AYIN HEY

ayin hey

TUHAN Allahmu ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan. Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya, Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai, (Zefanya 3 : 17 TB)

Saya baru saja pulang dari perayaan tahun baru Ayin Hey yang diadakan di sebuah hotel di jakarta selatan. Penyelenggara acaranya sebuah gereja keluarga tempat seluruh keluarga saya berjemaat kecuali saya. Kedatangan saya sebenarnya lebih diwarnai dengan motivasi “tidak enak hati” karena undangan yang dialamatkan kepada saya secara pribadi kepada saya oleh gembala sidangnya.

Acara dimulai dengan makan nasi kebuli. Enak!! saya nambah, lalu lasagna, salad, dan pudding menjadi kontingen yang secara berurutan mengisi perut saya. Makanannya bukanlah hal yang ingin saya bagikan disini. Hampir sepanjang acara saya tidak bisa bernyanyi dan berkata-kata, bukan karena saya malas melainkan karena hadirat Tuhan begitu kuat yang membuat saya hanya bisa tersungkur.

Saya teringat akan kisah dimana Musa menyelubungi muka-nya ketika Allah berjumpa dengannya di peristiwa semak terbakar. Bagaimana reaksi seorang nabi Yesaya ketika pertama kali berjumpa dengan Tuhan, ia hanya bisa berkata “celakalah aku”. Bagaimana Paulus harus menjadi buta sesaat untuk bisa tetap hidup ketika Allah mendatanginya ketika ia di damsyik. Bagaimana Adam harus bersembunyi dari Tuhan ketika ia mendapati dirinya telanjang.

Hadirat Allah itu seumpama api yang menghanguskan apapun yang ada didepan-Nya. Lalu mengapa kita tidak binasa ketika Ia melawat kita ? sederhana sekali, semua karena AnugrahNya. Angka 5 berbicara mengenai Anugrah, angka 7 adalah angka kesempurnaan yang adalah Tuhan sendiri. Jadi, kalau Tuhan melawat atau hadir dihidup kita maka anugrah-Nya yang menjadi tudung keselamatan kita. Sepanjang acara saya hanya bisa berkata “Tuhan, Engkau terlalu kudus”.

Belajar untuk menyadari ketika dalam momen pujian atau penyembahan dan hadirat Tuhan turun itu adalah saat yang bersamaan dengan pencurahan anugrah-Nya. Untuk anugrah-Nya yang begitu besar, belajar untuk tidak menjadi penyembah-penyembah pasif yang melipat tangan dan menjadi penonton, itu sama sekali tidak menghargai anugrahNya yang besar.

Saya berdoa di tahun 5775 ini kita menyadari visitasi Tuhan disetiap aspek hidup kita selalu dimulai dari anugrah dan ditutup dengan anugrah. Belajar untuk menghargai anugrah-Nya. Jikalau Tuhan masih memampukan kita untuk menyembah itu semua adalah murni anugrah-Nya. Satu lagi, di akhir acara saya berterima kasih kepada si gembala yang mengundang saya.

Selamat Tahun Baru 5775.

Advertisements

About Gideon Sitorus

Love Live Learn Blog
This entry was posted in Bergaul dengan Tuhan and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s