Jurnal di Israel (part 1)

Saya ingin menulis setiap apapun yang Tuhan bicara, kerjakan, atau perintahkan kepada saya selama saya di Israel. Saya berharap lewat tulisan ini teman-teman bisa belajar dan mendapatkan jatah kemenangan yang sama yang saya terima. Saya belajar dan berusaha untuk selalu belajar bahwa apapun yang terjadi dalam hidup saya tidak ada yang kebetulan. Semua ada maksud Tuhan, hanya terkadang saya yang tidak peka.

06 Oktober – 07 Oktober 2014

Hari ini adalah hari H dimana saya harus berangkat dan tanpa disangka-sangka masalah muncul pada perut saya. Perut saya terasa sakit dan betul-betul sakit. Tubuh saya terus-menerus mengeluarkan keringat dingin dan terasa sangat lemas. Saya berkonsultasi dengan nasabah saya yang adalah seorang Dokter dan untuk masalah keluhan pada badan saya, saya terbiasa untuk konsultasi dengan dia karena orangnya sangat baik dan lebih daripada itu semua, GRATIS.

Singkat cerita, dia menyarankan saya untuk memeriksakan diri saya ke Dokter Rumah Sakit karena keluhan saya tidak jelas dan saya akan pergi perjalanan jauh. Nasehat yang sangat betul dari segi medis dan saya berterima kasih untuk nasehat itu karena dia mengerjakan bagian yang dia harus kerjakan.

Mama saya dan kakak saya terus-menerus mendoakan saya. Saya sudah sangat ingin menyerah dan masuk ke Rumah Sakit. Tetapi, setelah bernegosiasi secara alot dengan diri sendiri, saya memutuskan untuk tidak pergi ke rumah sakit karena saya takut kalau ternyata saya diharuskan rawat inap.

Saya adalah tipe orang yang jarang meminta orang lain untuk mendoakan pergumulan saya (kalau masalah meminta urapan saya adalah orang nomor satu). Tapi untuk masalah kali ini, saya minta banyak orang untuk mendoakan. Saya benar-benar tidak kuat. Saya berterima kasih untuk teman-teman yang mendoakan saya.

Seorang teman yang mendoakan saya berkata “Gid, kalau memang adalah sebuah mandat untuk elo berangkat, perlindungan Tuhan pasti sempurna”. Saya sangat dikuatkan. Saya terus-menerus bertanya kepada Tuhan mengapa saya harus menderita sesakit ini. Tuhan malah berkata hal yang lain, Ia mengingatkan saya tentang uang yang diberikan orang-orang kepada saya sebagai bekal dan berkata : “Setia nak dalam perkara kecil, tabur uang itu. Nanti akan Aku tunjukkan kemana engkau harus menabur”. Tuhan seolah-olah tidak memperdulikan sakit saya. Akhirnya, saya memutuskan untuk berangkat dengan kondisi badan yang sangat lemah.

Sepanjang perjalanan, saya hampir tidak berbicara apapun, karena sangat sakit. Sisi positifnya adalah saya hanya sibuk berbicara dengan Tuhan. Saya teringat akan perintah Tuhan yang TIDAK SAYA KERJAKAN yaitu mempelajari setiap tempat yang akan saya tuju, karena Ia ingin saya berperang, menjarah, berdoa, atau apapaun dengan ketepatan. Saya minta ampun.

Kami terbang menggunakan Qatar Airways, dan di pesawat saya menyempatkan diri untuk berdoa bagi orang disebelah saya dari agama sepupu. Dia berterima kasih, ketika sampai di Doha, kita berpisah karena dia harus ke Italia. Saya ingat betul, diatas eskalator dia memanggil saya dan melambaikan tangan kepada saya sebagai tanda perpisahan.

8025643-Hamad-International-Airport-0
Kami tiba di qatar dan transit selama 7 Jam.

07 Oktober 2014

Dari Qatar kami terbang ke Yordan selama 3 jam. Dari Yordan kami masuk ke Yerusalem menggunakan bus. Saya bersyukur masuk ke tanah perjanjian melewati Yordan, saya teringat akan generasi bangsa israel yang dipimpin oleh Joshua yang memasuki tanah perjanjian dari dengan menyebrangi sungai Yordan. Kita semua tahu bahwa generasi Joshua adalah generasi dimana seluruh janji Tuhan tergenapi. Suatu pertanda dari Tuhan bahwa kita akan masuk dengan kemenangan yang gilang-gemilang dari Tuhan.

Setelah melewati beberapa proses imigrasi yang sangat melelahkan, kami memasuki Yerusalem pada malam hari. Israel adalah negara yang baik mereka tidak menandai paspor kita dengan stempel atau apapun. Mereka berpikir bahwa akan sulit untuk kita pergi ke negara-negara anti-israel jika ada cap israel di paspor kita. Sebagai gantinya kita diberikan kartu sebagai visa masuk israel.

IMG_20141017_214405

Kami tiba di hotel gran park dan saya dapat kamar nomor 113 yang jika ditotal adalah 5 yang berarti anugrah. Setelah check in, kami menikmati makan malam yang dihidangkan dan setelah itu saya tidur. Bersiap untuk perjalanan besok.

 

Advertisements

About Gideon Sitorus

Love Live Learn Blog
This entry was posted in Kesaksian Saya. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s