Misteri Pasangan Hidup

148hmj4

Lalu Ishak membawa Ribka ke dalam kemah Sara, ibunya, dan mengambil dia menjadi isterinya. Ishak mencintainya dan demikian ia dihiburkan setelah ibunya meninggal. (Kejadian 24 : 67 TB)

Menulis ini bukanlah hal yang mudah buat saya, karena saya berkali-kali gagal dalam membangun hubungan dengan lawan jenis sampai saya teringat akan sosok rasul Paulus yang banyak menulis hal mengenai pernikahan, seks dalam rumah tangga, sikap yang benar dalam rumah tangga, dan lain-lainnya sementara dia sendiri tidak menikah.

Menurut kacamata saya, dalam upaya menemukan pasangan hidup yang sejati banyak cara yang bisa dilakukan, saya bahkan mendengar cerita beberapa orang yang menemukan pasangannya lewat media sosial, dijodohkan oleh teman, dipilihkan oleh orang tua sejak masih bayi, atau bahkan mungkin seperti masyarakat di beberapa negara yang hanya bisa melihat mata pasangannya sampai kepada hari pernikahannya.

Pada dasarnya semuanya baik dan tidak ada salahnya mengenai semua itu. Namun, permasalahan seringkali muncul ketika setelah membangun hubungan sekian lama (yang tentunya banyak mengorbankan waktu, tenaga, uang, dsb), kita tiba pada kenyataan bahwa yang selama ini kita anggap “si dia” ternyata bukan, normal sekali untuk kita akan terjatuh dalam lubang kesedihan yang begitu dalam dan menunda begitu banyak hal yang seharusnya kita selesaikan dalam hidup kita. Banyak orang yang berkata “setidak-tidaknya kita sudah belajar untuk menjadi yang terbaik buat pasangan kita dan ternyata gagal”, pertanyaan saya adalah “Berapa pelajaran yang dibutuhkan sampai mengerti ? cukup dengan 1, 2, atau harus 10 pasangan” masalahnya ada banyak perasaaan yang harus dikorbankan.

Namun, disisi lain saya juga melihat banyak fakta bahwa tidak sedikit dari orang-orang di lingkungan saya yang harus kehilangan kegairahan, api, gelora dan cintanya kepada Tuhan semenjak menikah. Kita harus sadar bahwa tujuan kita hidup adalah memuliakan Tuhan bukanlah menikah, kalau ternyata menikah membuat kita melenceng dari tujuan semula kita lebih baik kita tidak menikah. Ketika raja Daud berdosa, dia meminta Roh Tuhan untuk tetap bersamanya karena dia mengerti bahwa hidup mau se-sempurna apapun bukanlah hidup kalau tidak ada Roh Tuhan.

Pertemuan antar Ishak dan Ribka, adalah kisah cinta yang sangat menarik untuk menjadi bahan pembelajaran buat saya secara pribadi. Mengapa ? karena sebenarnya keduanya tidak kosong dalam hidupnya, tidak ada satupun dari mereka yang sedang sibuk mencari-cari atau berusaha secara manusia untuk menemukan pasangannya. Mereka menjalankan tanggung jawab mereka masing-masing sampai dititik Abraham merasa sudah waktunya untuk Ishak menikah dan Betuel (ayah Ribka) merasa anaknya sudah bisa diberi kebebasan untuk menjadi istri seseorang.

Saya percaya Abraham adalah gambaran perjanjian lama akan Allah sendiri, ketika saatnya tiba Allah akan menyediakan Ribka untuk kita ataupun membuat Ishak datang kepada kita. Belajar akan waktu penyediaan Allah bukanlah hal yang mudah karena kita tetaplah manusia tetapi pelajaran ini adalah hal berharga yang baik karena tidak akan mengorbankan perasaan banyak orang.

Belajarlah untuk menanti, sampai kapan ? namanya juga menanti, ya kita tidak akan tahu sampai kapan :). Bukankan alkitab berkata “Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.” (Mazmur 73 : 26 TB)

Cheers,

 

BG

 

 

Advertisements

About Gideon Sitorus

Love Live Learn Blog
This entry was posted in Bergaul dengan Tuhan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s