Selera Tinggi

ARMANI

Tetapi hamba-Ku Kaleb, karena lain jiwa yang ada padanya… (Bilangan 14 : 24 TB)

Kemarin saya bertemu dengan salah satu nasabah saya yang bekerja di daerah kemang. Ia bekerja sebagai marketing dari salah satu authorised agent yang mengimpor perabotan rumah dari Jerman. Kami bertemu di kantornya yang juga merupakan showroom dari perabotan yang ada. Setibanya disana, saya sangat menikmati tempat tersebut karena interior-nya bagus dan barang-barangnya sangat nyaman dan mewah. Saya bertanya berapa harga dari sofa yang baru saja saya duduki, dan ternyata harganya Rp. 370,000,000,-. Saya sangat terkejut. Lalu saya diundang untuk mencoba sebuah kursi malas, sama dengan sofa tersebut, kursi malas itu juga berharga sangat luar biasa yaitu Rp. 200,000,000.¬† Wowww!!!!! Nasabah saya ini melanjutkan bahwa ada beberapa merek dari perabotan rumah yang harganya 10x lipat dari apa yang baru saja saya coba. Saya bertanya: “Apakah ada orang-orang yang rela untuk membeli barang semahal ini?” Nasabah saya menagguk dan mulai menyebutkan beberapa nama orang kaya Indonesia yang sudah tidak asing di kuping saya.

Ketika saya masih duduk dibangku sekolah, saya punya teman yang lumayan kaya dan tinggal di salah satu kompleks perumahan mewah di Jakarta. Setiap kali main ke rumahnya, maka saya akan duduk di sofa yang menurut saya sangat nyaman. Sejauh yang saya tahu, sofanya dia hanya berharga setengah dari apa yang saya baru saja coba di tempat nasabah saya. Sebagai orang yang sangat awam terhadap barang-barang kelas mewah, tentunya saya akan merasa semua barang tersebut sama saja. Tetapi untuk orang-orang yang berselera tinggi, sudah tentu mereka akan tahu perbedaannya.

Tahukah anda? Tuhan adalah Tuhan yang memiliki selera begitu tinggi. Bumi dan segala keindahannya adalah bukti dari selera Tuhan yang tinggi. Sebuah sofa senilai 5 juta dengan sofa senilai 1 miliar, sama-sama berfungsi untuk duduk, tetapi ada esensi kenyamanan yang berbeda yang hanya bisa dimengerti oleh orang yang berselera tinggi. Banyak orang berpendapat “Tidak usah terlalu radikal ikut Tuhan, tidak perlu bayar harga untuk berdoa, bangun pagi baca alkitab, yang penting kristen, yang penting terima Tuhan Yesus.” Pendapat itu sama seperti kita masuk ke hotel mewah dan ketika kita mau duduk, kita diberikan bangku plastik yang sudah reyot. Memang bisa dipakai buat duduk, tetapi itu bukan kelasnya.

Saya berharap bahwa Tuhan menemukan kenyamanan ketika bersama-sama dengan kita. Kita didapati sesuai dengan selera-Nya bukan pemakluman-Nya ketika digunakan sebagai alat bantu untuk menggenapi rencanaNya. Hari itu, ada banyak orang Israel yang percaya kepada Tuhan, tetapi hanya Kaleb yang berbeda kualitasnya. Lalu, apakah itu semua karena kuat dan hebat kita? Sama sekali tidak! Bagian kita hanyalah kemauan untuk dibentuk hingga memuaskan selera-Nya. Ketika kita mau, maka anugrah-Nya akan turun dan memampukan kita.

Bagaimana kualitas hidup kita sampai saat ini?

Cheers,

BG

 

 

Advertisements

About Gideon Sitorus

Love Live Learn Blog
This entry was posted in Bergaul dengan Tuhan and tagged , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Selera Tinggi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s