Untung Saya Bukan Tuhan

Thank God

“Sesungguhnya, Aku telah memurnikan engkau, namun bukan seperti perak, tetapi Aku telah menguji engkau dalam dapur kesengsaraan.” (Yesaya 48 : 10 TB)

Sabtu sore itu saya harus menemani agent saya untuk melakukan prospek, rencana awal tempat pertemuan kami adalah di Central Park, entah mengapa tiba-tiba tempat pertemuan kami dipindah ke lokasi lain yang tempatnya tidak jauh dari Central Park tepatnya di kantin sebuah gereja. Kita ngobrol-ngobrol cukup lama sehingga kami harus “diusir” secara halus oleh penjaga kantin karena memang sudah waktu tutup bagi kantin tersebut. Singkat cerita, kami akhirnya ngobrol-ngobrol di bangku warung didepan gereja, selama kita saya berdiskusi dengan agent saya dan prospek, saya memperhatikan bahwa orang-orang mulai berdatangan ke gereja, dan ternyata memang akan diadakan kebaktian pada malam minggu itu.

Selesai saya melakukan aktifitas bisnis saya, Roh Kudus membisikan di hati saya bahwa saya harus ikut ibadah, seperti biasanya bisikan-Nya itu terasa lembut namun kuat. Saya pun melangkah masuk kedalam ruang ibadah. Ternyata ibadah anak-anak mahasiswa dan puji Tuhannya didalem ruangan saya bertemu dengan teman lama saya dan saya pun duduk didekat teman saya. Saya sangat menikmati worship dari kebaktian tersebut, dan tibalah waktu khotbah, lucunya yang naik ke mimbar bukanlah anak muda yang keren modis, ganteng, potongan rambut classic tapi (bukan bemaksud rasis) ngko-ngko yang gemuk pakai batik dan ngomongnya masih bercampur dengan logat daerah.

Walaupun sejujurnya saya sempat sedikit meremehkan, tapi kenyataan berbicara lain, pengkhotbah ini bukanlah pengkhotbah sembarangan, dia menceritakan poin-poin mengenai Joshua yang memberkati saya. Dia berkata, untuk Joshua bisa maju, orang yang bernama Musa harus mati dan dalam memimpin seringkali kita harus “mati”. Dia menceritakan bahwa sekitar 2 tahun lalu, Ia memberikan uang jajan sebesar 100.000 per bulan untuk anaknya yang duduk dibangku kelas 1 SMA. Ia juga memerintahkan anaknya yang masih “hijau” itu untuk magang ditempat relasi bisnisnya, dan untuk memperburuk keadaan ia memastikan bahwa relasi bisnisnya tidak menggaji anaknya. Hal itu ia lakukan bukan karena kondisi keuangan yang terbatas tetapi karena ia ingin mati bagi anaknya dan mengajarkan anaknya untuk tau bahwa modal dari kehidupan ini adalah lutut dan tangan yang berdoa kepada Tuhan.

Lucunya, ditengah khotbah si anak maju kedepan dan menceritakan beratnya untuk hidup dengan 100.000 per bulan ditengah pergaulan di zaman seperti ini, 3 bulan pertama terasa sangat berat karena semua ajakan temannya untuk nonton, pesta ulang tahun, makan bersama atau sekedar ngafe ditolak karena keterbatasan dana. Tetapi setelah 3 bulan, walaupun si anak tetap hanya mendapat 100.000 dari ayahnya, Tuhan buka begitu banyak pintu mujizat sehingga anak tersebut bisa mengalami kelimpahan. Satu hal yang mengena kepada saya ketika dalam keluguannya anak itu berkata “Bahkan kebutuhan saya yang tidak prioritas pun Tuhan sediakan.” Woww…

Begitu anaknya selesai bersaksi, si “ngko-ngko” itu pun berkata “Sesulit-sulitnya anak saya menghadapi keadaannya, lebih sulit untuk saya untuk bisa tetap tega mendisiplinkan anak saya. Saya punya banyak uang, saya setiap bulan keluar negri tetapi saya harus melihat anak saya menahan diri untuk berbagai hal dalam hidupnya, setiap kali saya melihat dia, rasanya hati saya seperti disayat dengan sembilu. Tetapi saya tahu, itu yang bikin anak saya bertumbuh dan mengalami Tuhan secara pribadi bukan hanya lewat saya.”

Hari ini apa masalah kita ? Percayalah Bapa kita tahu dan Dia mengijinkan kita untuk melewatinya. Namun, sesulit-sulitnya kita menghadapi masalah, lebih sulit lagi Tuhan untuk tetap seolah-olah tega terhadap kita karena Tuhan itu cinta banget sama kita dan Dia itu Bapa kita, Ia menahan diri-Nya ketika melihat Yesus di hancurkan di kayu salib, dan terkadang pun dalam masalah kita melihat Tuhan yang sepertinya hanya diam saja, percayalah Dia itu Bapa yang sempurna tapi Ia tahu bahwa didikan itu tidak hanya melulu soal cinta tetapi lewat berbagai cobaan, ujian, dan tantangan.

Sesulit-sulitnya hidup saya, saya belajar untuk berkata “Terima kasih Tuhan, untung saya bukan Tuhan.”

 

Cheers,

 

BG

 

Advertisements

About Gideon Sitorus

Love Live Learn Blog
This entry was posted in Bergaul dengan Tuhan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s