Tuhan Membawa Saya ke Israel

Featured image

Tetapi hambamu ini telah menanggung anak itu terhadap ayahku dengan perkataan: Jika aku tidak membawanya kembali kepada bapa, maka akulah yang berdosa kepada bapa untuk selama-lamanya. (Kejadian 44 : 32 TB)

Foto diatas adalah satu-satunya kenangan foto dengan menampilkan muka saya di Yerusalem yang saya ambil menggunakan handphone saya sendiri. Saya malas foto, karena saya bukan ingin berfokus dimana saya melainkan apa yang Tuhan ingin bicara kepada saya pada saat saya ditempat itu.  Lewat tulisan ini, saya ingin menyaksikan bagaimana Tuhan menganugrahi saya satu kesempatan dan kemampuan untuk bisa menginjakan kaki di tanah perjanjian.

Sekitar 2 bulan lalu ketika saya menulis “Turunlah Zakheus” di blog saya, saya bergumam dalam hati “Tuhan aku ingin dong melihat Pohon Ara secara langsung”. Tuhan hanya diam tidak berbicara apapun. Pada akhir bulan Agustus, Roh Kudus menggerakan saya untuk puasa selama 30 hari tanpa tahu memberikan saya alasan mengapa saya harus berpuasa. Setelah sedikit berdebat Tuhan (jangan ditiru!) saya akhirnya nurut.

Tanggal 3 september mama saya menghadiri sebuah seminar, dan diakhir dari seminar itu, ada pengumuman bahwa akan ada tour ke israel untuk merayakan blood moon dan hari raya pondok daun. Mama saya adalah tipikal orang yang tidak suka berpergian jauh, naik pesawat lama-lama, dan sedikit ketakutan. Tetapi, untuk tour kali ini dia sangat bersemangat dan mengajak saya dan kakak saya untuk ikut. Saya menolak karena tidak ada duit, kakak saya pun menolak dengan alasan yang berbeda. Terhadap penolakan tersebut mama saya tidak patah semangat, malah langsung mendaftar sendiri. Saya kaget. Melihat semangat mama, saya langsung berdoa dan tanya ke Tuhan, apakah saya harus pergi ke Israel atau tidak karena secara keuangan, bisa dibilang tidak mungkin untuk pergi. Ketika saya berdoa, Roh Kudus mengingatkan satu cerita di alkitab dimana Yehuda memilih untuk bertanggung jawab atas Benyamin ketika Yusuf ingin mengambil Benyamin untuk tinggal bersama-sama dengan dia (Kejadian 44). Tanggung jawab terhadap mama, itulah kesan yang saya dapat kuat ketika saya berdoa. Malam itu dengan uang yang ada saya bayar DP untuk ikut.

Hari terus berjalan dan saya terus beraktifitas dengan biasa. Kira-kira 3 hari setelah saya mendaftar, kakak saya memutuskan untuk berangkat setelah mendapat beberapa tanda dari Tuhan. Kalau saja dia mendaftar dari awal dengan mama saya, sudah pasti saya tidak akan berpikir untuk pergi. Dalam hidup saya, walau terkadang sulit, saya belajar untuk menghargai apapun yang Tuhan beri walaupun itu hanyalah remah – remah roti yang jatuh dari meja-Nya.

Dengan uang tersisa yang sangat sedikit (dibawah 3 juta), Tuhan meminta saya untuk menabur hampir setengahnya ke teman saya. Saya dimampukan untuk taat. Akhirnya sampailah tanggal 26 September tepat 30 hari setelah saya mulai puasa. Pada hari ini pula saya harus membayar kekurangan dari pembayaran tour saya. Tidak ada uang yang masuk, tidak ada sama sekali. Sepanjang siang, kakak saya menanyakan uang saya dan apakah ada mujizat terjadi. Saya hanya bisa pasrah kepada Tuhan karena memang uang tidak masuk. Saya lalu berkata kepada kakak saya seperti ini, “Tidak ada uang yang masuk, dan saya tidak bisa pergi. Tidak apa-apa DP saya hangus, hitung-hitung saya latihan beriman dan mendengarkan suara Tuhan walaupun pada akhirnya gagal”. Kakak saya tidak membalas apapun.

Sore hari, sepulang kerja, saya memberitahukan kepada mama saya bahwa saya tidak bisa pergi karena memang uang tidak ada. Mama saya berkata “Nggak kok, kamu tetap pergi karena sudah ditalangin oleh mama dan kakakmu”. Saya hanya bisa terdiam dan masuk kamar untuk mensyukuri berkat Tuhan. Kakak saya dan mama saya sama sekali tidak memaksa untuk membayar dan membebaskan saya untuk membayar kapanpun saya mau.

Ketika saya menerima email tentang “itinerary” dari trip kali ini. Saya tidak melebih-lebihkan, mata saya langsung menuju ke satu kalimat yang berbunyi “melihat pohon zakheus”.

Wow.

Apakah selesai disitu ? tidak.

Bagaimana dengan uang saku ? Tuhan kembali mempersiapkan. H-3 ada orang memberikan uang dengan jumlah yang membuat saya cukup besar, lalu sore harinya ada orang memberi saya uang sebagai hadiah ulang tahun , H-2 selesai ibadah kantor ada orang memberi saya dollar, malam harinya ada orang memberi kejutan kepada saya berupa dollar, dan pada H-1 ada orang memberi saya dollar. Ketika saya menulis ini pun ada orang yang memberikan saya uang :).

Saya berharap lewat tulisan ini teman-teman tidak salah fokus, kemana saya pergi tidaklah begitu penting, berapa uang saya terima tidaklah penting. Yang penting hidup kita tetap berada pada garis yang Tuhan sudah tetapkan sebelum kita dilahirkan. Kalaupun pada kita bisa hidup dalam garis-Nya, semuanya hanya karena anugrah.

Ps. Saya akan tulis tentang apa yang Tuhan buat dan bicara kepada saya selama disana pada tulisan berikut.

Cheers,

BG

Advertisements

About Gideon Sitorus

Love Live Learn Blog
This entry was posted in Kesaksian Saya and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s