang menolong Daud? Pertanyaan yang sama juga dapat saya lontarkan terhadap kasus Yusuf, apakah Ruben yang menolong Yusuf? Atau Yusuf yang menolong Ruben?

Ketika kita diperhadapkan pada pilihan untuk menahan atau melepaskan belas kasihan kepada orang lain, pilihlah untuk melepaskan belas kasihan. Mengapa? Karena kita tidak tahu bahwa mungkin kita bukan sedang menolong orang tersebut, tetapi kita sedang menolong diri kita sendiri di masa depan. Semoga logika sederhana ini dapat menjadi pegangan kuat untuk kita terus menerus melepaskan belas kasihan terhadap hidup orang lain.

Berbelas kasihanlah.

Cheers,

BG

Advertisements

About Gideon Sitorus

Love Live Learn Blog
This entry was posted in Bergaul dengan Tuhan and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s