Mental Miskin

Instan

suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah. (2 Timotius 3 : 4 TB)

Kemarin saya ‘terpaksa’ mengikuti seminar keuangan di gereja saya. Sebenarnya, saya tidak membeli tiket untuk diri saya, tetapi saya membelikan tiket untuk orang lain. Karena satu dan lain hal orang tersebut tidak bisa menghadari seminar tersebut dan saya baru diberitahu pada hari H. Apa mau dikata, saya harus datang daripada uang tiket hangus melayang.

Selama seminar ada satu kalimat dari pembicara yang Roh Kudus singkapkan sehingga menohok saya. Dia berkata seperti ini :

“Poverty mentality always desire for instant gratification” yang berarti “Mentalitas miskin itu selalu menginginkan kepuasan yang instan atau saat itu juga”. Ia mencontohkan, sesorang bermental miskin sering kalap pada saat shopping, padahal barang sejenis yang ia miliki sudah banyak, seorang bermental miskin selalu ingin membeli barang merek terbaru saat itu juga dan bahkan rela untuk berhutang untuk kepuasaan sesaat saja. Pembicaranya menambahkan bahwa mentalitas miskin belom tentu hanya sebatas pelit, orang yang tidak bisa mengekang diri adalah orang dengan mental miskin. Hal ini benar, namun saya sudah sering mendengar hal ini. Namun, semuanya berubah ketika Roh Kudus menarik pengertian ini lebih jauh lagi.

Pernahkah anda merasa terjebak dalam suatu situasi yang menyebabkan anda begitu tersulut secara emosi dan anda menyadari akan titik kepuasaan terdekat adalah dengan marah? Pernahkah anda pergi berduaan dengan pacar anda dan tiba-tiba gairah seksual itu bangkit dan titik kepuasaan terdekat adalah dengan berzinah ? Pernahkah anda merasa begitu tersakiti dalam pelayanan dan anda melihat bahwa titik kepuasaan terdekat adalah dengan mundur dari pelayanan ?.  Pertanyaan-pertanyaan ini bukan hanya untuk anda melainkan untuk saya terlebih dahulu. Jika kita memilih untuk berhenti di titik kepuasaan terdekat maka kita adalah orang bermental miskin.

Orang kaya adalah orang yang pernah melewati masa dimana mereka harus menunda kesenangan yang bisa mereka dapat pada hari ini untuk sebuah kesuksesan di masa depan. Belajar menunda kesenangan daging saat ini adalah satu kunci untuk keluar dari belenggu mentalitas kemiskinan dan masuk kedalam mentalitas kaya. Ketika kita tahu kita ingin marah, kita tunda marah kita dan ganti dengan maaf dan berkat. Ketika kita ingin berzinah kita ganti dengan kesabaran untuk menunggu waktu untuk sebuah hubungan sex yang kudus. Ketika kita ingin mundur dari pelayanan kita ganti dengan melayani dengan kerinduan 2 kali lipat.

Apakah kita masih terbelenggu dengan mentalitas miskin ?

Cheersss,

 

BG

Advertisements

About Gideon Sitorus

Love Live Learn Blog
This entry was posted in Bergaul dengan Tuhan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s