Penjara Waktu

Mindfulness-and-Living-a-Busy-Life

Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.  (2 Korintus 5 : 10 TB)

Jumat itu matahari tidak malu-malu menumpahkan panasnya ke muka bumi, seolah ingin melawan hukum alam saya mengambil kemeja hitam dari lemari baju. Saya sadar betul bahwa memilih warna hitam ditengah sengatan matahari bukanlah suatu keputusan bijak, namun apa mau dikata saya sedang menuju ke rumah duka di pusat kota jakarta. Sebenarnya tidak ada yang berbeda dari kunjungan-kunjungan saya ke rumah duka yang lain pada waktu-waktu sebelumnya, namun yang berbeda adalah pada kunjungan kali ini adalah posisi ruang duka kali ini tepat bersebelahan dengan ruang penyimpanan peti-peti mayat yang belom terpakai dalam jumlah yang sangat banyak.

Ketika mata saya berhenti pada pemandangan berupa sejumlah peti mayat, ada satu perasaan bahwa sepertinya peti-peti kosong tersebut memanggil banyak orang untuk masuk kedalamnya, dan tiba-tiba saya teringat akan ayat diatas. Pada terjemahan versi amplified bible-nya ada bagian yang Roh Kudus tekankan pada saya ketika membacanya, terjemahan langsung ayatnya berbunyi sebagai berikut :

Sebab semua kita harus tampil dan dibukakan seperti aslinya kita dihadapan tahta penghakiman Kristus, supaya setiap kita dapat memperoleh [upah kita] sesuai dengan apa yang telah kita lakukan dalam hidup kita, baik ataupun jahat [dinilai dari tujuan dan motivasi kita, apa yang telah kita capai, disibukan dengan, dan apa yang kita berikan diri kita dan perhatian kita untuk kita capai] (2 Korintus 5 : 10 AMP)

Kata “disibukan dengan” begitu menggaung dengan kuat di hati saya. Dalam hidup ini kita semua sepertinya dipenjarakan oleh waktu, kita seolah-olah tidak bisa melawan waktu karena waktu akan terus menerus berjalan. Daftar “Pekerjaan yang harus diselesaikan saat ini” seringkali bertambah ketika kita ingin mulai untuk menyibukkan diri kita dengan Tuhan. Ketika mata kita terbuka dipagi hari, otak kita sudah menampilkan daftar kesibukan hari ini di layar pikiran kita, Tuhan cukuplah menjadi pribadi yang menyertai kita, selalu ada kata nanti atau besok untuk waktu bersama dengan Tuhan.

Kata “disibukan dengan” adalah kata-kata yang akan ditambahkan pada nama kita pada saat kita akan menghadap pengadilan terakhir. Pengadilan ini tidak memutuskan nasib dari daging kita melainkan jiwa dan roh kita, keputusannya bersifat abadi dan tidak ada masa pengurangan dari keputusannya, baik itu surga maupun neraka.

Saat itu malaikat akan membacakan buku kehidupan saya dan mungkin akan diakhiri dengan kata-kata :

John Binsar Gideon Sitorus disibukan dengan …………

Hari ini ayo jadi orang-orang yang disibukan dengan hubungan dengan Tuhan bukan dengan yang lain, apapun yang kita kerjakan karena dasarnya hubungan dengan Tuhan bukan dengan yang lain.

Selamat sibuk.

 

Cheers

BG

Advertisements

About Gideon Sitorus

Love Live Learn Blog
This entry was posted in Bergaul dengan Tuhan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s