Surat Untuk Lydia

letter

“Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” (1 Korintus 10 : 31 TB)

Saya tidak tahu bagaimana mengeja namanya dengan benar entah Lidya, Lydia, atau mungkin bahkan Lydya, maklum, perjumpaan kami sangatlah singkat.

Malam itu saya menghadiri suatu sesi kebaktian yang berbahasa inggris. Berbeda dengan kebaktian lainnya, jemaat yang hadirpun tidak bisa berbahasa Indonesia, mungkin bahasa mandarin masih bisa diterima, yang pasti tidak dengan bahasa Indonesia. Ruangan nya kecil dan sedikit padat, saya dan rombongan datang agak terlambat dan diberikan posisi duduk disebelah ujung kiri. Sementara hati saya berusaha menyesuaikan diri dengan atmosfir ibadah, mata saya menjelajah ke seluruh ruangan untuk menilik apa yang sedang berlangsung.

Mata saya berhenti pada satu sosok wanita yang sangat menarik, perawakannya gemuk, kulitnya putih,  tetapi ada yang aneh dengan sosoknya, dia tidak bisa diam dan sesekali berteriak untuk mengganggu konsentrasi orang tuanya yang sedang beribadah. Satu hal yang pasti semuanya itu dilakukannya tanpa sadar, persis seperti tingkah laku anak-anak yang mengalami entah down syndrom entah autisme.

Tatapan mata saya tidak bisa beralih bersamaan dengan suara Tuhan yang berbicara “Nanti kamu harus mendoakan dia”. Tatapan iba beralih menjadi keringat dingin, jantung berdebar lebih cepat, otak mulai menegosiasikan segala kemungkinan yang bisa terjadi, “bagaimana mungkin saya mendoakan. dia?”, bahasa inggris saya berada di level “butuh belas kasihan dan anugrah”, saya gak kenal dia, kapan mendoakannya ? Masak saya harus nyamperin orrang tuanya yang tidak saya kenal untuk medoakan dia, bagaimana jika dia tersinggung ?, bagaimana kalau dia tidak sembuh ?

Saya mulai mengabaikan dia, tetapi Tuhan terus berbicara untuk saya mau menyelesaikan “tugas” saya. Tiba-tiba, tanpa saya ketahui ada seseorang maju ke panggung dan membuka ruang bagi jemaat yang hadir dengan keluhan di tubuh untuk maju kedepan dan didoakan. Saya melihat Lidya maju dituntun orang tuanya kedepan, dan didoakan oleh pendeta yang berpengalaman dalam menyembuhkan berbagai penyakit, setelah didoakan menurut saya kondisinya sama saja dan Lidya pun kembali ke bangkunya dengan orang tuanya.

Melihat dia duduk dibangku, saya memutuskan untuk tidak memperdulikan semua pikiran daging saya dan berlari ke arah bangku dimana Lidya duduk, dan bertanya kepada Ibunya satu pertanyaan yang sederhana “Can, I pray for her ?”, Ibunya menjawab “Sure, please pray for her”, lalu saya bertanya lagi “What’s her name ?”, Ibunya menjawab “Lidya”. Detik itu saya berdoa untuk kesembuhannya tanpa ragu-ragu, dan ditengah doa, saya menyadari bahwa semua orang yang duduk disekitarnya menumpangkan tangan ke badan Lidya dan meng-amenkan semua yang saya katakan. Setelah itu saya memegang tangan kedua orang tuanya dan mendoakan mereka. Tugas saya selesai.

Menurut tidak ada perubahan secara kasat mata pada Lidya, entah itu saya yang kurang iman atau memang belom waktunya Tuhan, saya tidak perduli dengan jawabannya karena saya sangat bahagia, sebuah perasaan yang sulit untuk dijelaskan, karena bisa taat dan melompati jurang keragu-raguan saya, semuanya sekali lagi, hanya karena anugrah-Nya. Satu hal yang sangat sesali adalah, saya lupa berfoto dengan Lydia, I wish we’ll meet again whether here or in eternity.

Cheers,

BG

Advertisements

About Gideon Sitorus

Love Live Learn Blog
This entry was posted in Kesaksian Saya. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s