Ketika Yang Diurapi Terjatuh

Abisai

Tetapi kata Daud kepada Abisai: “Jangan musnahkan dia, sebab siapakah yang dapat menjamah orang yang diurapi TUHAN, dan bebas dari hukuman?” (1 Samuel 26 : 9 TB)

Akhir-akhir ini adalah sebuah pemandangan umum jika kita melihat seseorang mengomentari akan tingkah seorang hamba Tuhan di forum terbuka atau tempat-tempat umum. Mengomentari adalah area abu-abu yang sangat sulit diterka ujungnya dimana, walaupun biasanya cenderung berakhir kepada penghakiman.

Sejujurnya saya paling sedih dicampur dengan kesal ketika melihat seseorang mengomentari hamba Tuhan dengan basis pendapatnya sendiri. Seringkali dasar kebenaran yang kita gunakan adalah menurut pengertian yang kita miliki. Ketika kita melihat orang lain terutama hamba Tuhan yang membangun sesuatu diluar kerangka berpikir kita, maka kita cenderung akan berpikir dia salah kita benar.

Saya tidak ingin memutuskan siapa yang benar siapa yang salah. Tetapi satu hal yang pasti semuanya akan kita pertanggung jawabkan dihadapan Tuhan secara pribadi. Apakah kita berani berargumen dengan Tuhan ketika nanti hasilnya kita yang salah dan hamba Tuhan itu yang benar?

Ketika kita menilai seseorang atau bahkan berusaha untuk membunuh seseorang maka sebenarnya kita sedang bersinggungan dengan urapan Tuhan dalam hidup mereka. Bayangkan jika kita hidup di zaman Abraham dan ketika Tuhan berfirman kepadanya untuk menyembelih Ishak, lalu Abraham minta pendapat kepada kita. Apakah kita akan menyetujui tindakan Abraham atau menilai dia sesat? Bayangkan jika kita berada di Istana Salomo ketika ia memutuskan untuk memotong bayi tersebut menjadi 2 bagian. Apakah kita akan teguh berdiri bahwa itu adalah hikmat Tuhan? Jika kita menjawab “iya” untuk dua pertanyaan terakhir, saya yakin itu sepenuhnya adalah omong kosong.

Maksud saya adalah, sesalah-salahnyapun seorang hamba Tuhan jaga sikap hati kita. Doakan dia. Ketika urapan Tuhan turun dalam hidup kita, maka hidup kita dalam level tertentu akan naik. Sangat sulit untuk daging kita tetap rendah hati, karena secara otomatis orang-orang akan melihat kita sebagai suatu pribadi yang sempurna. Kalau anugrah-Nya tidak menjaga kita, maka kita akan jatuh dalam dosa kesombongan. Jika kita ada di posisi mereka tidak ada jaminan bahwa kita juga tidak akan jatuh. Belajar untuk melihat kejatuhan seseorang dengan mata belas kasihan bukan dengan mata penuduhan.

Dimana letak hebatnya ketika kita berhasil menghancurkan nama baik seseorang atau bahkan membunuh karakternya? Bukankah kita adalah satu tubuh yaitu tubuh Kristus itu sendiri? Jika jarimu sakit, apakah mata mempunyai kemampuan untuk mengkritik jari tersebut atau turut merasakan sakitnya? Jika kakimu terjatuh apakah punggung menghina kakimu? Bagaimanapun juga Tuhan mengerti dan tahu setiap resiko dari keputusan-Nya dalam memilih seseorang orang menjadi alat-Nya. Hargai alat pilihan Tuhan. Jika kita berani, jangan salahkan alat-Nya salahkan pribadi yang memilih alat tersebut.

Mari jadi orang yang berdoa, ketika urapan tersebut bergeser kedalam hidup kita maka dalam anugrah-Nya kita tetap terus dalam rencana Allah yang sempurna.

 

Cheers,

 

BG

Advertisements

About Gideon Sitorus

Love Live Learn Blog
This entry was posted in Bergaul dengan Tuhan and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s