Dibentuk Sebagai Alat

Harvest

Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: “Mengapakah engkau membentuk aku demikian? ” (Roma 9 : 20 TB)

Saat itu saya sedang menyanyikan lagu dengan penggalan lirik sebagai berikut :

“Kulihat tuaian besar masuk dalam lumbung Tuhan…”

Lagu ini menceritakan betapa Tuhan sedang melawat, memulihkan, dan menyembuhkan Indonesia. Sejujurnya hati saya sedih waktu menyanyikan lagu ini, saya tidak sedang menangisi bangsa saya ataupun apa yang Tuhan sedang kerjakan di bangsa Indonesia. Saya sedih karena hidup saya sendiri.

Saya adalah orang yang sangat yakin bahwa tetap ada bagian yang harus kita kerjakan dan selesaikan dalam kehidupan kita di dunia karena firmanNya berkata “Tuaian banyak, pekerja sedikit”, saya sangat sedih karena seringkali Tuhan mau memakai hidup saya untuk menjadi alat penuai dari banyaknya tuaian yang sudah menguning dan harus segera dituai kalau tidak pastilah busuk dan menjadi kenikmatan bagi cacing-cacing dan larva-larva tanah.

Roh Kudus menyadarkan saya bahwa hidup saya adalah alat penuaian di tangan Allah sendiri, yang namanya alat penuai pastilah butuh proses penajaman demi penajaman. Misalkan, apa mungkin sebuah sabit tanpa harus diasah berkali-kali bisa menuai ribuan hektar sawah ?, apa mungkin 1 traktor dapat melakuan penuaian berhari-hari tanpa perlu perawatan yang sungguh-sungguh ?.

Saya sering merasa cepat berpuas diri, merasa pengajaran saya sudah cukup baik, merasa doa bahasa roh saya sudah banyak variasinya, memberikan persembahan dalam jumlah yang lumayan, saya sudah merintis komsel dan sebagainya. Tapi sama seperti sabit yang tidak bisa diasah cuma 1 kali melainkan harus berkali-kali, mungkin setiap hari sabit tersebut harus diasah untuk menjaga ketajamannya.

Proses diasah itu sampai kapanpun tidak akan pernah enak, ada bagian yang harus hilang dari sabit dan harus melakukan gerakan asahan rutin yang berulang-ulang dan penuh dengan kebosanan dan kesakitan dan sudah pasti hasilnya tidak langsung kelihatan karena  sepertinya bentuknya masih sama saja. Begitu juga dengan hidup saya, saya sejujurnya kadang-kadang frustasi dengan jam-jam doa yang Tuhan minta untuk saya naikan, bangun pagi untuk mencari wajah Tuhan dan kehendakNya untuk saya pribadi di hari itu. Semuanya terasa berat dan terasa sangat membosankan dan seringkali tampak sama saja tanpa ada perubahan signifikan yang kasat mata.

Tapi ketika lagu tadi dikumandangkan, saya diingatkan oleh Roh Kudus bahwa tujuan dari semuanya itu adalah agar supaya saya bisa dipakai Tuhan lebih tajam lagi, dan lebih banyak tuaian yang akan bisa masuk kelumbung Tuhan karena ketaatan saya dalam mengerjakan anugrahNya dalam kehidupan saya.

Hari ini apakah kamu cukup tajam untuk dipakai Tuhan untuk penuaian ? atau kita hanyalah alat tumpul yang membebani Tuhan diladangNya ?

Cheers,

 

BG

Advertisements

About Gideon Sitorus

Love Live Learn Blog
This entry was posted in Bergaul dengan Tuhan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s