Pragmatisme Dalam Kekristenan

BRAZIL

Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula. (Wahyu 2 : 4 TB)

Piala dunia pada subuh nanti akan memasuki fase terakhir, suatu pertandingan yang akan mungkin disaksikan ratusan juta pasang mata di seluruh dunia. Menarik sekali bahwa Brazil bermain di kandang sendiri dan berhasil mencapai fase semifinal, hal ini menunjukan hanya ada 2 pertandingan yang memisahkan Brazil dari gelar piala dunia keenam, suatu presetasi yang menurut saya hampir tidak mungkin disamai oleh negara-negara lain. Namun, bukannya piala dunia yang didapat melainkan suatu kesedihan mendalam yang mungkin akan membawa luka abadi bagi pecinta sepakbola dan khusunya masyarakat Brazil. Bagaimana tidak ? pada 2 pertandingan terakhirnya mereka kemasukan 10 gol dan hanya mencetak 1 gol, di semifinal kalah 1-7 dari Jerman dan di perebutan tempat ke-3 mereka dihantam 3 gol tanpa balas oleh Belanda.

Sangat menyedihkan bukan ? menurut analisa saya seharusnya tidak, karena adalah hal yang wajar untuk kalah ataupun menang dalam satu pertandingan. Tetapi apa yang hilang dari Brazil ? Ada artikel menarik yang saya baca yang menyebutkan bahwa Brazil bukanlah Brazil yang memainkan bola karena ada ikatan batin antara mereka dengan bola sepaknya melainkan Brazil yang sudah diwarnai perputaran uang dari industri sepakbola yang begitu gegap gempita. Pele, Socrates, Garrincha, Ronaldo, Kaka, Tostao, dan masih banyak yang lainnya adalah kelompok orang yang bermain bola bukan untuk sekadar sebuah piala melainkan sebuah kesadaran bahwa hidup mereka ada di bola bundar kecil itu dan bukan ditempat lain, bahkan rumor menyebutkan bahwa Ronaldinho selalu membawa bola kemanapun dan dalam aktifitas apapun, termasuk ke tempat tidur dan ke toilet!.

Banyak kebaktian, pelayan Tuhan, konser musik rohani atau bahkan orang Kristen sendiri yang sama seperti Brazil saat ini. Saya menyebutnya Kekristenan pragmatis, suatu sikap dimana kita melayani Tuhan, beribadah kepada Tuhan bukan karena kita tahu jiwa kita, nyawa kita, panggilan kita, dan alasan hidup kita adalah Tuhan sendiri melainkan karena Kekristenan sudah menjadi suatu komoditas umum pada saat ini.

Saya terkadang sedih melihat kebaktian yang tidak ada ubahnya seperti pertunjukan sukarela dimana jemaat masuk kedalam ruang nyaman dan diberikan pertunjukan musik serta khotbah yang diharapkan membuat hidup lebih baik lagi, lalu membayar pertunjukan secara sukarela lewat persembahan. Pada saat pemain sepakbola melihat bola untuk pertama kali mungkin mereka seperti menemukan sebuah cinta, dan menurut saya sangat sedikit yang berpikir tentang uang, ketenaran, ataupun hidup glamour pada saat itu. Sama halnya ketika banyak orang kristen lahir baru mereka seperti menemukan sesuatu yang sangat berharga, tetapi seiring berjalannya waktu semuanya menjadi komoditi dimana harus ada kalkulasi cermat antara untung dan rugi untuk setia dalam ketaatan total kepada Tuhan.

Semua sudah ada polanya, tanpa ada ruang untuk Tuhan bermanisfestasi dalam hidup jemaat, anggota komsel, pelayan Tuhan. Seringkali, Tuhan diundang untuk duduk diam dalam belenggu yang kita namakan kesibukan. Kita terlalu sibuk untuk berbahasa roh pada saat doa, terlalu “Kristen” untuk mendeklarasikan Firman Tuhan selama “Penyembahan”. Tidak ada yang salah untuk mempersiapkan “Run Down” untuk hidup kita, tapi jangan pernah menuhankan “Run Down” pada area dimana kita ingin Tuhan menjadi Tuhan.

Hari ini mari beribadah bukan sekedar untuk memenuhi kewajiban, bukan sekadar karena ingin menang dalam kehidupan, untuk berkat yang lebih, atau bahkan untuk supaya masuk surga dan menikmati kenikmatan abadi bernama Surga. Mari jadi umat yang beribadah, yang menyembah, yang melayani karena kita tahu bahwa detak jantung kita, hembusan nafas kita, dan panggilan kita yang paling hakiki ada pada Tuhan itu sendiri. mengapa harus seperti itu? karena jika kita kehilangan Tuhan, kelak kita akan kehilangan piala kita ketika sudah begitu dekat, tetapi jika kita tidak pernah melepaskan Tuhan hanya masalah waktu piala itu akan jadi milik kita.

 

Cheers,

BG

Advertisements

About Gideon Sitorus

Love Live Learn Blog
This entry was posted in Bergaul dengan Tuhan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s